Friday, 25 December 2015

Jatuh Cinta Itu Tidaklah Mudah

Jatuh cinta itu tidaklah mudah...

Kau harus mampu berdamai lebih dulu dengan masa lalu. Kau harus belajar menutup luka menganga yang berkali-kali terbuka hanya karena sebuah lagu, rintik hujan, atau bahkan kenangan yang sepintas lewat dikepala.

Setelah itu kau harus mengalahkan ketakutan-ketakutan untuk jatuh di lubang yang sama. Membuang jauh-jauh praduga-praduga di kepala perihal ketakutan akan mengalami kegagalan yang serupa. Menyampingkan rasa sakit di dalam hati yang padahal selalu menusuk-nusuk di setiap detiknya.

Lalu kau mulai berjudi dengan dirimu sendiri, tentang sebuah rasa dalam taruhan besar yang bernama jatuh cinta. Berspekulasi tentang resiko-resiko jika kembali membuka hati kepada orang yang tak kau kenal sebelumnya.

Lantas setelah semua hal-hal itu berhasil dilalui, kau mulai berani untuk membuka hati lagi.

Maka janganlah seenaknya pergi setelah berhasil membuat seorang kembali berani membuka hatinya. Perjuangannya tidak segampang kau memberi harapan lalu melangkah pergi. Jangan pernah menyentuh hati seseorang kalau pada akhirnya kau menyakitinya.

Feliz Navidad fellas

25 Desember 2015

Wednesday, 23 December 2015

Masih Menunggu "Senja Utama Yogya"



"Sawingalih Malam", terpampang di atas pintu gerbang; saya masih menunggu sejak jam 2 WIB siang ini di stasiun kereta sampai jam 7 malam nanti. Menanti tulisan di atas pintu gerbang itu berubah menjadi "Senja Utama Yogya", yang menghantarkan saya ke tempat yang belum pernah saya tapaki. Excited!

Ketika menanti dan menunggu adalah hal cukup membosankan, kali ini saya dengan senang hati melakukannya. Saya punya waktu sendiri untuk menulis sekelebat yang terlintas di benak saat saya duduk di atas koper abu-abu yang menemani perjalanan saya sejak jam 5 WIT pagi tadi di Ambon.

Mungkin handphone saya sudah kehabisan daya, tak lagi menggunakan arloji, saya kesepian tanpa memberi kabar ter-update perjalanan saya padamu. Tapi tak apa, saya masih bisa mengutarakan imajinasi saya melalui tulisan di agenda ini. Disamping saya ada tiang beton penyangga bangunan yang besar, dengan dihiasi pot bunga setinggi pinggang saya.

Untuk hari ini saja, saya begitu sabar menunggu. Bersungut pun hanya padamu yang masih dengan setia menunggu kabar dari saya yang berkelana jauh. Tugasmu sederhana, mendengar keluhan saya dan menuntun saya ke kota yang kau rindukan itu. Sungguh kegilaan ini hanya aku, kamu dan Tuhan yang tahu.

Disaat saya merasa susah disini, saya ingin mengutarakannya padamu. Entah mengapa sejak 8 bulan yang lalu, kau sudah menjadi tempat mengeluh, tempat mengutarakan isi pikiran saya, tempat saya kembali pulang kemana pun saya melarikan, saya tahu kemana saya harus pulang. Kar'na hanya kau yang mengerti, sangat mengerti pribadi saya sekarang.

Ini pilihan saya. Dan saya berharap kau dapat bergabung dan kita melakukan perjalanan gila ini bersama. Karena entahlah, denganmu segala kesulitan terasa lebih mudah untuk dihadapi. Seandainya kau ada disini. Karena saya masih menunggu waktu itu tiba. Walaupun saya merasa, saya bukanlah tempatmu kembali pulang.


Stasiun KA Senen
Jakarta, 19 Nov 2015

Menanti & Menunggu

Hari ini setelah sekian lama, saya berpapasan dengan begitu banyak manusia yang lalu lalang seharian ini, di stasiun kereta api. Kali pertama bagi saya berkelana seorang diri tanpa satu orang pun yang menemani. Mungkin sebagian orang tak ada yang tahu kemana tujuan saya, tetapi saya ingin tersesat, menemukan tempat baru yang belum pernah saya jamah. Dan saya, menyukai kegiatan berkelana saya hari ini.

Tujuan saya kali ini, menuju Yogyakarta. Tempat dimana kau selalu berujar, "Tempat yang ku rindukan", mungkin karena ada dia disana yang selalu kau kagumi.

Saya tak cemburu, sungguh! Kali ini saya sungguh tak cemburu. Penantianmu di stasiun kereta yang menghantarkanmu ketempatnya. Tempat kenangan kalian.

Perjalanan yang saya lakukan sekarang adalah agar saya sendiri merasakan pengorbananmu. Merasakan cerita-ceritamu sendiri melalui penantian di stasiun kereta ini. Dan saya pernah sepicik itu, berharap kau menanti juga pertemuan denganku, seperti kau menanti kereta api yang membawamu bertemu dengannya.

Saya tak mengenal siapapun yang saya lewati di stasiun ini. Tergesa-gesa, menuju panggilan terakhir kereta yang segera melaju di kegelapan. Atau ada yang menjemput datangnya kerabat, menanti dan menunggu lagi.

Pemandangan baru ini membawa saya ke demensi lain, dimana saya mempunyai waktu untuk saya sendiri tanpa ada interfensi dari orang-orang yang mengenal saya. Cukup membahagiakan menekmati kesendirian di antara hiruk pikuk.

Kepergian pun perlu penantian dan menunggu. Begitupun kedatangan. Ada proses menanti dan menunggu. Sekilas terlintas dibenak. Apa maksudnya?

Mungkin besok, ketika saya sampai ke Jogja. Tempat dimana kau selalu berujar, "beta seng susah disana", saya akan mengerti apa maksud menanti dan menunggu ini. Walaupun saya harus kembali bertemu wajah-wajah yang sering saya temui di kota asal. Mimik-mimik menilik, menonton dan mencibir. Dan pasti akan ada pertanyaan, "Nielma bikin apa di Jogja?" Seperti biasa, mulai menilai hidup saya lagi.

Hidup saya seperti film saja, ditonton dan dikritik. Apa daya? Setidaknya masih punya 8jam atau lebih waktu sendiri bersama panjangnya rel kereta api yang membawa saya ke kota dimana kau selalu ingin kembali untuk menemuinya. Bukan untuk menemui orang yang menjadi tempatmu singgah.

Saya hanya bisa fakum sebentar dari presepsi yang selalu terlintas di kepala saya bagai iklan shampoo di tivi. Saya hanya ingin menikmati 8jam lebih waktu saya sendiri di dalam gerbong kereta api, tanpa takut ada yang di-judge!

Stasiun Kereta Api Senen
Jakarta, 19 Nov 2015

Monday, 21 December 2015

Kaka Azraff - Bukan Hal Aku (feat. Sleeq) [Official Video]




Ingat, ku berani bersendiri
Ingat, sebelum ni ku gembira
Ingat, ku telah beri yang terbaik
Kalau itu bukan terbaik

Biar ku jalan dulu
Puas ku tunggu puas ku tunggu
Biar ku jalan dulu
Lu lambat macam mana
Itu bukan hal aku bukan hal aku itu bukan hal aku

Biar ku jalan dulu
Puas aku tunggu puas aku tunggu
Lu lambat macam mana
Itu bukan hal aku bukan hal aku

Ingat, masa engkau yang susah

Ingat, masa engkau yang susah
Ingat, ku tak setuju buta-buta
Ingat, ku telah beri yang terbaik

Kalau itu juga bukan terbaik
Biar ku jalan dulu
Puas ku tunggu puas ku tunggu
Biar ku jalan dulu
Lu lambat macam mana

Itu bukan hal aku bukan hal aku itu bukan hal aku
Biar ku jalan dulu
Puas aku tunggu puas aku tunggu
Lu lambat macam mana
Itu bukan hal aku bukan hal aku

Setuju ke tak setuju tak kisah
Kerja keras akhirnya bebas gempak

Hidup ini terlalu pendek
Jadi walaupun air kolam cetek
Tetap semua basah
Lari lari lari macam aaron dalam movie
Macam gods must be crazy
Macam macam boleh jadi

Gua lu, lu gua
Hutan tebal, warna hijau
Kaca mata lawan silau M. Daud Kilau
Biar ku jalan dulu
Lu lambat macam mana
Biar ku jalan dulu
Puas aku tunggu puas aku tunggu
Biar ku jalan dulu
Lu lambat macam mana
Itu bukan hal aku bukan hal aku
Itu bukan hal aku
Biar ku jalan dulu
Puas aku tunggu puas aku tunggu
Lu lambat macam mana
Itu bukan hal aku bukan hal aku

Teruskan perjalanan mu
Tiada yang bisa melarang mu
Puas kau tunggu tapi puas diri ku tanpa mu
Biar ku jalan dulu
Puas aku tunggu puas aku tunggu
Biqr ku jalan dulu
Lu lambat macam mana
Itu bukan hal aku bukan hal aku
Itu bukan hal aku

Thursday, 10 December 2015

ALUNAN KEMATIAN

Suara ketukan itu mengusik ketenangan.
Kupikir itu kamu, ternyata teguran kematian.

Suara nafas itu menghadirkan kenangan.
Kupikir itu rindu, ternyata panggilan kematian.

Suara-suara itu memaksa ku untuk mengusir kebahagiaan.
Dentingan lonceng terdengar seperti ancaman.
Keresahan semakin menjadi, seakan tak kenal ampun.
Jiwa ini terlanjur terpaut ada kenestapaan.
Memilih haru; raga ini jauh terjerumus kesesatan.

Jalan yang ditempuh menghadirkan ragu,
Kemana harus ku melangkah?
Apa di sana tempat ku berlari menjauh?
Benarkah lokasi ini aman untuk bersembunyi?

Kematian semakin terasa menjamah tubuh.
Malaikat maut duduk manis menunggu sambil bertanya, "Sudahkah kau siap ikut denganku?"
"Tidak." Terlontar cepat dari bibir ini.
"Aku belum siap bahkan tidak siap untuk ikut denganmu", lanjutku.
Tanpa berucap kata atau tanya, malaikat maut hanya menatap tajam sambil tersenyum sinis.
Dan aku pun penuh paksa bergegas kabur, sekencang-kencangnya ku berlari entah menuju kemana.
Sejelas-jelasnya aku teriak tapi tak ada satu pun yang mendengar.
Sampai aku sadar aku terjebak dalam belantara sukmaku sendiri yang penuh dengan gersang ladang keduniawian.

Tuntun aku, bantu aku, sadarkan aku.
Aku butuh siapa saja yang bisa membawa ku pergi dari kegelisahan dan kemunafikan yang menjebak jiwa.
Sampai aku kembali pada jalan Tuhan yang penuh dengan kebenaran.
Siapapun itu!?
Walau ku tahu hanya diri ini lah yang mampu menuntun keluar dari terjangan kematian yang mengancam.
Tapi munafiknya, aku butuh sosok itu.
Dan aku masih inginkan surga yang kekal.

Ambon, 11 Desember 2015

Thursday, 3 December 2015

Teruntuk, Para Pemimpin Bangsa(t)

Wahai para pemimpin bangsa,
Kami percayakan pada kalian asa,
Tapi kenapa kini kalian buat bangsa ini sengsara!?

Nurani kalian telah rusak,
Buat kami hancur berserak.
Namun, kami akan terus bergerak
Untuk buktikan kami bukanlah budak.

Kami tahu kalian punya hak.
Tapi, bukan untuk jadikan kami budak.
Kalian tahu kami pun punya hak.
Tapi, kenapa kalian merusak?

Dengar!
Bangsa yang makmur
Tak perlu pesawat tempur,
Hanya perlu pemimpin yang jujur

Bangsa yang kaya
Tak butuh mobil bergaya,
Hanya butuh pejabat yang serya.

Lihat!
Kami tersungkur,
Di bangsa yang subur.
'Ekspatriat' malah semakin makmur.

Kami merana,
Di bumi pertiwi yang penuh pesona.
Namun kalian tetap tak jawab tanya?

Kemana nurani kalian?
Siapa yang menyembunyikannya?
Apa yang buat hati kalian terkunci?
Mungkinkan asa kalian?

Awalnya janji manis tapi berujung pahit.
Mulanya berlaku bak malaikat tapi setelahnya bertindak layak iblis.
Itulah ciri khas kalian;
Wahai, para pemimpin bangsa(t)!

Ambon, 4 Desember 2015
Menjelang 9 Des'15

Tuesday, 1 December 2015

Papa, Putrimu Sedang Jatuh Cinta Sejatuh-Jatuhnya

Papa, hari ini akan kutuliskan sebuah puisi sebagai salah satu bukti bahwa aku sanggup memenuhi janji.
Janji bahwa kau akan bangga melihatku mewarisi ketangguhan yang kau miliki.

Papa, kujanjikan. Aku sanggup untuk kau andalkan.

Papa, aku menyadari bahwa ada nyeri yang lebih nyeri dari nyeri patah jati.
Aku tak hendak memberi bukti bahwa aku sanggup menjadi perempuan penantang patah hati.

Namun papa,
Aku ingin memberi bukti bahwa saat putrimu ada dititik terendah.
Bahwa saat roda putrimu berputar kebawah meski hanya sendiri saja, ia sanggup untuk melangkah.

Aku ingin membwri bukti bahwa saat duniaku dihujani kepedihan, aku sanggup untuk bertahan dengan atau tanpa pembelaan.
Percayalah papa, putrimu sungguh pantang menyerah.

Papa,
Aku pernah mencintai seorang lelaki.
Aku tak pernah mengira bahwa pada akhirnya aku akan tersakiti.
Rasanya sungguh sesak sekali, aku menangis tanpa henti.

Dia datang bagai malaikat.
Aku berharap suatu saat dia takkan pergi secepat kilat.
Pada hari itu dia berkata, "bukan cinta yang salah. Hanya kita yang terlambat mengenal."

Papa, dia datang sungguh diwaktu yang tepat.
Tepat disaat aku sendirian dan dia membuatku nyaman dan aman.
Dia berkata, 'ingin menemani untuk merapihkan duniaku yang berantakan'
Namun kau tahu papa; kepergiannya nanti akan membuat duniaku menjadi duakali lipat tak beraturan.

Papa tahukah kau;

Putrimu sedang jatuh cinta sejatuh-jatuhnya.
Logikanya dibuat buta oleh cinta.
Ia tak mampu melihat fakta yang ada didepan mata.
Hingga akhinya ia terjatuh begitu jauh.

Logikanya dibuat buta oleh cinta.
Ia tak mampu melihat arah.
Hingga sering sekali ia salah melangkah.

Namun papa, kau tak perlu gundah.
Meski berkali-kali aku terjatuh, hidupku takkan rapuh.

Meski aku harus menanggung beban atas langkahku yang salah.
Aku takkan menyerah untuk mmperbaiki langkah.
Papa, aku percaya Tuhan selalu bersama hambanya yang berupaya dengan segala juang dan usaha.

Papa, sungguh kau benar-benar tak perlu lagi gundah.
Kini aku tahu; untuk tahu apa tujuan hidupku.
Aku harus lebih dulu tahu untuk siapa aku hidup.
Papa, tenanglah! Mungkin sekarang putrimu sedang kehilangan arah.

Papa,
Putrimu pernah jatuh cinta sejatuh-jatuhnya.
Hatinya dibuat pilu oleh cinta hingga ia tak sanggup lagi bernafas lega.
Sesaknya membuat ia menjadi tak berdaya.
Ia kehilangan selera melakukan segala.
Ia sudah lupa dengan mimpi-mimpinya.

Namun papa, kau tak perlu gundah.
Tak peduli sebagaimanapun sesaknya dada.
Tak peduli sebagaimanapun langkahku yang dibuat tertatih.
Bila harus berjalan aku takkan diam.
Bila harus berlari aku takkan berhenti.

Sungguh papa, kau benar-benar tak perlu gundah.
Kini aku tahu; aku melakukan segala yang terbaik tidak untuk diriku sendiri.
Serupa dengan mama yang begitu pandai mengimbangimu.
Serupa dengan mama yang begitu pandai menjadi ilmuwan terbaikku.
Papa aku ingin menjadi pasangan hidup yang seperti mama.
Papa aku ingin menjadi mama yang seperti mama.

Tenanglah papa,
Kini sebagaimanapun bebanku yang berat, putrimu mungkin akan kehilangan semangat.
Tetapi itu takkan berlangsung lama.

Papa
Putrimu pernah jatuh cinta sejatuh-jatuhnya.
Dihantam luka yang bertubi-tubi pleh cinta.
Hingga lukaku menganga, sakitnya sungguh memenuhi kepala.
Aku merasa akan mati saja.

Namun papa, kau tak perlu gundah.
Aku sanggup menghadapinya.
Luka yang bertubi-tubi takkan sanggup membeli ketangguhan yang kau warisi.
Bila bukan karena kehendak-Nya, luka yang menganga takkan sanggup membeli nyawa.

Papa,
Putrimu pernah jatuh cinta sejatuh-jatuhnya.
Jiwanya dibuat tersiksa oleh cinta.
Saat cinta tak lagi ingin tinggal lebih lama.
Duniaku menjadi kelabu, tak lagi memiliki warna.

Namun papa, kau tak perlu gundah.
Aku mulai menemukan celah
Aku takkan pernah kehilangan kepercayaan.
Bahwa saat kupilih Tuhan sebagai tempat untukku berteduh.
Takkan ada yang sanggup membuat hidupku lumpuh.

Papa,
Putrimu pernah jatuh cinta sejatuh-jatuhnya.
Namun lihatlah papa, aku berhasil menyembunyikan semuanya.
Tak ada yang tahu bahwa aku diam-diam menahan luka meski saat sendiri terkadang aku kehilangan kendali.

Papa, putrimu pernah jatuh cinta sejatuh-jatuhnya.
Namun lihatlah papa, meski hanya sendiri saja aku mencoba agar sanggup menghadapinya.
Lalu mencoba memperbaiki semua seperti sediakala.

Papa, kumohon agar kau jangan lagi gundah.
Agar kau jangan lagi mengkhawatirkan aku dengan terlalu, karena Tuhan selalu ada bersama putrimu.
Percayalah papa, Tuhan akan menjaganya untukmu.

Ambon, 1 Desember 2015