Wednesday, 30 September 2015

Mengeluh

Hari ini mungkin kita lelah, merasa lelah, dan mengeluh terlalu banyak.

Apa saja yang telah kita lakukan pada hari ini hingga berani mengeluh lelah. Sudahkah membandingkan kelelahan itu dengan lelah lelah yang lain?

Jangan pernah lupa untuk bersyukur, agar lelahmu tertimpa selalu dengan bahagia.

Jadi, cabiklah keegoisan itu, buktikan pada Tuhan bahwa kita tidak sedang bermain-main dengan hidup ini.

Ketika hujan turun, tidak perlu mengeluh. Bukankah salah sendiri tidak membawa payung? Di luar sana sangat banyak tempat yang kekeringan. Untuk apa mengeluh?

Jangan pernah lupa dengan berkat Tuhan, jangan pernah lupa mensyukurinya. Apalagi ketika hujan mulai deras turun. Jangan lupa menjaga diri. Jangan terlalu banyak mengeluh.

Jadi, cabiklah keegoisan itu, buktikan pada Tuhan bahwa kita tidak sedang bermain-main dengan hidup ini.

Jangan lupa, jangan lupa bawa kaos kaki cadangan.

Welcome October...

Ambon, 1 October 2015

Hati = Rumah

Setiap hati orang itu akan menjadi rumah bagi orang lain.

Kenapa?

Karena begitu sedikit orang yang belajar tentang kesabaran hingga hati itu menjadi sempit, mudah sesak, mudah berprasangka. Hati yang tidak dibangun sejak hari ini, tidak dipersiapkan untuk boleh dihuni orang lain, tidak dirawat demi menyambut kehadiran penghuni barunya.

Setiap hati orang itu akan menjadi rumah bagi orang lain. Namun, hanya sedikit sekali orang yang mempersiapkan hatinya untuk bisa menjadi rumah yang nyaman dan menentramkan.

Betapapun aku tak kau cemburui

Teruntuk kau,

Betapapun aku tak kau cemburui,
Ada hal-hal yang sampai pada hari ini tak berhenti kulakukan.

Betapapun aku tak kau cemburui,
Untukmu aku ingin selalu ada.
Bukan untuk mengemis cinta!
Anggap saja itu bukti bahwa diantara aku dan dia, akulah seorang yang memiliki kadar ketulusan paling tinggi.

Betapapun aku tak kau cemburui,
Kau akan melihatku melakukan hal yang sama
Tetap menjaga perasaanmu agar baik-baik saja
Anggap saja itu bukti
Bahwa di banding ia yang katamu lebih berarti,
Akulah yang paling pandai menjaga hatimu dari nyeri.

Betapapun aku tak kau cemburui,
Kau tak akan pernah bisa membohongi dirimu sendiri,
Bahwa kau menyadari aku sanggup mencintai sampai selama ini
Anggap saja itu bukti
Bahwa di antara aku dan dia, akulah yang setianya tak ada duanya.

Betapapun aku tak kau cemburui,
Bila kau dapati sampai pada hari ini aku masih sendiri,
Anggap saja itu bukti
Bahwa cintaku tidak murah terhadap semua!

Tuesday, 29 September 2015

Kebersamaan

Manusia tidak pernah kuasa menahan waktu. Mencoba mengabadikan kenangan tidak mampu mencegah perubahan. Segalanya tetap berjalan menurut kehendak Penguasa Kehidupan.

Pertemuan adalah menyenangkan. Hanya saja, perpisahan tidak pernah mudah untuk perasaan. Terkadang prasangka memenjara dengan harap pertemuan selanjutnya. Rindu terbit dan menyesakkan dada.

Apakah kau ingat? Kita pernah bersisian. Kita pernah berbincang panjang. Kita pernah mengurai segala kusut masa harapan. Kita pernah bercanda hingga larut berganti pagi. Kita pernah berjanji...bahwa jarak tidak akan mengubah apa-apa. Nyatanya, manusia tidak selalu sekuat itu.

Ya, kita bukan tipikal manusia yang menuntut komunikasi dan interaksi setiap hari. Kita selalu menikmati pertemuan seakan tidak pernah ada perpisahan. Hanya saja... kenyataannya, aku tidak selalu mampu.

Aku membutuhkan pertemuan tanpa jeda yang keterlaluan. Aku tidak menginginkan perpisahan yang menjadikan ketidakpastian pertemuan. Aku tidak selalu sekuat itu, untuk menjalani dan memendam segala hal sendirian. Pun, aku tidak sanggup mengutarakan apa-apa tanpa pertemuan.

Ya, aku hanya sedang rindu kebersamaan kita.

Monday, 28 September 2015

Argumen Kopi

AKU:
Saat kau memilih pergi, aku tak lagi mencium aroma kopi yang kau minum
Karena akan membuatku terjaga lebih lama lagi
Lalu mau tak mau aku terpaksa harus terima
Menerima kau yang sepertinya memenuhi kepala

Sejak kau pilih pergi, aku tak lagi menyeduh kopi
Karena aku tidak menkonsumsi kopi
Dan karena aromanya mengingatkanku padamu
Kau yang begitu gemar menghabiskan bercangkir-cangkir kopi
Hingga seringkali membuatku khawatir perihal lambungmu yang dibuatnya nyeri

Ketika kau memutuskan pergi, aku tak duduk di rumah kopi untuk menulis 
Karena sejak kau pilih pergi, aku menulis berkali-kali setiap hari seolah kata-kata enggan untuk mati

Saat kau ingin pergi, aku benar-benar tidak ingin mendengar tentang kopi.
Sungguh tidak sama sekali!


KAU:
Saat aku memilih pergi, aku tak sudi lagi menulis
Karena akan membuatku berceloteh sendiri
Lalu mau tidak mau aku akan menyeduh segelas kopi

Sejak aku pergi, aku tak sudi lagi menulis
Bukan aku membenci
Tapi karena tiap katanya selalu terbawa mimpi

Ketika aku pergi, aku tak sudi lagi menulis
Sebab tiap diksi semakin membawaku ke alam imaji
Membuatku terus berjuang melawan pikiranku sendiri

Saat aku pergi, aku tak sudi lagi menulis
Bersama segelas kopi hari-hariku tak lagi sepi
Sejak hatiku kau bawa pergi, Tuhan berjanji akan ada satu waktu nanti... Kau akan merindukan tulisanmu bersamaku dan segelas kopi


AKU:
Kenapa kau memilih pergi?
Bila kau jelas menyadari hatimu telah ku bawa pergi?

Kenapa kau pilih pergi lalu memilih hari hanya berdua bersama segelas kopi?
Kau tahu? Bahagiamu saat bersamaku, takkan terganti.


KAU:
Aku memilih pergi agar tiada dari kita yang tersakiti
Sebab hatiku kau bawa pergi, aku memilih menyepi bersama segelas kopi

Menahan rindu paling nyeri, karena ketulusanmulah aku masih sanggup berdiri, hingga detik ini. Dan benar adanya, bahagiaku saat bersamamu, takkan terganti.


AKU:
Kau memilih pergi agar diantara kita tak ada yang tersakiti?
Lalu apa yang kita dapati hari ini?
Bukankah berpisah justru membuat luka parah?

Bila kau diberi pilihan yang lebih baik dari apa yang kau pilih hari ini,
Kenapa kau lebih memilih menghabiskan segelas kopi sendiri?
Kenapa kau lebih memilih menahan rindu yang katamu paling nyeri?

Aku masih ditempat yang sama
Bila cintamu bukan pura-pura,
Buktikan dengan tindak nyata
Jangan diam ditempat saja!

Untuk pertama kali setelah kau pergi,
Segelas kopi akan kuseduhkan lagi untukmu nanti!


KAU:
Aku pergi bukan sebab tak cinta lagi
Namun aku takut kamu akan tersakiti
Sebab egoku kadang menguasai diri ini

Cintaku bukanlah cinta pura-pura
Karena hanya namamu yang selalu kusebut dalam doa
Biar malaikat mencatat dan semoga Tuhan mengabulkannya
Ini setiaku padamu dan semesta

Dan dalam puisi, semuanya akan abadi, hingga aku mati.


AKU:
Baiklah!
Mari kita lihat sejauh mana kita sanghup menjaga jarak!


KAU:
Bersama segelas kopi, kutulis puisi dini hari, untukmu di waktu pagi, dengan rindu yang abadi.

Tapi kita percaya, dalam jarak kedua ujung jalan kelak dan bertemu, mempertemukan dua ketabahan dengan rindu yang tersembunyi.


AKU:
Semoga Tuhan merestui
Semoga kita sanggup menjaga cinta agar tetap hidup sampai di ujung jalan nanti

Sebagai bukti,
Bahwa jarak bukan lawan yang hebat!
Yang sanggup membuat cinta begitu saja berpindah tempat.


KAU:
Doa tulus kita,
Lebih hangat dari sebuah peluk, lebih manis dari sebuah kecup.

Saat jarak menyiksa, hadiahi aku itu saja.


AKU:
Serupa puisi yang senja kemarin ku tulis
Jaketku takkan pernah lama terlihat rapuh
Ia akan selalu menjadi saksi perihal aku
Aku yang selalu menjadi perempuan pendoamu setiap hari.


KAU:
Serupa harum kopi di pagi hari
Doa-doamu terbit menyamangati jiwa ini
Kelak, akan kupastikan kepadamu
Wahai wanita pendoaku...

Akulah yang akan berdiri sejengkal di depanmu; menjadi imammu...


AKU:
Itulah hari dimana kaulah lelaki yang bertanggung jawab atas hidupku

Hari dimana aku akan melakukan ini dan itu atas ijinmu

Hari dimana aku akan menyeduhkan segelas kopi untuk kembali menemaniku menulis puisi

Hari dimana aku akan berbakti tanpa henti padamu


KAU:
Berimanlah...

Mengapa Aku Sulit Melupamu

Mencintaimu aku tidak setengah-setengah
Itulah mengapa melupamu tidak mudah
Ketika Tuhan menganugrahi aku rasa itu
Seketika itu juga aku mensyukuri hadirmu

Bagaimana bisa melupamu menjadi begitu mudah
Sementara aku sudah terbiasa atas perilaku-perilaku menggemaskan yang tak jarang kau lakukan
Meskipun tidak semua layak dimaklumi
Namun aku tidak merasa berat hati untuk mengerti
Memberimu penjelasan dengan hati-hati agar tak sedikitpun kau merasa digurui
Memberimu penjelasan bahwa ada yang harus diperbaiki

Bagaimana bisa melupamu menjadi begitu mudah
Sementara aku tidak merasa berat hati menerima keputusan-keputusanmu yang tak jarang membuatku harus berada di urutan yang kesekian
Sepenuhnya aku menyadari kau hidup tidak sendiri
Bukan hanya aku satu-satunya yang ingin kau buat bahagia
Dia yang lebih dulu ada, lebih dari sekedar pantas mendapatkan hal yang sama

Bagaimana bisa melupamu menjadi begitu mudah
Sementara aku tidak merasa berat hati bila harus menemanimu di titik terendah
Kau tahu? Aku takkan pernah sanggup bernafas lega meninggalkanmu bersusah payah sendiri saja

Mencintaimu berarti mencintai ibu dan keluargamu
Mencintaimu berarti mencintai mereka yang sungguh berarti untukmu
Bagaimana bisa melupamu menjadi begitu mudah
Sementara aku tak pernah sanggup berhenti mendoa untuk mereka yang bila aku sebutkan namanya membuatku mengingat perihal kau

Ketika aku mensyukuri hadirmu
Itu juga berarti satu: Aku mencintai seluruhmu!

Itulah mengapa, untuk melupamu dengan mudah: Aku tidak sedikitpun memiliki celah!

Saturday, 26 September 2015

Hati Selalu Tahu Apa Yang Diinginkan

Kau menemukanku tercengang akan sesuatu
Tak dapat ku bandingkan dengan apapun
Aku tahu, aku berharap
Jika demam ini berakhir dan aku akan selamat
Aku sadar ku sedikit bertingkah gila
Berusaha kuat, tetapi mencoba kabur
Menyerahkan hatiku, aku berdoa
Mungkin aku akan berhasil keluar, hidup.

Kau menemukanku tercerai berai bagai potongan puzzle
Bersinar bagai bintang namun berteriak di dalam hati
Kau membuatku bersinar bagaikan cahaya venus
Tetapi ketika kau menghilang dan membuatku menunggu
Dan setiap detik adalah penderitaan
Kau seolah tetesan heroin, yang sudah tak ada
Ku mencari cara menemukanmu
Aku tak bisa kabur darimu

Inilah cerita dongeng masa kini
Tak ada akhir bahagia
Tak ada angin untuk melayang
Tetapi aku tak dapat bayangkan hidup tanpa momen "breathless"
Yang menghancurkanku, sehancur-hancurnya

Tempat tidurpun terasa dingin dan kau tak kembali
Masa depan yang kita pegang tak jelas arahnya
Tapi aku tak hidup sampai kau memanggilku kembali
Aku bertaruh keanehan ini yang terjadi
Simpan saja kata-kata nasihatmu karena tak akan pernah ku simak
Mungkin kau benar tapi aku tak perduli
Berjuta alasan bagiku untuk menyerah, tetapi hati selalu tahu apa yang di inginkan

Ambon, 23 September 2015

Friday, 25 September 2015

Potret

Beberapa hari yang lalu, aku melihat potret instagram-mu bersamanya. Saling berdampingan. Entah momen apa yang kalian rekam dalam potret itu, rasanya aku ingin mengetahuinya. Dan hal yang membuatku mendadak tidak karuan adalah kedua bibir kalian saling bertukar senyum. Bahagia.
Padahal, beberapa bulan terakhir ini kita juga sebahagia itu.

Sudah lama sekali rasanya hari-hari berlalu. Aku telah lama memutuskan menjadikanmu duniaku, yang sesekali mengorbit pada dirimu. Lalu, potret itu berhasil membuatku muram. Bukan. Bukan karena dia berdampingan denganmu, tapi karena bukan aku yang lebih dulu mendampingimu.
Padahal, di waktu yang sama aku juga sangat ingin bersama-sama... Mendampingimu.

Hal yang membuatku sedih adalah ketika kamu memamerkan kebahagiaanmu dengannya, lalu mengabaikanku. Seakan-akan aku tercipta hanya untuk dilewati olehmu. Aku tidak peduli kamu bersama si ini atau si itu, tapi aku benci saat kamu bisa dengan seenaknya datang, membuatku jungkir balik, lantas pergi begitu saja.
Padahal, aku telah percaya kamu tidak akan sejahat itu padaku.

Pilihannya selalu ada di tanganmu, kasih. Tetap menyayangimu setelah dibuat berantakan adalah pilihanku. Aku berusaha untuk ada, sesibuk apapun aku. Lalu aku memaksa diri untuk tidak lagi menyapamu, karena merasa tidak benar-benar diinginkan olehmu.
Padahal, aku sedang sayang-sayangnya denganmu.

Ah lucu sekali rasanya, ketika melihat sebuah potret saja mampu membangkitkan kenangan dan rasa-rasa yang tertinggal. Namun jujur, di setiap detik, aku bersyukur, karena berkatmu, tulisan-tulisan ini ada. Mungkin kamu akan selalu melihatku sebagai perempuan lemah yang ingin dicintai.
Padahal, aku masih menyayangimu lebih dari orang lain pernah menyayangimu.

Dan aku tahu aku tak akan pernah baik-baik saja tanpamu.
Karena sebenarnya, aku rindu.

Thursday, 24 September 2015

untitled

Secangkir kopi panas yang menatapku, tatapannya dalam lebih dari gelapnya malam.
Aku terjaga tetapi masih tertidur, sambil berkata pada diriku sendiri, "aku akan baik-baik saja".
Nyatanya tidak!

Dan aku sadar ketidak baik-baiknya diri tak akan lebih buruk dari hari ini,
Termangu disini dan dia di rumahnya memikirkan apa yang ingin diutarakan.
Dapat aku bayangkan dia sedang di kamar berharap aku tak tahu apa yang sedang dia pikirkan, sementara dia bisa mendengar tangis meraung-raung dari mataku.

Seperti ditampar dengan handuk basah, membuat kesadaranku pulih dan aku tahu sudah beberapa waktu terakhir kau tak melihat senyum dan tawa dari bibirku seperti biasanya.
Aku sedang berada dalam sirkulasi penyangkalan sejak segala hal terjadi,
Tolong bawa aku kembali dari awal,  karena aku tak bisa membayangkan kehilangan dirimu, juga.

Tak dapat ku jelaskan semua ini maka aku menyimpannya sendiri, memakai baju terluka yang terlindungi dengan kemunafikan
Kau datang untuk mendekapku dan kau bersedih, sambil menatap mataku...

Aku tak bisa,
Kau tak pernah suka apa yang kau lihat dariku
Jika kau ada di kepalaku dan harus mendengar pembelaanku

Seperti, aku tak percaya semua ini terjadi lagi padaku
Dan dapatkah seseorang mematikan rasa sakit ini, agar aku tak perlu lagi mencarimu dengan berjuta permohonan yang tak pernah kau indahkan.

Dan seluruh tangisan meminta pertolongan yang selalu kau abaikan,  tak pernah kau perhatikan.
Tetapi aku kira cukup mudah untukmu meninggalkanku
Tapi percayalah, ini tak semudah bayanganmu untuk dilupakan.

Aku rela menukar apa saja untuk 1 menit lagi,
Tak dapatkah kau lihat, aku ingin menatapmu dan berbicara
Yah, aku masih duduk di sini memikirkan siapa yang akan membantuku, selagi aku menatap pintu kamar itu dan sadar bahwa kau tak akan pernah kembali.

Katamu, kau akan kembali, tetapi sekarang kau menghilang begitu saja.
Hanya sebuah tatapan kosong saat aku berdiri sendiri,
Aku tahu kau tak akan pernah kembali. Sial!

Aku mempunyai hati yang goblok, membuatku kedinginan
Dan mereka terus mengelupas
Segala janji yang aku ucapkan, terasa seperti aku telah menepatinya, tetapi selalu terasa salah
Aku tak ingin orang lain, tetapi terasa sulit untuk mengenalku saat aku tak mengenal siapa diriku
Dan aku tertolong saat aku terpuruk, aku tak berpikir jernih, saat itu kau menatap mataku dan berkata...

Aku melihat keburukanmu
Aku melihat rasa sakitmu
Ucapakan gundahmu
Akan ku rebut semuanya
Aku akan menjadi mercusuarmu
Aku akan membuat segalanya lebih baik
Saat ku lihat keburukanmu
Aku akan berdiri gagah berani
Dan mengalahkan ketakutanmu

Wednesday, 23 September 2015

Khawatir

Makhluk hidup yang kita sebut manusia, tidak terlepas dari rasa khawatir. Saya pun tidak jauh dari rasa khawatir itu. Entah itu kekhawatiran yang besar, entah itu bersifat kecil. Pada dasarnya, semua kita memiliki prasangka yang rendah terhadap sebuah situasi, mungkin dipengaruhi perasaan yang terbawa suasana. Atau mungkin karena alasan-alasan lain yang menyokong kekhawatiran kita.

Beberapa sosok di waktu terakhir ini sementara khawatir terhadap orang-orang terdekatnya. Rasa khawatir ini, dikatakan karena kepedulian dan rasa sayang yang begitu besar. Rasa khawatir itu baik adanya. Tetapi ada kalanya juga, tidak! Saya kembalikan sudut pandang baik buruknya kepada setiap pribadi sesuai dengan pemahamannya sendiri.

Khawatir akan perubahan. Perubahan yang saya tujukan merupakan kekhawatiran karena perubahan terhadap perasaan orang lain atau kebalikannya, orang lain terhadap saya. Rasa khawatir akan perubahan itu sama artinya dengan rasa takut ada sesuatu yang berubah.

Semisal memperjuangkan sesuatu atau seseorang yang ketika dilanda kekecewaan merubah perasaannya sehingga mempengaruhi keputusan-keputusan tertentu akan jalan hidupnya. Mengapa? Karena, ketika kecewa membuat seseorang mulai mempertanyakan perjuangannya layak dihargai dengan kekecewaan? Atau ketika kekecewaan membawa kesadaran akan beberapa penggalan pikiran  dari respon untuk kekecewaan tersebut.

Saat perasaan mulai berubah, maka rasa takut dan ragu-ragu mengalihkan nilai kepercayaan seseorang yang ditujukan ke orang-orang yang membuat kecewa. Kecewa, saya pikir membuat manusia takut akan perubahan perasaan, ragu-ragu karena telah dikecewakan, dan apakah rasa khawatir itu perlu dibesar-besarkan atau harus diabaikan?

Percayalah, sungguh tak mudah menjawabnya!

Ambon, 16 Sept 2015

Tuesday, 22 September 2015

Sejauh Panggilan

Aku hanya sejauh satu panggilan
Aku akan selalu ada untuk menyelamatkan hari-harimu
Aku tak mempunyai kekuatan super
Tetapi aku hanya sejauh satu panggilan

Panggil aku, jika kau membutuhkan teman
Aku hanya akan memberikan kau cinta
Aku ingin menggapaimu, aku akan melanggar semua batasan
Karena kau selalu tau, kemanapun kau pergi kau tak akan pernah sendiri

Marilah kemari bersamaku dan jangan takut aku akan membebaskanmu
Kau dan aku akan berhasil dimana saja kita berada
Untuk sekarang, kita hanya bisa seperti ini
Karena kau tahu, aku hanya ingin melihatmu tersenyum

Dan saat kau lemah, aku akan kuat untukmu
Aku akan bertahan untukmu
Sekarang jangan khawatir, semua ini takkan lama
Kasihku, dan saat kau merasa kehilangan harapan
Kau hanya perlu berlari ke pelukanku

Karena aku akan selalu ada untuk menyelamatkan hari-harimu yang buruk.

Cafe Mega, 22 September 2015

Friday, 11 September 2015

dimanakah kau berada?

Aku memberikanmu kunci saat pintu tak terbuka, akui itu.

Dapat kamu lihat, aku memberikanmu keyakinan, mengubah keraguanmu menjadi harapan, jangan kamu sangkal.

Sekarang aku hanya sendiri dan kebahagiaanku berubah muram

Katakan padaku, dimana kau berada ketika aku butuhkan?
Tak dapat ku temukan dimanapun
Ketika kau hancur, aku tak pernah meninggalkanmu

Aku selalu berada disampingmu
Karena itu, dimanakah dirimu saat ku butuhkan?

Aku memberikan perhatian padamu saat orang lain meminta
Aku mendekapmu dari belakang, apa katamu? Untuk membuatmu hangat

Tentu saja telah ku tunjukkan permainan yang dimainkan semua orang
Dan aku berlutut berdoa untukmu kepada Tuhan

Dimanakah dirimu saat ku butuhkan?
Karena aku (sangat) membutuhkanmu

Barista Coffe Shop, 11 September 2015

Friday, 4 September 2015

kamu bertanya lalu kamu berkata...

Kamu bertanya padaku,
"Saat kau mengangguk berarti kau menjawab iya, tetapi kau ingin mengatakan tidak.
Apa maksudmu?"

Kamu bertanya padaku,
"Saat kau tak ingin aku beranjak, tetapi kau menyuruhku pergi.
Apa maksudmu?"

Saat kau bertanya padaku,
"Apa maksudmu berkata kita kehabisan waktu?"

Saat kau bertanya padaku,
"Apa maksudmu?
Sebaiknya kau menentukan pikiranmu"

Kamu berkata padaku,
"Kau sangat ......apapun yang aku katakan.
Kau mencoba mengikuti arah, menetapkan hatimu
Tetapi terkadang aku tak tahu apakah kamu bahagia atau mengkritik."

Kamu berkata padaku,
"Aku tak mau kita berakhir walau tak tahu dari mana harus memulai
Awalnya kau ingin ke kiri dan kemudian kau berbelok ke kanan"

"Kita berargumen seharian, kemudian bercinta semalaman."

Kamu memohon padaku,
"Aku sungguh ingin tahu."

Kamu berkata kemudian padaku,
"Kau sangat kritis ketika ku pergi"
Lalu kamu berkata,
"Berusaha untuk memaklumi karena aku takkan pernah menang darimu."

Kau berkata padaku,
"Kau ingin mengatakan tujuanmu, tapi yang terdengar kau seperti menceramahiku."

Dan kamu selalu berkata padaku,
"Kau memilikiku sejak awal, aku takkan membiarkan semua ini berakhir."

Rumah Kopi MAC, 4 September 2015