Saturday, 8 July 2017

Yang Sulit Adalah Menentukan Pilihan

Yang sulit adalah menentukan pilihan, memang betul.

Awalnya kita mengira banyaknya pilihan akan membuat hasilnya akan jauh lebih baik sekaligus mudah, ternyata tidak. Seringkali banyaknya pilihan membuat kita hilang fokus, berkehendak memilih ini dan itu dengan membuang banyak waktu, menimbang baik dan buruk seakan hal itu mudah dilakukan.

Ternyata tidak begitu, melainkan yang terjadi adalah terlalu banyak pilihan maka bisa jadi kita tidak akan benar-benar memilih. Atau yang sering terjadi pula, kita takkan bisa memilih. Banyak pilihan dapat memusingkan logika, apalagi bila disangkut-pautkan dengan runyamnya perasaan. 

Berbeda dengan suatu keadaan bila kita sudah tak punya pilihan. Pada saat itulah, seluruh arah pandang kehidupan kita menuju suatu titik yang mau tak mau harus digapai, bila tidak maka akan gagal. Benar-benar tidak ada pilihan, bila selain itu maka kita akan terkalahkan.

Banyaknya pilihan, justru dapat melenakan. Tidak punya pilihan, mau tak mau kita harus berlari ke depan.

Friday, 12 May 2017

Yang Tertinggal Setelah Kepergian

Beberapa hari belakangan ini, di tempatku hampir setiap hari hujan deras. Di tempatmu bagaimana?
Hujan di sini hanya berlangsung sebentar saja, tetapi deras, dan membawa kenangan-kenangan yang sempat terlupakan. 
Sejak awal, aku paham bahwa cepat atau lambat, kita akan mengalami apa yang tengah terjadi hari ini. Sejak awal, aku paham bahwa seharusnya tidak membiarkan hati terlalu dalam. Tetapi siapa sangka? 
Ah, mungkin hanya karena terbiasa saja, awalnya. Lalu lama-lama ada yang mulai terasa berbeda dari sebelumnya. Kita pernah merasa saling menemukan tempat paling nyaman. Seiring waktu dan ketidakjelasan yang tidak bisa kita perjelas, ada yang mulai perlahan bergerak mundur, mungkin sejak lama, hanya aku saja yang baru sadar. Ada pula yang mulai merasa kehilangan, mungkin hanya aku saja yang merasakan, karena bagaimana perasaanmu yang sebenarnya, aku tidak tahu. 
Ternyata hatiku sudah sejak lama jatuh padamu, tetapi aku tidak menyadarinya. Beberapa kali berusaha menghindar karena aku tahu ketidakmungkinan itu, sialnya, hari ini aku merasa ada yang hilang. 
Kamu menyukai aku yang begitu dan begini, kamu tidak menyukai aku yang begitu dan begini, pun sebaliknya. Kita cukup berlapang dada menerima satu sama lain kala itu. Kala itu, ya… 
Aku mulai terbiasa mengikuti pola dalam hal-hal yang kamu sukai dan tidak, hingga akhirnya kini, ketika kamu tidak lagi di sini, aku masih tetap melakukan pola yang sama; Pola yang dulu tidak begitu kupikirkan, tetapi diam-diam mulai aku lakukan.
Yang tertinggal setelah kamu pergi adalah cerita dan pola-pola yang mungkin dengan tidak atau sengaja pernah kita lakukan untuk saling menenangkan.


Dan pada akhirnya, akan selalu ada yang lagi-lagi harus mengelus dada karena kecewa dengan perasaannya sendiri. Aku, misalnya.

Thursday, 20 April 2017

Memaafkanmu Adalah Proses Yang Panjang

Menjalani fakta bahwa kau meninggalkanku, demi memberi ruang di hatimu untuk yang lain, tentu saja aku hampir mati. Tidak mati secara raga, tentu saja. Namun mati secara naluri. Serupa enggan mendengar namamu lagi. Serupa enggan mengetahui kabarmu lagi. Serupa berharap, kau selamanya pergi. Mati.

Mengingat kembali segala janji yang kau ucapkan tentang kita di masa lalu, aku serupa menyalakan kembang api dalam hati. Ia meletup di awal dan hampir meledak di akhir. Ku tahan sekuat hati. Agar rasa benciku tidak sampai membuatku hilang kendali.

Kau...
Sungguh, sejujurnya aku sering bertanya sendiri dalam hati. Pantaskah seorang pengkhianat dimaafkan? Pantaskah seorang pembunuh kebahagiaan diterima maafnya? Pantaskah?

Waktu demi waktu berlalu. Bisu demi bisu. Hening demi hening. Air mata demi air mata. Banyak hal terjadi dalam hidupku. Banyak pembelajaran, banyak proses perbaikan kujalani. Kau tahu, memaafkanmu sungguh tidak mudah. Ia adalah proses yang menyakitkan. Ia adalah langkah penuh keberanian. Ia adalah jalan yang sangat panjang.

Namun, demi apapun juga, memaafkanmu tentu lebih mudah dari memaafkan diriku sendiri. Atas kebodohan yang dilakukannya, dengan percaya pada orang yang salah.

Selamat bertambah usia, Papa dari malaikat kecilku.
21 April 2017

Saturday, 18 February 2017

Mengurai Isi Kepala

1. Kenapa aku selalu dianggap sebagai bukan orang yang baik-baik ketika aku punya keinginan, atau pendapat yang berbeda dari kebanyakan orang, masyarakat, dll?

2. Seperti apa rasanya meraih sukses menurut garis yang dijabarkan masyarakat, yang mereka jadikan ukuran untuk menilai seseorang.

3. Masih bermimpi untuk menemukan kedamaian dan kejelasan hidup. Yang terpenting adalah kesediaan untuk melakukan apapun yang diperlukan, dan keterbukaan untuk berkembang.

4. Melepas ekspetasi-ekspetasi apapun yang membebani, mengevaluasi setiap persahabatan yang pernah ada untuk melihat siapa teman sejati, siapa musuh pembawa belati. Mendengarkan dengan jujur suara-suara dalam benak yang memutar pesan-pesan apapun yang kita ingat.

5. Tidak ada suatu kebetulan. Aku sendiri yang membuatnya terjadi, memanggilnya mendekat dan kejadian itu datang.

6. Kenapa ya orang-orang selalu minta dihormati, tanpa mau menghormati kembali?

7. Kehidupan mencerminkan setiap pikiranmu tentangnya Manusia meyakini dan percaya bahwa penderitaan dan kesulitan adalah bagian normal dalam hidup. Dan itulah realitas sehari-hari yang diturun-temurunkan per generasi. Sedih.

8. Untuk hidup bahagia, kita harus melepaskan keyakinan-keyakinan negatif itu. Generasi tua dulu tidak bersedia melakukannya. Jangan putus asa.

9. Apapun yang kamu peroleh, sama dengan apa yang kamu inginkan. Tanpa disadari, aku sering mengucapkan sesuatu yang bahkan semenit kemudian aku lupa sudah mengucap apa. Itu dia. Itu bergerak naik menuju-Nya. Jadi ketika apa yang aku peroleh ini ada, aku tidak sadar bahwa ternyata memang ini yang pernah aku inginkan.

10. Aku tidak boleh percaya tentang ketidakberdayaan dalam menghadapi hidup. Karena apa yang aku percayai, itulah yang aku alami.

11. Manusia selalu merasa "tidak cukup". Ilusi ketidakcukupan ini adalah ilusi terbesar umat manusia. Kalau kita merasa apa yang kita butuhkan untuk hidup (apalagi untuk sekedar merasa bahagia) tidak tersedia dalam jumlah yang "cukup" kamu akan berjuang mati-matian untuk mendapatkan itu sebanyak mungkin. Semakin lama semua menjadi gila. Sebab sebenarnya semua tersedia "cukup" untuk semua orang. Kita harus percaya itu. Setelah usaha maksimal, tanpa perlu mengorbankan diri sendiri.

Keluar juga debu-debu di kepala ini.
Random sekali. Sapu bersih, mulai hidup lagi. Sedang diusahakan.


Ambon,  19 Februari 2017





Quote of the day: "Every accomplishment starts with the decision to try."

SEPI (HAK)

Terjerat hingga tak mampu lepas.
Terperangkap hingga kebas rasa-rasa.
Terkurung hingga sulit menjauh.
Terjebak hingga tak lagi bisa untuk sekedar berbalik.

Jika harus mati terjerat bosan.
Aku tak akan pernah mengeluh, sebab kematianku berasal dari kejenuhan untuk menunggumu.

Lalu kemudian sadar bahwa jatuh terlalu dalam akan membawaku pada penantian yang tak akan usai-bila segalanya hanya SEPI(HAK).





Quote of the day: "Never give up on something you really want. It's difficult to wait, but it's more difficult to regret."

Kamu Yang Tidak

Aku rasa, kita tidak saling jatuh cinta.

Kita, hanya dua orang yang tak sengaja dipertemukan dalam satu keadaan, lalu kebetulan bahagia berkat kehadiran masing-masing. Tapi, tidak untuk lebih.

Kita, hanya dua orang yang saling membutuhkan untuk membunuh kesepian di sisi kita, lalu merasa nyaman karena memiliki seseorang untuk diajak berbagi. Tapi, itu sudah cukup.

Aku, tidak memerlukan lagi jawaban atas pertanyaan “kita ini apa?”. Kamu, juga mungkin tidak pernah berniat menjanjikan “kita”. Aku, kamu, tahu itu.

Aku, mungkin sudah terlanjur jatuh sebelum kamu mencegahku. Kamu, mungkin pernah sekali saja kagum padaku. Tapi, perihal perasaan kita, biarlah kita mengetahuinya dengan cara yang paling indah.

Aku rasa, kita memang tidak saling jatuh cinta. Atau mungkin, aku saja, kamu yang tidak.