Wednesday, 27 July 2016

Tentang Perjuangan

Dalam kiniku, ada juang yang tak main-main untuk didahulukan. Mendapat tempat utama pada episode bernama kita. Aku dan kamu, yang belum bisa kusebut namamu. Bersahut doa, berpadu usaha, itu kita. Yang kutanamkan dalam-dalam setiap pesan ayahku untuk patuh padamu. Yang kukencangkan angan-angan untuk membersamaimu bukan hanya di dunia, juga setelahnya. Berjuang, tentang kerja sama bukan tentang siapa yang terdepan dalam doa.

Bila dulu ada banyak doa yang kuhaturkan untuknya. Ada tangis yang tak berkesudahan ketika dia tak lagi menoleh. Ada kecewa yang menumpuk bahkan tak mampu dihitung. Bahkan ada sedih yang tak pernah berujung. Saat ini semuanya sudah tiada. Hanya pelajaran yang tersisa. Tentang pengharapan yang tak boleh berlebihan. Tentang rindu yang seharusnya terus menerus. Tentang dia yang tak boleh lebih banyak komposisinya daripada Dia

Pada akhirnya hanya pasrah yang harus dirumuskan. Terkadang hina menjadi sebab kenapa juang tak lagi berharga. Terkadang nafsu amarah berkuasa atas diri kita. Lupa bahwa pelajaranNya bukan hanya sekedar kebahagiaan, tetapi juga pengharapan-pengharapan dari luka yang sempat ada. Lalu kemana saja kaki melangkah? Jika ternyata kecewa tak perlu begitu penuh daya atas kita. Mencukupkan paham bahwa berjuang bukanlah sepihak, tetapi keduanya. Bukan siapa yang menang atau kalah, siapa yang dahulu merindu. Juang bukan itu. Ada cerita yang perlu dikalkulasi untuk menunaikan segala derita untuk menyambut asa, di depan sana.

Kadang, untuk mengerti butuh banyak sekali ketidaktahuan. Untuk bangkit butuh terjatuh bukan hanya sekali. Untuk jatuh cinta butuh sakit hati yang bertubi-tubi. Pemahaman adanya selalu di akhir. Lalu apa yang berada di awal? Jika saja perjuangan memang sebuah awalan. Lantas mengapa hingga akhir kerap selalu ada perjuangan yang bahkan tak bertepi? Mungkin benar kata mereka bahwa hidup selalu butuh perjuangan. Perlu ada yang selalu dilalui dan dilihat dalam perjalanan. Entah untuk bekal sebagai persediaan atau mungkin selama perjalanan.

Bahwa sejatinya hidup adalah perjuangan tanpa akhir. Dengan segala daya menyatukan paham bahwa yang bertepi hanyalah usia, sedangkan juang akan menemukan keabadiannya. Tidak untuk dikenang atau hanya dijadikan asupan cadangan. Ini kehidupan, bukan guyonan. Selain dari otak yang selalu butuh nutrisi, ada juang yang butuh service berkala. IjinNya adalah kunci, bahwa pemahaman hidup dari sebuah juang mengingatkan kita bahwa manusia hanyalah hamba, bukan pemilik jagat raya.

Dalam hidup ada banyak hal yang dibutuhkan, entah menurutmu sulit maupun mudah untuk dilakukan. Dan perjuangan adalah salah satunya–hal yang dibutuhkan hingga napas berhenti berhembus. Untuk segala kecewa yang pernah ada. Untuk segala tangis yamg kerap berderai. Untuk segenap kecewa yang sering menyisakan luka dan sedih. Perjuangan belum dan tak akan berakhir begitu saja. Esok masih ada cerita yang harus terus diukir. Masih ada langkah yang harus dijejak. Pasrahkan saja segala upaya dan usaha dalam perjuanganmu padaNya. Kelak ada bahagia yang menjemputmu dalam kedamaian.

Untuk secercah harap di depan, jangan ragu untuk memberi uang muka. Jika mampu, lunasi saja sebelumnya. Bahwa juang yang kau hambur bukan jatuh di tangan rentenir. Jatuhnya ada pelukan semesta yang mengaminkan segala doamu dalam bentuk mahakarya Yang Maha Esa. Mungkin kau baru mencecap sebagiannya, padahal kau perlu melalap habis setiap episode yang kudu kau lakoni. Jangan menyerah, jangan kehabisan tenaga, aku siapkan cuma-cuma minuman penambah stamina untukmu jika sedang dalam lelah. Aku siapkan waktuku sebagai garansi bahwa kau mampu dan pantas untuk menerima cerita yang lebih  baik dari sebelumnya. Kamu, jangan ragu untuk bertanya tentang apapun itu, karena kita beda usia. Jangan biarkan dirimu hilang arah layaknya kang ojek tanpa gps karena juangmu tak kunjung berbalas. Tunggu dan nikmatilah kemerdekaanmu, karena kematangan juga butuh perjuangan.

Untuk kamu, kamu, kamu dan kamu yang hingga saat ini masih bisa untuk bernafas, selamat berjuang dalam perjuangan yang kamu tentukan sendiri kemana arah untuk segera mencapai tujuan! Semoga dimudahkan dalam segala langkah kebaikan :)

Tuesday, 26 July 2016

48Things

48 hal yang harus ku ucapkan terima kasih padamu...

  1. Terima kasih karena bersedia mengenalku, tanpa momen itu cerita kita tidak akan pernah ada.
  2. Terima kasih karena membuatku mampu melupakan masa laluku beserta luka-lukanya.
  3. Terima kasih karena pernah, sedang, atau masih mencintaiku.
  4. Terima kasih karena pernah mau belajar menaklukkan kerumitanku.
  5. Terima kasih karena pernah meluangkan waktumu untuk menemaniku.
  6. Terima kasih karena pernah mengakui bahwa kamu merindukanku.
  7. Terima kasih karena pernah ada di suatu masa untuk tujuan yang baik.
  8. Terima kasih karena pernah mau belajar memaklumi ketidaksempurnaanku.
  9. Terima kasih karena pernah menjanjikan kita.
  10. Terima kasih karena pernah melibatkanku ke dalam hal-hal hebat yang kau alami.
  11. Terima kasih karena pernah membuatku merasa beruntung, di saat ada orang lain yang dekat denganmu.
  12. Terima kasih karena pernah dengan bangganya memperkenalkanku di hadapan teman-teman dan keluargamu sebagai orang yang kau sayangi.
  13. Terima kasih karena masih mau mengobrol denganku di saat kita kehabisan topik untuk dibahas.
  14. Terima kasih karena masih mau mendengar cerita yang sudah kuulang berkali-kali.
  15. Terima kasih karena mau memaafkanku atas segala kesalahan yang kubuat.
  16. Terima kasih karena mau mendengarkanku.
  17. Terima kasih karena membiarkanku mencintaimu. 
  18. Terima kasih karena tidak membiarkanku berjuang sendirian.
  19. Terima kasih karena menciptakan atmosfer tawa, di saat dunia sedang tidak berusaha melucu.
  20. Terima kasih karena berusaha untuk ada.
  21. Terima kasih karena menjatuhiku cinta yang baik.
  22. Terima kasih karena tetap peduli padaku di saat kita sedang bertengkar.
  23. Terima kasih karena membuatku merasa dibutuhkan.
  24. Terima kasih sudah mau bertahan di saat kondisi yang kita hadapi sangat menyulitkan kita.
  25. Terima kasih sudah mau menguatkan kerapuhanku dan tidak sedikitpun berniat meninggalkanku.
  26. Terima kasih telah menjadi inspirasi untuk semua tulisanku.
  27. Terima kasih telah menjadi pendengar yang baik. 
  28. Terima kasih telah menjadi dirimu sendiri untuk kucintai. 
  29. Terima kasih telah mengikutsertakanku ke dalam perjalanan bersamamu.
  30. Terima kasih telah mengijinkanku memilihmu, di saat ada orang yang jauh lebih baik dalam segala hal untuk kupilih dan aku berharap dirimu pun memilihku.
  31. Terima kasih telah bersedia menjadi bagian dari hidupku dan menjadikanku bagian dari hidupmu di saat ada orang yang jauh lebih pantas memasukinya.
  32. Terima kasih telah menawarkan kebaikan yang tak akan pernah bisa aku balas.
  33. Terima kasih telah membawa anugerah yang tak henti-hentinya membuatku bahagia.
  34. Terima kasih telah mendoakan kebahagiaanku.
  35. Terima kasih telah bersusah payah menerjemahkan dan memahami sisi lain diriku yang sulit dimengerti.
  36. Terima kasih telah mencintaiku sebagai diriku sendiri.
  37. Terima kasih untuk semua mimpi yang pernah kau bagi dan ingin kau wujudkan bersamaku.
  38. Terima kasih untuk segala pengalaman, kenangan, dan momen yang sengaja kauciptakan banyak-banyak untukku.
  39. Terima kasih untuk segala pemberian, hadiah, dan kejutan yang kauberikan khusus untukku.
  40. Terima kasih untuk setiap dukungan, nasihat, dan saran yang selalu membuatku jauh lebih tenang.
  41. Terima kasih untuk setiap ucapan selamat pagi, selamat malam, selamat tidur, selamat istirahat, dan perhatian-perhatian kecil lainnya.
  42. Terima kasih untuk setiap sentuhan, pelukan, dan genggaman yang sebentar dan lama.
  43. Terima kasih untuk cara-cara sederhana yang tidak bisa dilakukan orang lain, namun kau berhasil membuat bahagia.
  44. Terima kasih untuk janji yang benar-benar kau wujudkan.
  45. Terima kasih untuk air mata bahagia, debar di dada kiri, dan senyuman manis yang disebabkan olehmu.
  46. Terima kasih untuk masa lalu, masa sekarang, (mungkin) masa depan, dan segalanya yang telah terjadi. Aku belajar banyak darimu.
  47. Terima kasih untuk hal-hal lainnya yang tidak bisa kusebutkan yang pantas untuk mendapatkan terima kasih. 
  48. Dan terakhir, terima kasih karena telah mengawali cerita ini dengan baik. Jangan biarkan berakhir.

Thursday, 21 July 2016

Makhluk Penuh Perasaan

Dengan perasaannya, ia akan peduli meski terabaikan, yang memendam apapun segala rasa dalam tawanya.

Dengan perasaannya, ia berusaha menjadi sempurna meski jauh dari batas mampunya, yang selalu menggagahkan tiap-tiap doanya, tanpa pernah lupa, tanpa pernah terlewat.

Dengan perasaannya, ia sanggup tersenyum meski tersakiti, yang pandai menyimpan rapi luka-luka kecil meski getir tapi tetap menampakkan senyumnya.

Meski selalu diselimuti berbagai perasaan, mereka sering lupa bagaimana menjaga perasaan sendiri terhadap yang lain-lain. Jika hari ini, esok, atau lusa bertemu dengan makhluk yang seperti ini, bantulah mereka menjaga perasaan mereka. Bantu dengan cara yang baik, dengan cara yang santun.

Karena makhluk ini juga bisa terlelah. Bagai langit yang sedang menitikkan bulir kusam. Menangis itu saja cara baginya berbagi kesedihan dengan semesta. Karena ia tidak akan selamanya kuat. Bahkan, terkadang mereka sendiri tidak mengetahui sebenarnya apa yang membuat mereka menangis. Sebab kenyataannya, makhluk ini telah pandai menangis selepas bayi, tak heran jika ia terlampau menangis tanpa sebab.

Meski terkadang ia hanya berani menantimu di balik jendela, perasaannya yang berubah setiap saat hanya menjadi semakin besar, dan meski berkali-kali jatuh hinga pecah oleh pengabaian, ia akan tetap berdiri tegak di sana.

Selama air mata masih mampu menguatkan hatinya, ia sanggup menopang seisi dunia, begitu tangguh, begitu kuat. Sayangnya, mereka sering lupa betapa berharganya diri mereka sendiri.

Karena Perempuan, selamanya makhluk yang penuh perasaan.



Ambon, 21 Juli 2016

Sunday, 17 July 2016

Ketika Lelakiku Datang Bertamu

Padamu, lelakiku.

Kiranya berkenan olehmu untuk memberiku kesempatan menceritakan apa yang kurasakan setelah kau bertamu ke rumahku kala itu. Apakah kau penasaran juga tentang itu? Memang semua itu juga seakan terjadi diluar prakarsaku. Aku pikir ada semacam ilham yang membuatmu harus melakukannya, panggilan jiwa sepertinya, selain pula rasa malu yang terus mendera yang selalu kau sebutkan setiap kali kau pulang.

Baiklah, kiranya kuceritakan saja, ya.

Aku tahu, kau sebenarnya lelaki pemalu. Kau bukan seperti teman-teman lelakimu yang lain yang begitu penuh jam terbang dalam menjalin hubungan, namun kamu juga bukan seorang lelaki yang kuat betul hidup dalam kesendirian. Selama ini kau hanya mencoba mencari kesibukan berarti, begitupun tampaknya kau selama ini. Suatu kali, seakan-akan jalan menujuku terbuka setelah kau rasakan kenyamanan kala menyapamu ringan hingga menceritakan hari-hari yang dilalui bersama. Akupun merasakannya. Rasa yang tertambat perlahan, namun begitu sulit sekali dibahasakan. Kau bilang jalani saja, seperti semilir angin senja. Dan aku setuju, sedangkan kau tersenyum dari bilangan jarak tertentu. Aku mengangguk, memahami kedekatan yang seakan tak perlu dilihat dari dekat. Mungkin aku hendak menjaga diriku, kau tak tahu. Yang jelas, itu mungkin lebih selamat dan menyelamatkan bagiku.

Ah waktu pun berlalu. Hampir semua orang tahu, cerita kau dan aku. Teman-temanmu mulai menyikut, bertanya bagaimana caranya mendapatkan perhatianku. Kau hanya tertawa, entah mudah atau tidak, toh kita sudah menjalaninya. Kicauan itu seakan tak berarti lagi, biasa saja. Padahal aku sendiri tahu persis selama ini membangun hubungan dengan lelaki hanya mentok dikecewakan. Maka, bolehkah aku sedikit bangga pada sosokmu, lelakiku?

Tapi satu kali aku malu benar rasanya, mengingat saran teman-temanmu yang lain soal kedekatan yang sudah terlampau larut ini. Muncul pertanyaan dalam benak, apakah kamu akan segera memastikanku? Memastikan ku betul-betul dalam genggaman erat dibawah naungan restu Tuhan berserta keluarga, bukan restu sekedar "ciee-ciee" bermakna kosong dari teman-teman saja. Kau terhenyak dan berpikir dalam, sedangkan kau selalu berkata kau saja belum selesai pada dirimu sendiri dengan perempuan itu. Bagaimanakah ini, sedang semua sudah berlanjut lebih lama dari yang kita berdua kira. Bila kau menjadi aku, maka mungkin akan kau tanyakan juga kepastian ini, meski sampai sekarang tak ada tanda-tanda darimu melakukan sesuatu. Mungkinkah aku sekian lama ini bersabar untuk menunggumu?

Karena itulah bulat bagimu untuk melangkah lebih jauh, setidaknya untukmu lebih dalam mengenalku. Kau ingin tahu keluargaku (walau kau sudah cukup mengenal kedua kakak lelakiku), bagaimana rupa ayahku, bagaimana wajah ibuku. Kau ingin kenal saja, merasakan hal yang belum kau rasakan sebelumnya tentang mengenal orang-orang terdekat yang mencintaiku. Di luar sana, masih saja ada lelaki yang mengumbar janji dan terlampau dekat pada perempuannya, namun mengenalkan diri pada keluarga perempuannya saja enggan. Sedangkan kamu, meski tidak jauh lebih baik, setidaknya tidak berjanji apapun tapi sudah berani untuk mengunjungi keluargaku, juga setidaknya ibuku tahu siapa lelaki yang berani-berani mencuri hati anak perempuannya itu~

Bukan mudah meyakinkan diriku sendiri tentang ini. Memang, kau pernah berkali-kali pernah bertamu kerumah perempuan, tapi tak seperti ini. Mungkin telah puluhan kali juga kau berbincang dengan para ibu, tapi tak seistimewa ini. Ini jelas berbeda, dengan maksudmu yang hanya untuk berkunjung saja! Kau pahami sikapku terkejut seperti awan tenang tersapu angin ribut, menannyakan bahwa apakah kau benar-benar yakin ingin bertamu? Jawabmu, ya. Kau sudah bulat betul ingin datang ke rumah, perempuanmu.




Hari itupun tiba. Kau tak melewatkan suatu apapun. Kau tiba persis di hadapan rumahku tanpa telat, tanpa tersesat. Tapi kau rasakan kegugupan menjalari sekujur tubuhmu. Kau bilang sedari awal kau pemalu tapi kau sudah sejauh ini, kau pun tak peduli bila sebagian lelaki di dunia ini menertawakanmu hari itu karena katamu memang rasanya pertama kali itu begini dan harus kau hadapi. Tampak aku menunggu di beranda dengan senyuman termanis, senyum bahagia, sedang kau hanya mengangguk ragu, selangkah mendekati pintu rumahku. Gelagapan kau mengucap salam, karena disampingku telah ada sosok yang mencintaiku, ibuku yang ingin kau kenal itu.

Kau menyapa ibuku, lalu masuk dan ikut menyapa ayahku yang memasang raut wajah sama persis seperti setiap kali ada teman lelakiku yang bertamu di rumah. Memang tak setampan dulu, tapi masih menyisakan ketegasan. Senyum ibuku, ada rona kelembutan sekaligus kekuatan yang begitu besar menyambutmu dengan hangat. Kau pandangi mata ibuku dan kau lihat ada binar yang berbeda, semacam pandangannya pada anaknya sendiri. Aku tahu, ingin sekali rasanya kau ingin berucap terima kasih pada ibuku yang telah menyambutmu dengan kasih sayang. Entah, meski tak kau ucapkan, kau memberikan senyum ketulusan bahagia kepada ibuku. Yang sekarang menjadi tugasmu untuk menghormati mereka dengan cara menjaga dan mengasihiku.

Pada waktunya, ternyata semua lancar-lancar saja tak seperti yang kau duga seperti adegan drama. Kau tak merasa tersudutkan seperti pemeran laki-laki yang mendatangi rumah perempuannya. Hingga pada waktunya, kau berpamitan pulang. Kau pamit kepada ayahku yang sedang sibuk dengan laptopnya, sedang ibuku yang mengantarmu dengan sukacita dan penuh tawa bahagia. Setidaknya hari ini berlalu dengan baik dan hilang sudah bebanmu. Dengan lega kau pergi meninggalkan rumahku, seiring kesan yang akan selalu kau ingat dalam benak.

Lelakiku,
Aku tahu sepulang dari rumahku, kau tak berteriak lega. Malah mungkin semakin dalam kau berpikir dan menyadari diri. Kau sadari, kau masih dalam proses belajar, belum bekerja, jelas masih mengejar masa depan. Kau selalu bilang bahwa kau tak punya apa-apa dan belum jadi siapa-siapa. Menurutku, pola pikir lelaki akan selalu sama, seperti yang juga kau tunjukkan padaku, bahwa kemapanan seorang lelaki akan jadi pondasi harga diri. Bukan soal harta benda, melainkan sikap dan karakter dalam memandang hidup yang utama.

Kau juga mungkin mengingat setiap sambutan hangat ibuku, yang tanpa sadar menjadi ultimatum bagimu untuk menjaga diriku. Mungkin kau selalu berkata, kau bukan siapa-siapa, bukan yang berkewajiban menjagamu layaknya ayah dan kakak-kakak lelakiku. Tapi ibuku seakan percaya padamu, itu saja. Juga secara harafiah, mungkin menurutmu ibuku meminta pula agar jangan sampai kau menyakiti hatiku. Dan pintaku hanya satu, jangan pernah kecewakan kepercayaan ibuku. Karena jika suatu saat anak perempuannya pulang kepangkuan ibunya dan menangisi sakit hati yang dideritanya, maka saat itulah kau telah mengecewakan ibunya. Berjanjilah, jangan sampai ibuku kecewa karena telah menyambutmu dengan kasih sayang.

Kusimpulkan saja, kedatangananmu bertamu dirumahku berarti sebuah tanggung jawab. Pelajaran penting bagimu tentang bagaimana kau memandang dirimu sendiri sekaligus arti kehadiranmu disini. Mulai timbul proyeksi jangka panjang yang belum terpikirkan olehmu sebelumnya. Rasanya, proses pendewasaan ini harus benar-benar kau jalani, tentang betapa besarnya tanggungjawabmu sebagai seorang lelaki.

Meski aku tahu, lelakiku, kau belum menjanjikan apa-apa sebagaimana kau juga belum meminta apa-apa dari orangtuaku. Karena kau belum selesai dengan dirimu sendiri dan perempuan itu, maka sepatutnyalah aku diam. Semoga kau paham.


Mungkin, menurutmu hingga nanti Tuhan menunjukkan jalan.



Ambon, 16 Juli 2016

Monday, 9 May 2016

Memiliki Tujuan

Betapa pentingnya memiliki tujuan.

bila kita telah menetapkan tujuan, maka kita secara langsung telah menetapkan jiwa kita untuk ikut berjuan bersamanya. Tanpa tujuan, segalanya bisa berjalan, namun kadang tanpa jiwa.

Kita kadang berhenti di tengah jalan, beruntung bila sadar-maka kita akan bertanya-tanya tentang apa yang kita lakukan, lalu kita tersadar dan kembali ke awal. Lalu bagaimana bila tidak sadar?

Tidak mungkin, kita akan sadar pada waktunya. Hanya saja kita tidak tahu, ketika kita disadarkan mengenai tujuan hidup, entah waktu telah terlambat atau belum.

Gampang, tanpa tujuan pun kita bisa hidup. Memang, layaknya air yang mengalir. Air yang mengalir, dalam jalannya pasti menemui posisi yang rendah. Namun adakalanya, air ini akan berhenti karena telah tiba pada tempatnya. Lalu apa yang terjadi? Maka, air akan diam, menggenang. Bila tak segera bergerak, maka air itu akan "membusuk".

Begitupun hidup yang dibiarkan begitu saja berjalan. Memang nyaman karena berkutat pada standar yang rendah dan mudah. Hingga suatu kali, kita telah mencapai posisi puas, maka kita akan berhenti. Semakin lama, maka kita akan menemui jenuh.

Hingga sirkulasinya akan menemui pada pertanyaan hidup, "apalagi yang harus kulakukan?", "apa yang sebenarnya harus kulakukan?", "apa hal terbaik yang bisa kukerjakan?" dan pertanyaan hidup lainnya.

Namun, waktu tak dapat berputar sirkular. Waktu akan senantiasa lurus, berjalan, hingga menemui titik henti. Maka, kadangkala kesadaran akan hidup akan terasa sangat terlambat datangnya karena umur terlanjur menua dan kemampuan tak lagi menunjang keinginan dan harapan.

Maka, itulah pentingnya memiliki tujuan. Karena dengan waktu, kita senantiasa berkejaran.


Ambon, 9 Mei 2016

Tuesday, 3 May 2016

Tanggung Jawab, ya?

  • Pada mulanya, kamu hanyalah entah siapa yang mempengaruhi hidupku barang setitik saja tidak pada akhirnya, hilang kamu setitik, berantakanlah aku berdepa-depa. Tanggung jawab, ya?
  • Pada mulanya, apa-apa tentangmu rasanya bukan urusanku. Pada akhirnya, mengetahui segala tentangmu bahkan dilibatkan dalam urusanmu, aku mau. Tanggung jawab, ya?
  • Pada mulanya, untuk sekedar peduli aku gengsi. Pada akhirnya, mengenyampingkan gengsi aku lalui, sebab menahan peduli padamu, -aku tak tahan lagi. Tanggung jawab, ya?
  • Pada mulanya, ialah aku yang sama sekali tak pernah memikirkan tentangmu. Pada akhirnya, dalam kondisi tak berpikir pun, kamu muncul dalam benakku. Tanggung jawab, ya?
  • Pada mulanya, waktu yang aku lalui bersamamu tidak prioritaskan, sama saja layaknya aku bersama yang lain juga. Pada akhirnya, melewati banyak waktu bersamamu, rasanya aku selalu perlu. Tanggung jawab, ya?
  • Pada mulanya, bertemu hanya sekedar perlu. Pada akhirnya, apa apa yang berhubungan denganmu membuatku candu. Tanggung jawab, ya?
  • Pada mulanya, beberapa bagian darimu bahkan luput dari pandanganku. Pada akhirnya, bagian darimu mana yang tak aku suka? Tanggung jawab, ya?
  • Pada mulanya, kamu hilang tentu bukan perkaraku, sayang. Pada akhirnya, jika demikian jelas aku tak terbayang. Tanggung jawab, ya?
  • Pada mulanya, memintamu untuk tetap bertahan dan berjalan beriringan, -tak pernah trpikirkan. Pada akhirnya, semua itu menjadi permohonanyang semoga kamu berbaik hati mengabulkan. Tanggung jawab, ya?
Pada mulanya, sudah tentu tidak akan sama dengan pada akhirnya. Awalnya begini, akhirnya begitu. Apapun itu, semoga kamu tetap bersamaku.

Disudut bilik hatimu, 30 April 2016

Bila Cintamu Tak Dihargai

Bila kau bertanya cinta itu sebatas apa,
tentu saja aku akan berkata bahwa;
Cinta tak ada batasnya
Sampai nanti Tuhan mengembalikan hatimu seperti sedia kala
Seperti saat kau belum mengenalnya

Bila hanya tak dicintai kau boleh tetap mencintai
Bila hanya tak diberi kau boleh tetap memberi

Namun bila kau tak dihargai,
Kau harus mengerti!
Kau harus tau diri!
Ia tak menghargai karena baginya kau tak bernilai lagi

Sungguh kau tak perlu lagi merendahkan diri
Hanya ada satu pilihan; Pantaskan diri!

Bila sudah pantaspun semoga kau mengerti
Semoga kau bersedia melihat dengan hati
Agar kau tak kembali terluka lagi

-InsaffinaGalihPratiwi
Jakarta, 15 September 2015

Thursday, 28 April 2016

S P A S I

Jarak dan jeda sementara. Bukan berarti pergi jauh untuk mengumbara. Hanya butuh berikan spasi saja. Sudah. Menarik diri sebentar dari segala hingar bingar, untuk temukan sunyi paling tentram. Menjauh beberapa waktu dari segala rutinitas yang sempat memasung ketenangan.

Terkadang aku hanya ingin bersantai dahulu. Mengenali diri lebih dalam. Memanjakan beberapa sisi yang sempat tidak aku perhatikan. Mengunjungi beberapa sudut diri yang sempat tidak aku pedulikan karena terlalu fokus menggenggam kesibukan.

Aku hanya harus berkenalan kembali dengan diriku sendiri. Meminta maaf atas segala janji yang belum sempat ditepati, meminta maaf atas segala ambisi yang belum juga temukan selesai, meminta maaf karena sudah begitu keji menelantarkan kebahagiaanku sendiri karena sibuk mengupayakan kebahagiaan orang lain. Aku hanya harus bersikap tegas pada sekat yang telah kudirikan sendiri; memisahkan aku dengan diriku di dalam aku.

Ambon, 25 April 2016

'Hilang'

"Aku membacanya dari layar ponselku. Hanya sebuah jawaban samar---sekedar menenangkan---lantas aku pura-pura terpejam.

Dari kegelapan yang dilantarkan sepasang kelopak mataku, terdengar gumaman seseorang, tepatnya melayangkan pertanyaan padaku, "jadi kau masih berpikir untuk bertahan?" Ada nada sinis yang ditekankan di ujung kalimat tanyanya, sedikit disamarkan dengan desis senyum tipis---yang entah kenapa menurutku menambah irama sarkas. "Mungkin sedikit lagi. Mungkin." Jawabanku terdengar optimis, meskipun dari suaraku sendiri aku mendengar bahwa rasa putus asa sudah berdengung di udara.

Aku tidak tahu sedang memerangi siapa saat ini; antara optimisme yang semakin tidak masuk akal atau hanya sekedar mempertahankan ide bahwa sesekali waktu bisa menjadi sahabatku. Tidak ada yang pernah tahu mana yang bisa dijadikan pegangan. Tidak juga kamu.

Sekali lagi, dari ruang gelap yang tercipta di balik kelopak mata, aku mengucapkan 'selamat malam' non verbal yang rasanya terdengar jauh menyedihkan daripada malam-malam sebelumnya. Ternyata aku sungguh lelah."

- kutipan satir pengantar tidur berjudul 'Hilang'
Jogjakarta, 21 November 2015

Thursday, 21 April 2016

Pencitraan?

Sebenarnya apa yang salah dari “Pencitraan”?

Mengapa setiap dihadapkan dengan kata tersebut kesannya selalu negatif? Kesannya membentuk citra yang bukan dirinya sendiri, padahal belum tentu begitu. Bisa saja yang sedang seseorang tampilkan adalah sisi yang ingin ia nampakkan di depan seseorang, di suatu kondisi tertentu atau di tempat yang ia inginkan untuk mempertontonkan sisi ia yang lain --- yang mungkin saja berbeda dengan sisi yang ia perlihatkan di tempat lain. Bukan berarti menjadi sosok yang bukan dia, hanya saja menyembunyikan yang tidak ingin ia bagi dan menampilkan apa yang ingin ia perlihatkan.

Kalau ditelisik dari arti katanya sendiri, pencitraan berasal dari kata baku “citra” dengan penambahan awalan dan akhiran. Secara keseluruhan merupakan suatu kegiatan membentuk citra mental pribadi atau gambaran sesuatu. Sayangnya, sering salah arti. Seolah pencitraan adalah hal buruk di mana seseorang mengenakan topeng yang bukan dia, tetapi memakai topeng orang lain.

Beberapa waktu lalu saya terlibat pembicaraan mengenai ini dengan salah seorang teman. Katanya, saya seperti memiliki kepribadian lain, semacam alter ego. Karena yang dia lihat saya melalui tulisan tulisan saya berbeda sekali dengan ketika kami bertemu langsung. Hahaha saya tertawa saja.

Kadang saya juga merasa saya memiliki kepribadian ganda. Pasalnya, sikap saya berbeda-beda. Dan saya menyadarinya. Di media social saya begini terkadang begitu, di chat saya seperti itu, bertatap muka pun seperti apa, padahal saya seperti begini saja aslinya; ceriwis.

Saya sering bertanya pendapat orang lain, apakah saya terkesan pencitraan? Dan jawaban rata-rata mengatakan ‘tidak’. Wajar kata mereka. Yang dapat saya simpulkan adalah, saya bukan terkesan pencitraan tetapi lebih kepada ‘menempatkan diri’.

Semua orang berhak untuk melakukan pen citraan. Sah saja jika seseorang ingin mencitrakan dirinya sebagai orang baik, murah senyum, atau sebagai orang yang ketus, keras kepala, arogan, dan sebagainya. Boleh saja. Kenapa tidak/ asa yang ia citrakan yang ia citrakan adalah ia yang sebenarnya, bukan malah mencitrakan apa yang tak ada pada dirinya hingga meminjam topeng tetangga. Kenakan topeng milik sendiri saja, kasarnya.

Tapi bagi saya, yang lebih penting dari pencitraan itu sendiri adalah bagaimana saya menempatkan diri. Menempatkan diri di satu circle. Membagi porsi apa yang mau ditampakkan, apa yang mau disembunyikan sama pentingnya. Karena tidk bisa juga menampilkan semua gambling di depan umum. Karena itu, saya memilih apa yang ingin saya perlihatkan. Biar mereka yang dekat, dalam arti sebenarnya tahu baik, buruk, menggemaskan, menyebalkannya saya. Mereka yang sekedar tahu, biar saja tahu sebatas permukaan. Menerka-nerka ada apa saja di dasar dan menebak kira-kira berapa kedalaman. Jadi, intinya pandai-pandailah menempatkan diri. Bukan meng-cover diri menjadi orang lain. Jelas beda. Hanya saja, tampakkan yang mau diperlihatkan. Sembunyikan apa yang tidak mau dipertontonkan.

Demikian. Salam Kartini.



Ambon, 21 April 2016

Monday, 28 March 2016

malam!

Di luar hujan. Ada hati yang sudah hilang arah untuk sekedar mengadu. Ada lidah yang tak lagi bisa mengucap segala keluh kesah. Ada sekelumit pemikiran yang benar-benar rumit. Ada ego yang diteriakan banyak pihak. Sedang mereka tak kunjung bertanya pada pihak yang diserang, apa maunya dan bahagiakah dia?

Terus saja berkumpul dengan segenap pemikiran yang diciptakan sendiri. Begitu saja terus hingga jenuh mulai menggerogoti dia. Sadar tak? Dia mulai jauh lebih rapuh dari sebelumnya. Dia tak pernah benar, sama sekali tidak.

Bila setelah ini ada yang bertanya dia kemana. Bilang saja tak tahu. Karena memang kamu dan mereka tak akan pernah tahu. Dia menghilang. Mematikan dia yang pernah kalian kenal. Besok hadiri saja pemakamannya. Terima kasih pada malam yang sudah mulai pekat. Titip rindu dan maaf pada mereka yang tak sengaja pernah disakiti ataupun dikecewakan.


Ambon, 28 Maret 2015

Tuesday, 15 March 2016

Terjaga

Sedang ingin terjaga lebih lama dari biasanya
Entah memang menghindari mimpi
Atau mungkin sedang terlalu menikmati permainan semesta
Logika sedang meramu definisi nyata dari sebuah kata bahagia yang sederhana
Dan terhenti pada barisan memori yang berlarian saling mengejar di benak
Ini nyata.
Di salah satu sudut otak sedang ada tayangan detik demi detik yang telah berlalu
Menarik ujung bibir untuk mengukir senyum barang 5menit
Dan lalu membuat ujung mata tak sengaja menitikkan bulir sendu

Segelintir tanya hinggap begitu saja, tiba-tiba....
Pernah memiliki? Pernah kehilangan? Pernah jatuh cinta?
Ini yang kemudian menimbulkan pertentangan di benak
Bagaimana bisa jatuh cinta dan lalu merasa kehilangan padahal sebenarnya tidak pernah benar-benar memiliki?

Sunday, 13 March 2016

Bajingan Yang Ku Cemburui

Pernah dia aku titipi rindu
Tapi membuatku tertikam cemburu
Bersimbah darah amarah
Memasungku di lembah gundah
Dia membelai lembut rambutmu
Mengusap halus pipimu
Memeluk erat tubuhmu
Tanpa menyampaikan rindu titipanku
Angan inginku melumatnya
Menginjak menghancurkannya
Ujung jemari tak mampu menyentuhnya
Tertawa menyayat tulangku tanpa luka
Cemburuku oleh sesosok bajingan
Pengkhianat yang kubutuhkan

Ambon, 19 Desember 2015

Monday, 29 February 2016

Sanggupkah Kau Membuatku Jatuh Cinta Untuk Kedua Kalinya?

Kepada Kau,
Lelaki yang dulu pernah membuatku jatuh cinta sejatuh-jatuhnya
Lelaki yang dulu memberiku luka
Lelaki yang begitu pandai menaklukan hatiku

Kau adalah salah satu dari segala yang ingin ku tahu
Aku selalu menunggu waktu
Waktu dimana Tuhan memberiku kesempatan untuk berhadapan denganmu
Setelah lama kita tak saling mengisi waktu

Aku tak berkhayal perihal perilakumu yang romantis yang sering kali membuatku ingin tersenyum manis

Inginku sederhana, sungguh sangat sederhana
Mari kita habiskan waktu saling bicara
Bicara perihal apa saja
Sampai nanti kudapati beberapa perihal kau yang begitu rahasia

Datanglah, jangan memutar balik arah
Jalan menujuku hanya tinggal beberapa langkah

Datanglah, aku tahu kau kembali datang membawa beribu harapan palsu
Tak apa, jangan ragu
Lanjutkan langkahmu
Aku memang sedang menunggu kehadiranmu

Datanglah!
Akan ku sambut kau dengan ramah

Kau pernah membuatku sangat mencintai
Kau pernah membuatku merasa sangat dicintai
Lalu dengan sengaja membuatku terpaksa harus pergi
Pada hari itu aku menangis berhari-hari

Kau pernah membuat rinduku menjadi tak terbagi
Pada hari itu aku tak henti-henti mendoa untukmj
Setelah Ayah, namamu-lah yang kusebutkan disepertiga malam juga disetiap doaku

Kau pernah memberiku cinta yang seolah nyata
Seolah padaku kau tulus mencintai
Kau pernah begitu pandai berpura-pura
Membuatku merasa menjadi perempuan paling bahagia

Mari kita habiskan waktu berdua untuk saling bicara
Abaikan saja kisah kita yang dulu pernah ada
Karena kini untukku; Kau adalah lautan yang ingin kuselami
Selalu menjadi rumah yang dulu selalu ingin untuk aku tinggali

Mari kita habiskan waktu berdua untuk saling bicara
Sampai nanti kudapati apa yang ada dibenak seorang pengkhianat cinta
Yang pandai menaklukan hatiku

Mari kita lihat sanggupkah kau membuatku jatuh cinta untuk kedua kalinya seperti yang sudah terencana?

Pada langit yang berputar
Kutitipkan ribuan peluk
Untuk sebuah luap rasa
Yang lumat terkunyah hati

Pada hujan yang rintiknya berlabuh
Kutitipkan ribuan kecup
Untuk sebuah nama yang belum tereja
Tak kunjung sampai di ujung bibir

Dan padamu, kasih
Kutitipkan sebait degup
Untuk sebuah lagu tak berujung

Ku minta kau nyanyikan
Bersama dengan janji
Ketika semesta melebur dua kepingnya

Aku
Dan
Kamu...

Jika salah satu dari kita mati, sampai jumpa di kehidupan yang lain.

Ambon, 28 Januari 2015

Thursday, 11 February 2016

Jangan Menyerah Meski Aku Berada Pada Titik Terlelah

Sejak hari pertama aku mencintaimu
Aku memiliki sebuah mimpi; sebuah impian
Untukmu aku ingin menjadi seorang yang begitu pengertian
Aku pernah mendengar ada yang berkata bahwa;
Yang selalu menjadi idaman adalah ia yang penuh pengertian.

Bila atas kesalahanmu yang sudah-sudah kau mendapati aku begitu mudah melupakan
Disuatu waktu mungkin kau mendapati bahwa aku begitu sulit untuk sekedar memaafkan

Aku berharap agar kau sungguh pantang menyerah
Karena sesungguhnya jauh sebelum kau memintanya
Aku sudah lebih dulu memaafkanmu
Namun aku butuh tahu perihal upayamu
Aku butuh tahu perihal kesungguhanmu

Tahukah kau,
Besarnya upayamu adalah cerminan dari seberapa berharganya apa-apa yang sedang kau upayakan

Bila pada pertengkaran yang sudah-sudah kau mendapati aku begitu tabah
Bila yang sudah-sudah kau dapati aku begitu bersemangat memperbaiki jarak diantara kita
Disuatu waktu mungkin kau mendapati aku hanya berdiam diri saja
Atau lebih memilih untuk mundur beberapa langkah seolah-olah aku sudah tak ingin lagi untuk terus melangkah

Aku berharap agar kau sungguh pantang menyerah
Kau tentu tahu bahwa harus ada yang mengalah diantara salah satu
Kau dan aku jelas tahu bahwa mengalah sungguhlah perlu
Namun bila harus selalu aku, aku akan menjadi ragu padamu

Mengertilah, bahwa aku butuh bukti
Bukti bahwa aku tidak mencintai sendiri
Bukti bahwa kita benar-benar saling mencintai

Yang saling mencintai tidak akan pernah merasa berat hati untuk saling mengerti
Yang saling mencintai akan berupaya sebaik mungkin untuk saling memperbaiki
Yang saling mencintai akan melakukannya bersama
Bukan hanya sendiri saja

Bila disuatu waktu kau dapati aku tak seperti biasanya
Maka sebenarnya itu hanya berarti satu saja: Aku sedang berada dititik lelah

Aku hanya lelah, bukan ingin menyerah
Kita tak selalu baik-baik saja
Namun ada yang ingin ku pinta darimu
Bisakah agar kau jangan menyerah meski aku berada dititik lelah

Karena bila kau menyerah, itu juga berarti satu: Kau mematahkan hatiku