Monday, 28 March 2016

malam!

Di luar hujan. Ada hati yang sudah hilang arah untuk sekedar mengadu. Ada lidah yang tak lagi bisa mengucap segala keluh kesah. Ada sekelumit pemikiran yang benar-benar rumit. Ada ego yang diteriakan banyak pihak. Sedang mereka tak kunjung bertanya pada pihak yang diserang, apa maunya dan bahagiakah dia?

Terus saja berkumpul dengan segenap pemikiran yang diciptakan sendiri. Begitu saja terus hingga jenuh mulai menggerogoti dia. Sadar tak? Dia mulai jauh lebih rapuh dari sebelumnya. Dia tak pernah benar, sama sekali tidak.

Bila setelah ini ada yang bertanya dia kemana. Bilang saja tak tahu. Karena memang kamu dan mereka tak akan pernah tahu. Dia menghilang. Mematikan dia yang pernah kalian kenal. Besok hadiri saja pemakamannya. Terima kasih pada malam yang sudah mulai pekat. Titip rindu dan maaf pada mereka yang tak sengaja pernah disakiti ataupun dikecewakan.


Ambon, 28 Maret 2015

Tuesday, 15 March 2016

Terjaga

Sedang ingin terjaga lebih lama dari biasanya
Entah memang menghindari mimpi
Atau mungkin sedang terlalu menikmati permainan semesta
Logika sedang meramu definisi nyata dari sebuah kata bahagia yang sederhana
Dan terhenti pada barisan memori yang berlarian saling mengejar di benak
Ini nyata.
Di salah satu sudut otak sedang ada tayangan detik demi detik yang telah berlalu
Menarik ujung bibir untuk mengukir senyum barang 5menit
Dan lalu membuat ujung mata tak sengaja menitikkan bulir sendu

Segelintir tanya hinggap begitu saja, tiba-tiba....
Pernah memiliki? Pernah kehilangan? Pernah jatuh cinta?
Ini yang kemudian menimbulkan pertentangan di benak
Bagaimana bisa jatuh cinta dan lalu merasa kehilangan padahal sebenarnya tidak pernah benar-benar memiliki?

Sunday, 13 March 2016

Bajingan Yang Ku Cemburui

Pernah dia aku titipi rindu
Tapi membuatku tertikam cemburu
Bersimbah darah amarah
Memasungku di lembah gundah
Dia membelai lembut rambutmu
Mengusap halus pipimu
Memeluk erat tubuhmu
Tanpa menyampaikan rindu titipanku
Angan inginku melumatnya
Menginjak menghancurkannya
Ujung jemari tak mampu menyentuhnya
Tertawa menyayat tulangku tanpa luka
Cemburuku oleh sesosok bajingan
Pengkhianat yang kubutuhkan

Ambon, 19 Desember 2015