Wednesday, 27 July 2016

Tentang Perjuangan

Dalam kiniku, ada juang yang tak main-main untuk didahulukan. Mendapat tempat utama pada episode bernama kita. Aku dan kamu, yang belum bisa kusebut namamu. Bersahut doa, berpadu usaha, itu kita. Yang kutanamkan dalam-dalam setiap pesan ayahku untuk patuh padamu. Yang kukencangkan angan-angan untuk membersamaimu bukan hanya di dunia, juga setelahnya. Berjuang, tentang kerja sama bukan tentang siapa yang terdepan dalam doa.

Bila dulu ada banyak doa yang kuhaturkan untuknya. Ada tangis yang tak berkesudahan ketika dia tak lagi menoleh. Ada kecewa yang menumpuk bahkan tak mampu dihitung. Bahkan ada sedih yang tak pernah berujung. Saat ini semuanya sudah tiada. Hanya pelajaran yang tersisa. Tentang pengharapan yang tak boleh berlebihan. Tentang rindu yang seharusnya terus menerus. Tentang dia yang tak boleh lebih banyak komposisinya daripada Dia

Pada akhirnya hanya pasrah yang harus dirumuskan. Terkadang hina menjadi sebab kenapa juang tak lagi berharga. Terkadang nafsu amarah berkuasa atas diri kita. Lupa bahwa pelajaranNya bukan hanya sekedar kebahagiaan, tetapi juga pengharapan-pengharapan dari luka yang sempat ada. Lalu kemana saja kaki melangkah? Jika ternyata kecewa tak perlu begitu penuh daya atas kita. Mencukupkan paham bahwa berjuang bukanlah sepihak, tetapi keduanya. Bukan siapa yang menang atau kalah, siapa yang dahulu merindu. Juang bukan itu. Ada cerita yang perlu dikalkulasi untuk menunaikan segala derita untuk menyambut asa, di depan sana.

Kadang, untuk mengerti butuh banyak sekali ketidaktahuan. Untuk bangkit butuh terjatuh bukan hanya sekali. Untuk jatuh cinta butuh sakit hati yang bertubi-tubi. Pemahaman adanya selalu di akhir. Lalu apa yang berada di awal? Jika saja perjuangan memang sebuah awalan. Lantas mengapa hingga akhir kerap selalu ada perjuangan yang bahkan tak bertepi? Mungkin benar kata mereka bahwa hidup selalu butuh perjuangan. Perlu ada yang selalu dilalui dan dilihat dalam perjalanan. Entah untuk bekal sebagai persediaan atau mungkin selama perjalanan.

Bahwa sejatinya hidup adalah perjuangan tanpa akhir. Dengan segala daya menyatukan paham bahwa yang bertepi hanyalah usia, sedangkan juang akan menemukan keabadiannya. Tidak untuk dikenang atau hanya dijadikan asupan cadangan. Ini kehidupan, bukan guyonan. Selain dari otak yang selalu butuh nutrisi, ada juang yang butuh service berkala. IjinNya adalah kunci, bahwa pemahaman hidup dari sebuah juang mengingatkan kita bahwa manusia hanyalah hamba, bukan pemilik jagat raya.

Dalam hidup ada banyak hal yang dibutuhkan, entah menurutmu sulit maupun mudah untuk dilakukan. Dan perjuangan adalah salah satunya–hal yang dibutuhkan hingga napas berhenti berhembus. Untuk segala kecewa yang pernah ada. Untuk segala tangis yamg kerap berderai. Untuk segenap kecewa yang sering menyisakan luka dan sedih. Perjuangan belum dan tak akan berakhir begitu saja. Esok masih ada cerita yang harus terus diukir. Masih ada langkah yang harus dijejak. Pasrahkan saja segala upaya dan usaha dalam perjuanganmu padaNya. Kelak ada bahagia yang menjemputmu dalam kedamaian.

Untuk secercah harap di depan, jangan ragu untuk memberi uang muka. Jika mampu, lunasi saja sebelumnya. Bahwa juang yang kau hambur bukan jatuh di tangan rentenir. Jatuhnya ada pelukan semesta yang mengaminkan segala doamu dalam bentuk mahakarya Yang Maha Esa. Mungkin kau baru mencecap sebagiannya, padahal kau perlu melalap habis setiap episode yang kudu kau lakoni. Jangan menyerah, jangan kehabisan tenaga, aku siapkan cuma-cuma minuman penambah stamina untukmu jika sedang dalam lelah. Aku siapkan waktuku sebagai garansi bahwa kau mampu dan pantas untuk menerima cerita yang lebih  baik dari sebelumnya. Kamu, jangan ragu untuk bertanya tentang apapun itu, karena kita beda usia. Jangan biarkan dirimu hilang arah layaknya kang ojek tanpa gps karena juangmu tak kunjung berbalas. Tunggu dan nikmatilah kemerdekaanmu, karena kematangan juga butuh perjuangan.

Untuk kamu, kamu, kamu dan kamu yang hingga saat ini masih bisa untuk bernafas, selamat berjuang dalam perjuangan yang kamu tentukan sendiri kemana arah untuk segera mencapai tujuan! Semoga dimudahkan dalam segala langkah kebaikan :)

Tuesday, 26 July 2016

48Things

48 hal yang harus ku ucapkan terima kasih padamu...

  1. Terima kasih karena bersedia mengenalku, tanpa momen itu cerita kita tidak akan pernah ada.
  2. Terima kasih karena membuatku mampu melupakan masa laluku beserta luka-lukanya.
  3. Terima kasih karena pernah, sedang, atau masih mencintaiku.
  4. Terima kasih karena pernah mau belajar menaklukkan kerumitanku.
  5. Terima kasih karena pernah meluangkan waktumu untuk menemaniku.
  6. Terima kasih karena pernah mengakui bahwa kamu merindukanku.
  7. Terima kasih karena pernah ada di suatu masa untuk tujuan yang baik.
  8. Terima kasih karena pernah mau belajar memaklumi ketidaksempurnaanku.
  9. Terima kasih karena pernah menjanjikan kita.
  10. Terima kasih karena pernah melibatkanku ke dalam hal-hal hebat yang kau alami.
  11. Terima kasih karena pernah membuatku merasa beruntung, di saat ada orang lain yang dekat denganmu.
  12. Terima kasih karena pernah dengan bangganya memperkenalkanku di hadapan teman-teman dan keluargamu sebagai orang yang kau sayangi.
  13. Terima kasih karena masih mau mengobrol denganku di saat kita kehabisan topik untuk dibahas.
  14. Terima kasih karena masih mau mendengar cerita yang sudah kuulang berkali-kali.
  15. Terima kasih karena mau memaafkanku atas segala kesalahan yang kubuat.
  16. Terima kasih karena mau mendengarkanku.
  17. Terima kasih karena membiarkanku mencintaimu. 
  18. Terima kasih karena tidak membiarkanku berjuang sendirian.
  19. Terima kasih karena menciptakan atmosfer tawa, di saat dunia sedang tidak berusaha melucu.
  20. Terima kasih karena berusaha untuk ada.
  21. Terima kasih karena menjatuhiku cinta yang baik.
  22. Terima kasih karena tetap peduli padaku di saat kita sedang bertengkar.
  23. Terima kasih karena membuatku merasa dibutuhkan.
  24. Terima kasih sudah mau bertahan di saat kondisi yang kita hadapi sangat menyulitkan kita.
  25. Terima kasih sudah mau menguatkan kerapuhanku dan tidak sedikitpun berniat meninggalkanku.
  26. Terima kasih telah menjadi inspirasi untuk semua tulisanku.
  27. Terima kasih telah menjadi pendengar yang baik. 
  28. Terima kasih telah menjadi dirimu sendiri untuk kucintai. 
  29. Terima kasih telah mengikutsertakanku ke dalam perjalanan bersamamu.
  30. Terima kasih telah mengijinkanku memilihmu, di saat ada orang yang jauh lebih baik dalam segala hal untuk kupilih dan aku berharap dirimu pun memilihku.
  31. Terima kasih telah bersedia menjadi bagian dari hidupku dan menjadikanku bagian dari hidupmu di saat ada orang yang jauh lebih pantas memasukinya.
  32. Terima kasih telah menawarkan kebaikan yang tak akan pernah bisa aku balas.
  33. Terima kasih telah membawa anugerah yang tak henti-hentinya membuatku bahagia.
  34. Terima kasih telah mendoakan kebahagiaanku.
  35. Terima kasih telah bersusah payah menerjemahkan dan memahami sisi lain diriku yang sulit dimengerti.
  36. Terima kasih telah mencintaiku sebagai diriku sendiri.
  37. Terima kasih untuk semua mimpi yang pernah kau bagi dan ingin kau wujudkan bersamaku.
  38. Terima kasih untuk segala pengalaman, kenangan, dan momen yang sengaja kauciptakan banyak-banyak untukku.
  39. Terima kasih untuk segala pemberian, hadiah, dan kejutan yang kauberikan khusus untukku.
  40. Terima kasih untuk setiap dukungan, nasihat, dan saran yang selalu membuatku jauh lebih tenang.
  41. Terima kasih untuk setiap ucapan selamat pagi, selamat malam, selamat tidur, selamat istirahat, dan perhatian-perhatian kecil lainnya.
  42. Terima kasih untuk setiap sentuhan, pelukan, dan genggaman yang sebentar dan lama.
  43. Terima kasih untuk cara-cara sederhana yang tidak bisa dilakukan orang lain, namun kau berhasil membuat bahagia.
  44. Terima kasih untuk janji yang benar-benar kau wujudkan.
  45. Terima kasih untuk air mata bahagia, debar di dada kiri, dan senyuman manis yang disebabkan olehmu.
  46. Terima kasih untuk masa lalu, masa sekarang, (mungkin) masa depan, dan segalanya yang telah terjadi. Aku belajar banyak darimu.
  47. Terima kasih untuk hal-hal lainnya yang tidak bisa kusebutkan yang pantas untuk mendapatkan terima kasih. 
  48. Dan terakhir, terima kasih karena telah mengawali cerita ini dengan baik. Jangan biarkan berakhir.

Thursday, 21 July 2016

Makhluk Penuh Perasaan

Dengan perasaannya, ia akan peduli meski terabaikan, yang memendam apapun segala rasa dalam tawanya.

Dengan perasaannya, ia berusaha menjadi sempurna meski jauh dari batas mampunya, yang selalu menggagahkan tiap-tiap doanya, tanpa pernah lupa, tanpa pernah terlewat.

Dengan perasaannya, ia sanggup tersenyum meski tersakiti, yang pandai menyimpan rapi luka-luka kecil meski getir tapi tetap menampakkan senyumnya.

Meski selalu diselimuti berbagai perasaan, mereka sering lupa bagaimana menjaga perasaan sendiri terhadap yang lain-lain. Jika hari ini, esok, atau lusa bertemu dengan makhluk yang seperti ini, bantulah mereka menjaga perasaan mereka. Bantu dengan cara yang baik, dengan cara yang santun.

Karena makhluk ini juga bisa terlelah. Bagai langit yang sedang menitikkan bulir kusam. Menangis itu saja cara baginya berbagi kesedihan dengan semesta. Karena ia tidak akan selamanya kuat. Bahkan, terkadang mereka sendiri tidak mengetahui sebenarnya apa yang membuat mereka menangis. Sebab kenyataannya, makhluk ini telah pandai menangis selepas bayi, tak heran jika ia terlampau menangis tanpa sebab.

Meski terkadang ia hanya berani menantimu di balik jendela, perasaannya yang berubah setiap saat hanya menjadi semakin besar, dan meski berkali-kali jatuh hinga pecah oleh pengabaian, ia akan tetap berdiri tegak di sana.

Selama air mata masih mampu menguatkan hatinya, ia sanggup menopang seisi dunia, begitu tangguh, begitu kuat. Sayangnya, mereka sering lupa betapa berharganya diri mereka sendiri.

Karena Perempuan, selamanya makhluk yang penuh perasaan.



Ambon, 21 Juli 2016

Sunday, 17 July 2016

Ketika Lelakiku Datang Bertamu

Padamu, lelakiku.

Kiranya berkenan olehmu untuk memberiku kesempatan menceritakan apa yang kurasakan setelah kau bertamu ke rumahku kala itu. Apakah kau penasaran juga tentang itu? Memang semua itu juga seakan terjadi diluar prakarsaku. Aku pikir ada semacam ilham yang membuatmu harus melakukannya, panggilan jiwa sepertinya, selain pula rasa malu yang terus mendera yang selalu kau sebutkan setiap kali kau pulang.

Baiklah, kiranya kuceritakan saja, ya.

Aku tahu, kau sebenarnya lelaki pemalu. Kau bukan seperti teman-teman lelakimu yang lain yang begitu penuh jam terbang dalam menjalin hubungan, namun kamu juga bukan seorang lelaki yang kuat betul hidup dalam kesendirian. Selama ini kau hanya mencoba mencari kesibukan berarti, begitupun tampaknya kau selama ini. Suatu kali, seakan-akan jalan menujuku terbuka setelah kau rasakan kenyamanan kala menyapamu ringan hingga menceritakan hari-hari yang dilalui bersama. Akupun merasakannya. Rasa yang tertambat perlahan, namun begitu sulit sekali dibahasakan. Kau bilang jalani saja, seperti semilir angin senja. Dan aku setuju, sedangkan kau tersenyum dari bilangan jarak tertentu. Aku mengangguk, memahami kedekatan yang seakan tak perlu dilihat dari dekat. Mungkin aku hendak menjaga diriku, kau tak tahu. Yang jelas, itu mungkin lebih selamat dan menyelamatkan bagiku.

Ah waktu pun berlalu. Hampir semua orang tahu, cerita kau dan aku. Teman-temanmu mulai menyikut, bertanya bagaimana caranya mendapatkan perhatianku. Kau hanya tertawa, entah mudah atau tidak, toh kita sudah menjalaninya. Kicauan itu seakan tak berarti lagi, biasa saja. Padahal aku sendiri tahu persis selama ini membangun hubungan dengan lelaki hanya mentok dikecewakan. Maka, bolehkah aku sedikit bangga pada sosokmu, lelakiku?

Tapi satu kali aku malu benar rasanya, mengingat saran teman-temanmu yang lain soal kedekatan yang sudah terlampau larut ini. Muncul pertanyaan dalam benak, apakah kamu akan segera memastikanku? Memastikan ku betul-betul dalam genggaman erat dibawah naungan restu Tuhan berserta keluarga, bukan restu sekedar "ciee-ciee" bermakna kosong dari teman-teman saja. Kau terhenyak dan berpikir dalam, sedangkan kau selalu berkata kau saja belum selesai pada dirimu sendiri dengan perempuan itu. Bagaimanakah ini, sedang semua sudah berlanjut lebih lama dari yang kita berdua kira. Bila kau menjadi aku, maka mungkin akan kau tanyakan juga kepastian ini, meski sampai sekarang tak ada tanda-tanda darimu melakukan sesuatu. Mungkinkah aku sekian lama ini bersabar untuk menunggumu?

Karena itulah bulat bagimu untuk melangkah lebih jauh, setidaknya untukmu lebih dalam mengenalku. Kau ingin tahu keluargaku (walau kau sudah cukup mengenal kedua kakak lelakiku), bagaimana rupa ayahku, bagaimana wajah ibuku. Kau ingin kenal saja, merasakan hal yang belum kau rasakan sebelumnya tentang mengenal orang-orang terdekat yang mencintaiku. Di luar sana, masih saja ada lelaki yang mengumbar janji dan terlampau dekat pada perempuannya, namun mengenalkan diri pada keluarga perempuannya saja enggan. Sedangkan kamu, meski tidak jauh lebih baik, setidaknya tidak berjanji apapun tapi sudah berani untuk mengunjungi keluargaku, juga setidaknya ibuku tahu siapa lelaki yang berani-berani mencuri hati anak perempuannya itu~

Bukan mudah meyakinkan diriku sendiri tentang ini. Memang, kau pernah berkali-kali pernah bertamu kerumah perempuan, tapi tak seperti ini. Mungkin telah puluhan kali juga kau berbincang dengan para ibu, tapi tak seistimewa ini. Ini jelas berbeda, dengan maksudmu yang hanya untuk berkunjung saja! Kau pahami sikapku terkejut seperti awan tenang tersapu angin ribut, menannyakan bahwa apakah kau benar-benar yakin ingin bertamu? Jawabmu, ya. Kau sudah bulat betul ingin datang ke rumah, perempuanmu.




Hari itupun tiba. Kau tak melewatkan suatu apapun. Kau tiba persis di hadapan rumahku tanpa telat, tanpa tersesat. Tapi kau rasakan kegugupan menjalari sekujur tubuhmu. Kau bilang sedari awal kau pemalu tapi kau sudah sejauh ini, kau pun tak peduli bila sebagian lelaki di dunia ini menertawakanmu hari itu karena katamu memang rasanya pertama kali itu begini dan harus kau hadapi. Tampak aku menunggu di beranda dengan senyuman termanis, senyum bahagia, sedang kau hanya mengangguk ragu, selangkah mendekati pintu rumahku. Gelagapan kau mengucap salam, karena disampingku telah ada sosok yang mencintaiku, ibuku yang ingin kau kenal itu.

Kau menyapa ibuku, lalu masuk dan ikut menyapa ayahku yang memasang raut wajah sama persis seperti setiap kali ada teman lelakiku yang bertamu di rumah. Memang tak setampan dulu, tapi masih menyisakan ketegasan. Senyum ibuku, ada rona kelembutan sekaligus kekuatan yang begitu besar menyambutmu dengan hangat. Kau pandangi mata ibuku dan kau lihat ada binar yang berbeda, semacam pandangannya pada anaknya sendiri. Aku tahu, ingin sekali rasanya kau ingin berucap terima kasih pada ibuku yang telah menyambutmu dengan kasih sayang. Entah, meski tak kau ucapkan, kau memberikan senyum ketulusan bahagia kepada ibuku. Yang sekarang menjadi tugasmu untuk menghormati mereka dengan cara menjaga dan mengasihiku.

Pada waktunya, ternyata semua lancar-lancar saja tak seperti yang kau duga seperti adegan drama. Kau tak merasa tersudutkan seperti pemeran laki-laki yang mendatangi rumah perempuannya. Hingga pada waktunya, kau berpamitan pulang. Kau pamit kepada ayahku yang sedang sibuk dengan laptopnya, sedang ibuku yang mengantarmu dengan sukacita dan penuh tawa bahagia. Setidaknya hari ini berlalu dengan baik dan hilang sudah bebanmu. Dengan lega kau pergi meninggalkan rumahku, seiring kesan yang akan selalu kau ingat dalam benak.

Lelakiku,
Aku tahu sepulang dari rumahku, kau tak berteriak lega. Malah mungkin semakin dalam kau berpikir dan menyadari diri. Kau sadari, kau masih dalam proses belajar, belum bekerja, jelas masih mengejar masa depan. Kau selalu bilang bahwa kau tak punya apa-apa dan belum jadi siapa-siapa. Menurutku, pola pikir lelaki akan selalu sama, seperti yang juga kau tunjukkan padaku, bahwa kemapanan seorang lelaki akan jadi pondasi harga diri. Bukan soal harta benda, melainkan sikap dan karakter dalam memandang hidup yang utama.

Kau juga mungkin mengingat setiap sambutan hangat ibuku, yang tanpa sadar menjadi ultimatum bagimu untuk menjaga diriku. Mungkin kau selalu berkata, kau bukan siapa-siapa, bukan yang berkewajiban menjagamu layaknya ayah dan kakak-kakak lelakiku. Tapi ibuku seakan percaya padamu, itu saja. Juga secara harafiah, mungkin menurutmu ibuku meminta pula agar jangan sampai kau menyakiti hatiku. Dan pintaku hanya satu, jangan pernah kecewakan kepercayaan ibuku. Karena jika suatu saat anak perempuannya pulang kepangkuan ibunya dan menangisi sakit hati yang dideritanya, maka saat itulah kau telah mengecewakan ibunya. Berjanjilah, jangan sampai ibuku kecewa karena telah menyambutmu dengan kasih sayang.

Kusimpulkan saja, kedatangananmu bertamu dirumahku berarti sebuah tanggung jawab. Pelajaran penting bagimu tentang bagaimana kau memandang dirimu sendiri sekaligus arti kehadiranmu disini. Mulai timbul proyeksi jangka panjang yang belum terpikirkan olehmu sebelumnya. Rasanya, proses pendewasaan ini harus benar-benar kau jalani, tentang betapa besarnya tanggungjawabmu sebagai seorang lelaki.

Meski aku tahu, lelakiku, kau belum menjanjikan apa-apa sebagaimana kau juga belum meminta apa-apa dari orangtuaku. Karena kau belum selesai dengan dirimu sendiri dan perempuan itu, maka sepatutnyalah aku diam. Semoga kau paham.


Mungkin, menurutmu hingga nanti Tuhan menunjukkan jalan.



Ambon, 16 Juli 2016