Sunday, 26 July 2015

Pura-Pura

Hujan lagi-lagi singgah di jendela kamar. Setiap kali air mata bercucuran, saya tahu akan selalu turun hujan setelahnya. Entah kebetulan atau memang hujan sungguh tahu apa yang sedang saya sedihkan.

Mungkin seminggu ini saya memainkan peran dengan baik. Berfungsi normal seperti sebelum kehilangan. Tapi saya baik-baik saja. Saya rasa, saya baik-baik saja... atau lebih tepatnya berpura-pura bersikap baik-baik saja. Saya harus berpura-pura, karena saya sadar sungguh bahwa tak ada orang di dunia ini yang 'baik-baik saja' ketika kehilangan orang yang dia sayang.

Adakah yang menyadari kepura-puraan ini? Saya rasa tidak. Semua kepura-puraan ini adalah bentuk kepribadian yang selalu saya tunjukkan. Dan hanya itu yang dapat saya tontonkan pada mereka.

Adakah yang tahu bahwa senyum ini hanya rekayasa?
Keceriaan ini hanya fatamorgana. Memuaskan mata, tetapi tak benar-benar nyata adanya.

Adakah yang tahu bahwa tawa itu hanya tipuan?
Tawa adalah bentuk keceriaan. Tapi apakah tawa itu karena bahagia, atau hanya sekedar pemanis keadaan?

Adakah yang tahu saya sedang berusaha mematikan seluruh indera di tubuh saya?
Berusaha mati-matian bahkan hampir mati, hanya untuk memuaskan mata kalian. Hanya untuk berhenti merasakan sakit yang paling dalam.

Adakah yang tahu bahwa saya sedang berpura-pura?
Tak ada yang tahu. Bahkan saya-pun sudah lupa kalau saya sedang berpura-pura "baik-baik saja".


Ambon, 26 Juli 2015

Friday, 24 July 2015

Dihapus?

Betapa lucunya, berada di satu tempat yang sama tetapi tidak bertemu satu sama lain...

Benci? Apakah mampu?
Semakin benci semakin cinta.

Dihapus? Sepertinya perlu.
Tidak layak di simpan di dalam memori.

Saya rasa tidak terlalu berharga untuk di kenang.
Karena kalau memang berharga, rasa sakit ini tidak akan pernah hadir.

1st Tattoo Exhibition
Gedung Serbaguna Xaverius, 24 Juli 2015

Tuesday, 21 July 2015

Perempuan Tangguh

Aku berjuang agar menjadi perempuan tangguh.
Yang ketika dikecewakan sedihnya tidak terlalu lama berlarut.
Yang ketika terluka maka percaya Tuhan telah menyiapkan obatnya.
Yang ketika putus asa tidak butuh waktu lama untuk bangkit.

Jatuh itu pasti.
Namun, bangkit adalah sebuah pilihan.
Harapan itu selalu ada, jemputlah.

Sunday, 19 July 2015

Aku bertanya, apa itu cinta?

Aku bertanya, apa itu cinta?
Apakah aku sendiri sudah tidak bisa membedakan antara cinta dan nafsu?
Aku ragu dan aku tak tahu sebenarnya apa yang aku cari.
Di tengah kemelut pemikiran yang membingungkan ini, kau datang.
Memberikan jawaban atas pertanyaanku.

Ternyata bukan.
Aku menyukai caramu mendatangiku.
Kau tahu, aku terkesan kepada penghormatanmu kepadamu.
Ah, ternyata aku hanya butuh di datangi terlebih dahulu dengan kebaikan.
Cinta itu akan tumbuh berkembang kemudian.

Terima kasih telah datang...

Saturday, 18 July 2015

Layangan Putus

Aku tidak pernah setia selain kepada dua hal, kamu dan hujan. Aku masih merasa baru saja kamu mencium keningku, sejam yang lalu sebelum matahari terbenam. Aku semakin mencintaimu setelah kepergianku. Aku tidak bisa lupa bagaimana kamu menemaniku setiap malam.

Dan kamu kemudian datang, menjadi kendali yang erat ketika aku mengarungi hidup. Kamu pernah berkata ingin membahagiakanku. Aku tahu kamu berbohong, tapi aku suka kamu bohongi.

Aku bersedih hari ini. Sore tadi ada seorang anak yang berlari mengganggu waktuku menunggumu. Ia mengejar layangan. Kamu ingat? Dulu kamu pernah mengejarku yang seperti layangan putus.

Aku yang tidak tahu lagi ke mana harus bersandar di tengah kepergianku dari orang tuaku. Merekayasa diri menjadi yatim piatu.

Namun lagi, aku menjadi layangan putus. Dan aku enggan menjadi milik siapa pun saat ini. Aku akan sabar menanti mati. Doaku di tengah hujan ini untukmu, semoga kita lekas bertemu. Aku bahagia, kau menginjinkanku mencintaimu...

Tertanda...
Perempuanmu

Membahayakan Jika Terlalu Baik

Kamu terlalu baik kepada banyak lawan jenismu, kepada perempuan lain. Seperti aku, kau membuatku terlalu nyaman di dekatmu dan membuatku merasa aman untuk membuka cerita kepadamu.

Kamu menumbuhkan apa yang tidak aku tanam. Perasaan aman dan nyaman itu lebih berbahaya dari perasaan cinta.

Kau sudah merusak masa depan dirimu dan banyak perempuan. Termasuk aku. Kemudian aku bisa saja memiliki perasaan masa lalu yang tumbuh ketika kau sudah bersanding dengannya.

Aku katakan sekali lagi, jangan terlalu baik. Sikapmu itu seperti bom waktu, tinggal menunggu kapan meledaknya. Kau tidak perlu dekat kepadaku jika sekedar ingin menjadi laki-laki yang baik, bukankah demikian?

Friday, 17 July 2015

Mendoakan

Aku kepadamu bukanlah seorang pencinta kepada kekasih. Aku adalah seorang perempuan yang sengaja benar oleh Tuhan dipertemukan denganmu di planet ini.

Lalu aku tak pernah alpa berdoa untuk keselamatanmu. Khalayak manusia pada umumnya akan memvonis itu cinta, aku tidak bilang begitu. Bagiku ini seperti sebuah kesempatan dalam hidup untuk merasakan bagaimana tulusnya berdoa untuk orang lain. Padahal aku bukanlah siapa-siapa bagi orang lain itu.

Aku mendoakan keselamatanmu hingga lupa mendoakan keselamatanku sendiri.

Aku kepadamu adalah seseorang yang bukan siapa-siapa. Jika aku peduli kepadamu, itu semata karena aku tidak tahu tentang bagaimana cara mengatasi perasaan.

Setidaknya aku mampu menahannya dengan cukup mendoakan. Aku menahannya untuk tidak lebih dari itu.

Thursday, 16 July 2015

Aku Dibalik Hujan

Hai hujan...
Setelah hampir 2 minggu aku di temani sang mentari, akhirnya kamu datang juga menyentuh pipiku.

Sudah 3 hari kamu hadir, menemaniku di saat aku terkatung-katung karena membutuhkan pelukanmu. Sentuhan kecilmu pada kulitku menemani perjalananku beberapa terakhir ini.

Kamu terus turun dan menyadarkanku akan 1 hal. Yang paling menyakitkan adalah ketika aku harus pergi meninggalkan jejak sepatu penuh becek di teras rumahku.

Orangtuaku akan marah besar karena becek yang aku tinggalkan. Namun, apa daya hari sudah hujan dan aku membutuhkan hujan untukku sendiri.

Memeluknya dalam diam. Menangisinya di balik tetesan hujan.
Kenyamanan dan rasa aman sudah terganti dengan kehampaan.
Kepuasan sudah tersampaikan.

Ah, aku hanya membutuhkan hujan.
Hanya hujan yang mengerti arti ketulusan dari setiap tetesan.


Ambon, 16 Juli 2015

Sunday, 12 July 2015

T M B

Ternyata memang benar,
yang bertahan sejenak, akhirnya tahu yang benar-benar peduli atau tidak di saat senang atau-pun susah.

Ternyata memang benar,
yang terlalu di inginkan memang yang tidak pernah bisa diharapkan.

Ternyata memang benar,
bahwa yang paling berusahalah yang paling terluka.

Ternyata memang benar,
mencintai seseorang atau sesuatu hanya menunda kesedihan.

Dan ternyata memang benar,
aku hanya "Perempuan Murahanmu".


Ambon, 11 Juli 2015

Thursday, 9 July 2015

unexpected




Manusia pada hakekatnya tak pernah bisa menerka kapan hujan akan singgah di bumi, kecuali kita melihat sebongkah awan hitam bergerak mendekati tempat kita berpijak. Tak jauh berbeda dengan jatuh cinta, hanya saja jatuh cinta tak bisa di terka kapan dan ditentukan kepada siapa cinta itu akan singgah. Lebih tepatnya, tak dapat di prediksi kapan cinta akan mengunjungi hati.

Tetapi sekarang, saya sudah mengambil keputusan untuk tidak kembali terlibat dengan dinamika jatuh cinta. Saya sudah diterpa lelah dan jenuh. Dan semakin kesininya, saya lebih beranggapan bahwa saya tidak membutuhkan sosok seorang adam untuk membuat saya merasa di cintai ataupun merasa istimewa. Pada dasarnya saya di cintai oleh keluarga, orang-orang terdekat, maupun sahabat-sahabat saya. Begitupun saya merasa istimewa dengan diri saya sejauh ini. Kesendirian saya hari-hari terakhir, mengijinkan saya untuk terus berkarya dengan kehidupan muda saya.

Saat ini, saya sudah menyelesaikan apa yang memang pada umumnya di inginkan oleh anak muda. Saya sudah pernah merasakan bahagianya di cintai oleh lelaki, tersakiti, dan sekawanan menye-menye pendukung memori jatuh cinta itu. Pada akhirnya, saya mengambil keputusan untuk berhenti mencari sesuatu yang bukan menjadi prioritas di dalam hidup saya. Itu bukan pencapaian paling utama dalam hidup saya. Karena dongeng saya sudah berakhir sejak detik itu. Dan menurut saya, itulah dongeng modern jaman sekarang tak akan pernah mengenal... happy ending.

Saya belajar untuk tidak menggantungkan hidup saya pada siapapun. Saya mencintai diri saya sendiri dengan tidak berharap di cintai oleh orang lain. Pertanyaannya adalah, bagaimana orang lain dapat mencintai saya, jikalau saya tidak terlebih dahulu mencintai diri saya sendiri? Saya rasa, jawabannya cukup jelas terngiang di telinga saat saya menyebutkan pertanyaan itu. Karena yang tak dapat di prediksi-lah yang mengubah hidup kita selamanya.


Ambon, 9 Juli 2015

Wednesday, 8 July 2015

Busur Patah

Apa yang kau lakukan saat kau terjebak, karena seseorang yang kau cintai menolak kehadiranmu?

Aku tak dapat berkompromi dengan rasa sakit hati. Dan, kau hanya mencoba memperbaiki luka lamaku.

Di kemudian, ku temukan bagian-bagian jiwaku saat bersamamu. Tetapi kau merindukan dia, kau menginginkan dia.

Kau bagaikan duri di dalam dagingku yang tak dapat ku keluarkan. Kau membuatku berhenti bernafas ketika kau disisi.

Sekarang kau mencoba meyakinkanku dengan segala cara. Kau meyakinkanku dia bukan siapa-siapa. Padahal kau tahu semua itu hanya kebohongan.

Dan kau mencoba membuatku bahagia. Kau tak menyadarinya, tetapi kau adalah bagian dari diriku yang hilang.

Apa yang kau lakukan ketika cintamu singgah di dua hati?

Kau merasa terpenuhi tetapi batinmu tersiksa. Kau merasakan cinta, hanya saja tak dapat kau rangkul keduanya. Dan, saat itu ku tersadar ku telah menemukan orang yang tepat di saat yang salah.

Akhirnya, kau terduduk letih. Ingin menjadi yang terutama dan di utamakan oleh ku. Memberikanku semua waktumu. Kau menjadi pahlawanku.

Jika ku biarkan kau pergi, itu karena cintamu masih tinggal di dalam dirimu. Saat kau mencintaiku, terasa bagaikan busur patah tertancap di jantungku.


Ambon, 8 Juli 2015

aku tak pernah ingin pergi

ku lalui kekosongan malam seorang diri.
terlindung dari cermin yang menatap terbalik.

ku lihat lautan lepas di matamu,
saat kau terbit di ufuk yang terlihat ganjil,
dan aku menyukai keganjilanmu

bagaikan kepenuhan hitam dan biru
dari malam yang ku lalui bersamamu

aku bertransformasi menjadi sebongkah pecahan kaca
dan kau membuatku menunjukkan sisi tergelapku

setiap bait yang ku utarakan
bermakna kejujuran hati
dapatkah ku menggapainya kembali?

ku rindu...
ku mengharapkan...

dapatkah terealisasikan?

ku ingin tetap tinggal
berhenti bernafas sejenak
tak ingin terbebas darimu

ku tak ingin pergi
aku hanya sadar kau tak menginginkanku, lagi...
Ku sungguh tak mengerti

Ku tak ingin pergi
tetapi aku ingin kau tahu
aku hanya ingin menikmati hidupku
di dalam jiwamu...


Ambon, 8 Juli 2015

Tuesday, 7 July 2015

#savemangrove

Hutan bakau atau disebut juga hutan mangrove adalah hutan yang tumbuh di atas rawa-rawa berair payau yang terletak pada garis pantai dan dipengaruhi oleh pasang-surut air laut. Hutan ini tumbuh khususnya di tempat-tempat di mana terjadi pelumpuran dan akumulasi bahan organik. Baik di teluk-teluk yang terlindung dari gempuran ombak, maupun di sekitar muara sungai di mana air melambat dan mengendapkan lumpur yang dibawanya dari hulu.

Ekosistem hutan bakau bersifat khas, baik karena adanya pelumpuran yang mengakibatkan kurangnya aerasi tanah; salinitas tanahnya yang tinggi; serta mengalami daur penggenangan oleh pasang-surut air laut. Hanya sedikit jenis tumbuhan yang bertahan hidup di tempat semacam ini, dan jenis-jenis ini kebanyakan bersifat khas hutan bakau karena telah melewati proses adaptasi dan evolusi.

Tumbuh dan berkembangnya suatu hutan dikenal dengan istilah suksesi hutan (forest succession atau sere). Hutan bakau merupakan suatu contoh suksesi hutan di lahan basah (disebut hydrosere). Dengan adanya proses suksesi ini, perlu diketahui bahwa zonasi hutan bakau pada uraian di atas tidaklah kekal, melainkan secara perlahan-lahan bergeser.

Suksesi dimulai dengan terbentuknya suatu paparan lumpur (mudflat) yang dapat berfungsi sebagai substrat hutan bakau. Hingga pada suatu saat substrat baru ini diinvasi oleh propagul-propagul vegetasi mangrove, dan mulailah terbentuk vegetasi pionir hutan bakau.

Tumbuhnya hutan bakau di suatu tempat bersifat menangkap lumpur. Tanah halus yang dihanyutkan aliran sungai, pasir yang terbawa arus laut, segala macam sampah dan hancuran vegetasi, akan diendapkan di antara perakaran vegetasi mangrove. Dengan demikian lumpur lambat laun akan terakumulasi semakin banyak dan semakin cepat. Hutan bakau pun semakin meluas.

Pada saatnya bagian dalam hutan bakau akan mulai mengering dan menjadi tidak cocok lagi bagi pertumbuhan jenis-jenis pionir seperti Avicennia alba dan Rhizophora mucronata. Ke bagian ini masuk jenis-jenis baru seperti Bruguiera spp. Maka terbentuklah zona yang baru di bagian belakang.
Demikian perubahan terus terjadi, yang memakan waktu berpuluh hingga beratus tahun. Sementara zona pionir terus maju dan meluaskan hutan bakau, zona-zona berikutnya pun bermunculan di bagian pedalaman yang mengering.




Uraian di atas adalah penyederhanaan, dari keadaan alam yang sesungguhnya jauh lebih rumit. Karena tidak selalu hutan bakau terus bertambah luas, bahkan mungkin dapat habis karena faktor-faktor alam seperti abrasi. Demikian pula munculnya zona-zona tak selalu dapat diperkirakan.

Di wilayah-wilayah yang sesuai, hutan mangrove ini dapat tumbuh meluas mencapai ketebalan 4 km atau lebih; meskipun pada umumnya kurang dari itu.

dari sumber ;BOGOR, KOMPAS.com — Hasil penelitian terbaru menunjukkan bahwa mangrove memberi sumbangan sangat potensial untuk mengurangi emisi karbon dibanding hutan hujan tropis. Masalahnya, mangrove terus mengalami kerusakan dengan cepat di sepanjang garis pantai, sejalan dengan persoalan emisi gas rumah kaca.

Para ahli dari Center for International Forestry Research (Cifor) dan USDA Forest Service menekankan perlunya hutan mangrove dilindungi sebagai bagian dari upaya global dalam melawan perubahan iklim.

"Kerusakan mangrove saat ini sudah pada tingkat yang menghawatirkan. Ini harus dihentikan. Penelitan kami menunjukkan bahwa hutan mangrove mempunyai peranan kunci dalam strategi mitigasi perubahan iklim," kata Daniel Murdiyarso, peneliti senior dari Cifor.

Daniel mengemukakan, pada 15 -20 tahun lalu, luas hutan mangrove Indonesia masih sekitar 8 juta hektar. Saat ini diperkirakan tinggal 2,5 juta hektar.

Cifor mengungkapkan, sebuah studi yang dipublikasikan pada 3 April 2011 dalam Nature GeoScience, para ahli mengukur cadangan karbon dalam hutan mangrove berdasarkan atau luas areal wilayah Indo-Pasifik. Tidak ada studi selama ini yang mengintegrasikan pentingnya mengukur total cadangan karbon mangrove berdasarkan geografi atau luas wilayah hutan mangrove.

Dari hasil-hasil tersebut, para ahli mengestimasi bahwa tingkat pembusukan dan penguraian di hutan mangrove lebih cepat daripada hutan di daratan. Sebagian besar karbon disimpan di bawah hutan mangrove, yang dapat dilihat, yakni antara tanah dan air.

Mangrove hidup sepanjang pantai dari sebagian besar laut-laut utama di 188 negara. Sebanyak 30 sampai 50 persen berkurangnya mangrove sepanjang setengah abad lalu telah menimbulkan ketakutan. Sebab, bisa jadi mangrove akan punah seluruhnya dalam kurun waktu kurang dari 100 tahun.

Kelanjungan mangrove juga terancam oleh tekanan pertumbuhan kota dan pembangunan industri, sebagaimana ancaman dari pertumbuhan tambak atau fish farm yang tidak terkendali.

"Saat ini belum ada kesadaran akan bahaya kehilangan mangrove bagi kelangsungan kehidupan umat manusia. Sehingga, setiap pemerintah harus ditekan agar menyadari pentingnya dan membuat kebijakan yang dapat melindungi hutan mangrove," kata Daniel.

maka dari itu saya sebagai Putri Pariwisata Maluku 2013, ingin ikut serta mengapresiasikan bahwa pentingnya kelestarian mangrove dilingkungan perairan Maluku. Dan selanjutnya saya mengajak teman-teman sekalian untuk sedikit memperhatikan lingkungan kita tentang Hutan Mangrove...

Tanpa Dirimu

Caramu yang selalu membuatku melihatmu
Dengan cara sederhana yang kamu ucapkan
Banyak cara disekitarmu
Dan tetesan air mata tak tertahankan

Caramu yang selalu membuatku tak pernah pergi
Dengan cara yang singkat tetapi nyata
Karena kamu punya keyakinan dan empati
Dan hanya itu yang aku butuhkan

Dan sekarang kita tergeletak
Tak ada satu hal tersisa untuk di ucapkan
Dan aku tak dapat terbebas
Terlepas dari semua ini

Karena aku tak dapat bernafas tanpamu
Karena aku tak dapat bernafas tanpa dirimu
Tanpamu...
Tanpa dirimu...

Dapatkah aku bertahan seperti ini?
Tanpa dirimu aku hampa
Dan aku melihat semuanya melalui kenangan
Hanya untuk melihatmu... lagi...


Ambon, 7 Juli 2015