Wednesday, 27 July 2016
Tentang Perjuangan
Tuesday, 26 July 2016
48Things
- Terima kasih karena bersedia mengenalku, tanpa momen itu cerita kita tidak akan pernah ada.
- Terima kasih karena membuatku mampu melupakan masa laluku beserta luka-lukanya.
- Terima kasih karena pernah, sedang, atau masih mencintaiku.
- Terima kasih karena pernah mau belajar menaklukkan kerumitanku.
- Terima kasih karena pernah meluangkan waktumu untuk menemaniku.
- Terima kasih karena pernah mengakui bahwa kamu merindukanku.
- Terima kasih karena pernah ada di suatu masa untuk tujuan yang baik.
- Terima kasih karena pernah mau belajar memaklumi ketidaksempurnaanku.
- Terima kasih karena pernah menjanjikan kita.
- Terima kasih karena pernah melibatkanku ke dalam hal-hal hebat yang kau alami.
- Terima kasih karena pernah membuatku merasa beruntung, di saat ada orang lain yang dekat denganmu.
- Terima kasih karena pernah dengan bangganya memperkenalkanku di hadapan teman-teman dan keluargamu sebagai orang yang kau sayangi.
- Terima kasih karena masih mau mengobrol denganku di saat kita kehabisan topik untuk dibahas.
- Terima kasih karena masih mau mendengar cerita yang sudah kuulang berkali-kali.
- Terima kasih karena mau memaafkanku atas segala kesalahan yang kubuat.
- Terima kasih karena mau mendengarkanku.
- Terima kasih karena membiarkanku mencintaimu.
- Terima kasih karena tidak membiarkanku berjuang sendirian.
- Terima kasih karena menciptakan atmosfer tawa, di saat dunia sedang tidak berusaha melucu.
- Terima kasih karena berusaha untuk ada.
- Terima kasih karena menjatuhiku cinta yang baik.
- Terima kasih karena tetap peduli padaku di saat kita sedang bertengkar.
- Terima kasih karena membuatku merasa dibutuhkan.
- Terima kasih sudah mau bertahan di saat kondisi yang kita hadapi sangat menyulitkan kita.
- Terima kasih sudah mau menguatkan kerapuhanku dan tidak sedikitpun berniat meninggalkanku.
- Terima kasih telah menjadi inspirasi untuk semua tulisanku.
- Terima kasih telah menjadi pendengar yang baik.
- Terima kasih telah menjadi dirimu sendiri untuk kucintai.
- Terima kasih telah mengikutsertakanku ke dalam perjalanan bersamamu.
- Terima kasih telah mengijinkanku memilihmu, di saat ada orang yang jauh lebih baik dalam segala hal untuk kupilih dan aku berharap dirimu pun memilihku.
- Terima kasih telah bersedia menjadi bagian dari hidupku dan menjadikanku bagian dari hidupmu di saat ada orang yang jauh lebih pantas memasukinya.
- Terima kasih telah menawarkan kebaikan yang tak akan pernah bisa aku balas.
- Terima kasih telah membawa anugerah yang tak henti-hentinya membuatku bahagia.
- Terima kasih telah mendoakan kebahagiaanku.
- Terima kasih telah bersusah payah menerjemahkan dan memahami sisi lain diriku yang sulit dimengerti.
- Terima kasih telah mencintaiku sebagai diriku sendiri.
- Terima kasih untuk semua mimpi yang pernah kau bagi dan ingin kau wujudkan bersamaku.
- Terima kasih untuk segala pengalaman, kenangan, dan momen yang sengaja kauciptakan banyak-banyak untukku.
- Terima kasih untuk segala pemberian, hadiah, dan kejutan yang kauberikan khusus untukku.
- Terima kasih untuk setiap dukungan, nasihat, dan saran yang selalu membuatku jauh lebih tenang.
- Terima kasih untuk setiap ucapan selamat pagi, selamat malam, selamat tidur, selamat istirahat, dan perhatian-perhatian kecil lainnya.
- Terima kasih untuk setiap sentuhan, pelukan, dan genggaman yang sebentar dan lama.
- Terima kasih untuk cara-cara sederhana yang tidak bisa dilakukan orang lain, namun kau berhasil membuat bahagia.
- Terima kasih untuk janji yang benar-benar kau wujudkan.
- Terima kasih untuk air mata bahagia, debar di dada kiri, dan senyuman manis yang disebabkan olehmu.
- Terima kasih untuk masa lalu, masa sekarang, (mungkin) masa depan, dan segalanya yang telah terjadi. Aku belajar banyak darimu.
- Terima kasih untuk hal-hal lainnya yang tidak bisa kusebutkan yang pantas untuk mendapatkan terima kasih.
- Dan terakhir, terima kasih karena telah mengawali cerita ini dengan baik. Jangan biarkan berakhir.
Thursday, 21 July 2016
Makhluk Penuh Perasaan
Sunday, 17 July 2016
Ketika Lelakiku Datang Bertamu
Monday, 9 May 2016
Memiliki Tujuan
Tuesday, 3 May 2016
Tanggung Jawab, ya?
- Pada mulanya, kamu hanyalah entah siapa yang mempengaruhi hidupku barang setitik saja tidak pada akhirnya, hilang kamu setitik, berantakanlah aku berdepa-depa. Tanggung jawab, ya?
- Pada mulanya, apa-apa tentangmu rasanya bukan urusanku. Pada akhirnya, mengetahui segala tentangmu bahkan dilibatkan dalam urusanmu, aku mau. Tanggung jawab, ya?
- Pada mulanya, untuk sekedar peduli aku gengsi. Pada akhirnya, mengenyampingkan gengsi aku lalui, sebab menahan peduli padamu, -aku tak tahan lagi. Tanggung jawab, ya?
- Pada mulanya, ialah aku yang sama sekali tak pernah memikirkan tentangmu. Pada akhirnya, dalam kondisi tak berpikir pun, kamu muncul dalam benakku. Tanggung jawab, ya?
- Pada mulanya, waktu yang aku lalui bersamamu tidak prioritaskan, sama saja layaknya aku bersama yang lain juga. Pada akhirnya, melewati banyak waktu bersamamu, rasanya aku selalu perlu. Tanggung jawab, ya?
- Pada mulanya, bertemu hanya sekedar perlu. Pada akhirnya, apa apa yang berhubungan denganmu membuatku candu. Tanggung jawab, ya?
- Pada mulanya, beberapa bagian darimu bahkan luput dari pandanganku. Pada akhirnya, bagian darimu mana yang tak aku suka? Tanggung jawab, ya?
- Pada mulanya, kamu hilang tentu bukan perkaraku, sayang. Pada akhirnya, jika demikian jelas aku tak terbayang. Tanggung jawab, ya?
- Pada mulanya, memintamu untuk tetap bertahan dan berjalan beriringan, -tak pernah trpikirkan. Pada akhirnya, semua itu menjadi permohonanyang semoga kamu berbaik hati mengabulkan. Tanggung jawab, ya?
Bila Cintamu Tak Dihargai
tentu saja aku akan berkata bahwa;
Cinta tak ada batasnya
Sampai nanti Tuhan mengembalikan hatimu seperti sedia kala
Seperti saat kau belum mengenalnya
Bila hanya tak dicintai kau boleh tetap mencintai
Bila hanya tak diberi kau boleh tetap memberi
Namun bila kau tak dihargai,
Kau harus mengerti!
Kau harus tau diri!
Ia tak menghargai karena baginya kau tak bernilai lagi
Sungguh kau tak perlu lagi merendahkan diri
Hanya ada satu pilihan; Pantaskan diri!
Bila sudah pantaspun semoga kau mengerti
Semoga kau bersedia melihat dengan hati
Agar kau tak kembali terluka lagi
-InsaffinaGalihPratiwi
Jakarta, 15 September 2015
Thursday, 28 April 2016
S P A S I
'Hilang'
Thursday, 21 April 2016
Pencitraan?
Monday, 28 March 2016
malam!
Tuesday, 15 March 2016
Terjaga
Sedang ingin terjaga lebih lama dari biasanya
Entah memang menghindari mimpi
Atau mungkin sedang terlalu menikmati permainan semesta
Logika sedang meramu definisi nyata dari sebuah kata bahagia yang sederhana
Dan terhenti pada barisan memori yang berlarian saling mengejar di benak
Ini nyata.
Di salah satu sudut otak sedang ada tayangan detik demi detik yang telah berlalu
Menarik ujung bibir untuk mengukir senyum barang 5menit
Dan lalu membuat ujung mata tak sengaja menitikkan bulir sendu
Segelintir tanya hinggap begitu saja, tiba-tiba....
Pernah memiliki? Pernah kehilangan? Pernah jatuh cinta?
Ini yang kemudian menimbulkan pertentangan di benak
Bagaimana bisa jatuh cinta dan lalu merasa kehilangan padahal sebenarnya tidak pernah benar-benar memiliki?
Sunday, 13 March 2016
Bajingan Yang Ku Cemburui
Tapi membuatku tertikam cemburu
Bersimbah darah amarah
Memasungku di lembah gundah
Mengusap halus pipimu
Memeluk erat tubuhmu
Tanpa menyampaikan rindu titipanku
Menginjak menghancurkannya
Ujung jemari tak mampu menyentuhnya
Tertawa menyayat tulangku tanpa luka
Pengkhianat yang kubutuhkan
Monday, 29 February 2016
Sanggupkah Kau Membuatku Jatuh Cinta Untuk Kedua Kalinya?
Kepada Kau,
Lelaki yang dulu pernah membuatku jatuh cinta sejatuh-jatuhnya
Lelaki yang dulu memberiku luka
Lelaki yang begitu pandai menaklukan hatiku
Kau adalah salah satu dari segala yang ingin ku tahu
Aku selalu menunggu waktu
Waktu dimana Tuhan memberiku kesempatan untuk berhadapan denganmu
Setelah lama kita tak saling mengisi waktu
Aku tak berkhayal perihal perilakumu yang romantis yang sering kali membuatku ingin tersenyum manis
Inginku sederhana, sungguh sangat sederhana
Mari kita habiskan waktu saling bicara
Bicara perihal apa saja
Sampai nanti kudapati beberapa perihal kau yang begitu rahasia
Datanglah, jangan memutar balik arah
Jalan menujuku hanya tinggal beberapa langkah
Datanglah, aku tahu kau kembali datang membawa beribu harapan palsu
Tak apa, jangan ragu
Lanjutkan langkahmu
Aku memang sedang menunggu kehadiranmu
Datanglah!
Akan ku sambut kau dengan ramah
Kau pernah membuatku sangat mencintai
Kau pernah membuatku merasa sangat dicintai
Lalu dengan sengaja membuatku terpaksa harus pergi
Pada hari itu aku menangis berhari-hari
Kau pernah membuat rinduku menjadi tak terbagi
Pada hari itu aku tak henti-henti mendoa untukmj
Setelah Ayah, namamu-lah yang kusebutkan disepertiga malam juga disetiap doaku
Kau pernah memberiku cinta yang seolah nyata
Seolah padaku kau tulus mencintai
Kau pernah begitu pandai berpura-pura
Membuatku merasa menjadi perempuan paling bahagia
Mari kita habiskan waktu berdua untuk saling bicara
Abaikan saja kisah kita yang dulu pernah ada
Karena kini untukku; Kau adalah lautan yang ingin kuselami
Selalu menjadi rumah yang dulu selalu ingin untuk aku tinggali
Mari kita habiskan waktu berdua untuk saling bicara
Sampai nanti kudapati apa yang ada dibenak seorang pengkhianat cinta
Yang pandai menaklukan hatiku
Mari kita lihat sanggupkah kau membuatku jatuh cinta untuk kedua kalinya seperti yang sudah terencana?
Pada langit yang berputar
Kutitipkan ribuan peluk
Untuk sebuah luap rasa
Yang lumat terkunyah hati
Pada hujan yang rintiknya berlabuh
Kutitipkan ribuan kecup
Untuk sebuah nama yang belum tereja
Tak kunjung sampai di ujung bibir
Dan padamu, kasih
Kutitipkan sebait degup
Untuk sebuah lagu tak berujung
Ku minta kau nyanyikan
Bersama dengan janji
Ketika semesta melebur dua kepingnya
Aku
Dan
Kamu...
Jika salah satu dari kita mati, sampai jumpa di kehidupan yang lain.
Ambon, 28 Januari 2015
Thursday, 11 February 2016
Jangan Menyerah Meski Aku Berada Pada Titik Terlelah
Sejak hari pertama aku mencintaimu
Aku memiliki sebuah mimpi; sebuah impian
Untukmu aku ingin menjadi seorang yang begitu pengertian
Aku pernah mendengar ada yang berkata bahwa;
Yang selalu menjadi idaman adalah ia yang penuh pengertian.
Bila atas kesalahanmu yang sudah-sudah kau mendapati aku begitu mudah melupakan
Disuatu waktu mungkin kau mendapati bahwa aku begitu sulit untuk sekedar memaafkan
Aku berharap agar kau sungguh pantang menyerah
Karena sesungguhnya jauh sebelum kau memintanya
Aku sudah lebih dulu memaafkanmu
Namun aku butuh tahu perihal upayamu
Aku butuh tahu perihal kesungguhanmu
Tahukah kau,
Besarnya upayamu adalah cerminan dari seberapa berharganya apa-apa yang sedang kau upayakan
Bila pada pertengkaran yang sudah-sudah kau mendapati aku begitu tabah
Bila yang sudah-sudah kau dapati aku begitu bersemangat memperbaiki jarak diantara kita
Disuatu waktu mungkin kau mendapati aku hanya berdiam diri saja
Atau lebih memilih untuk mundur beberapa langkah seolah-olah aku sudah tak ingin lagi untuk terus melangkah
Aku berharap agar kau sungguh pantang menyerah
Kau tentu tahu bahwa harus ada yang mengalah diantara salah satu
Kau dan aku jelas tahu bahwa mengalah sungguhlah perlu
Namun bila harus selalu aku, aku akan menjadi ragu padamu
Mengertilah, bahwa aku butuh bukti
Bukti bahwa aku tidak mencintai sendiri
Bukti bahwa kita benar-benar saling mencintai
Yang saling mencintai tidak akan pernah merasa berat hati untuk saling mengerti
Yang saling mencintai akan berupaya sebaik mungkin untuk saling memperbaiki
Yang saling mencintai akan melakukannya bersama
Bukan hanya sendiri saja
Bila disuatu waktu kau dapati aku tak seperti biasanya
Maka sebenarnya itu hanya berarti satu saja: Aku sedang berada dititik lelah
Aku hanya lelah, bukan ingin menyerah
Kita tak selalu baik-baik saja
Namun ada yang ingin ku pinta darimu
Bisakah agar kau jangan menyerah meski aku berada dititik lelah
Karena bila kau menyerah, itu juga berarti satu: Kau mematahkan hatiku

