Hari kedua di bulan Juni. Hari ini masih sama seperti hari kemarin, belum hujan. Dan saya, masih disini menunggu turunnya hujan. Seandainya hujan dijadwalkan oleh yang Kuasa, mungkin saya tak perlu menunggu seperti ini.
Hah... Menunggu betul-betul hal yang sungguh membosankan. Tetapi ketika saya mempunyai sebongkah harapan untuk menunggu, kenapa tidak menunggu?
Menunggu hujan turun itu bagaikan menanti sebuah kepastian.
Kepastian...
apakah saya perlu membawa payung setiap hari, kalau-kalau hari ini bumi di kunjungi oleh khalayak tetesan air dari langit.
Kepastian...
apakah saya tak perlu menatap langit yang cerah tanpa menghalangi teriknya sang mentari dengan telapak tangan yang kebas.
Atau kah, Kepastian...
Atau kah, Kepastian...
apakah saya harus menunggu kamu memilih mentari atau hujan?
Memilih mana yang betul-betul dibutuhkan, terkadang sulit. Menentukan pilihan disaat kamu tahu, mentari dan hujan adalah 2 hal yang berbeda, tetapi punya perannya masing-masing.
Karena orang yang tepat adalah orang yang tahu bagaimana memainkan perannya. Dia tahu menempatkan dirinya disituasi apapun dan dia tahu bagaimana harus mengorbankan kebahagiaannya demi kebahagiaan orang lain.
Mungkin definisi orang yang tepat adalah berkorban dan definisi berkorban adalah Cinta.
Hujan sangat mencintai bumi, karena itu dia berkorban hari ini untuk tidak turun. Karena dia ingin bumi menikmati kebahagiaan bersama mentari.
Sesimple itu...
Passo, 2 Juni 2015
#30harimenulishujan #Day2

No comments:
Post a Comment