Hari ini setelah sekian lama, saya berpapasan dengan begitu banyak manusia yang lalu lalang seharian ini, di stasiun kereta api. Kali pertama bagi saya berkelana seorang diri tanpa satu orang pun yang menemani. Mungkin sebagian orang tak ada yang tahu kemana tujuan saya, tetapi saya ingin tersesat, menemukan tempat baru yang belum pernah saya jamah. Dan saya, menyukai kegiatan berkelana saya hari ini.
Tujuan saya kali ini, menuju Yogyakarta. Tempat dimana kau selalu berujar, "Tempat yang ku rindukan", mungkin karena ada dia disana yang selalu kau kagumi.
Saya tak cemburu, sungguh! Kali ini saya sungguh tak cemburu. Penantianmu di stasiun kereta yang menghantarkanmu ketempatnya. Tempat kenangan kalian.
Perjalanan yang saya lakukan sekarang adalah agar saya sendiri merasakan pengorbananmu. Merasakan cerita-ceritamu sendiri melalui penantian di stasiun kereta ini. Dan saya pernah sepicik itu, berharap kau menanti juga pertemuan denganku, seperti kau menanti kereta api yang membawamu bertemu dengannya.
Saya tak mengenal siapapun yang saya lewati di stasiun ini. Tergesa-gesa, menuju panggilan terakhir kereta yang segera melaju di kegelapan. Atau ada yang menjemput datangnya kerabat, menanti dan menunggu lagi.
Pemandangan baru ini membawa saya ke demensi lain, dimana saya mempunyai waktu untuk saya sendiri tanpa ada interfensi dari orang-orang yang mengenal saya. Cukup membahagiakan menekmati kesendirian di antara hiruk pikuk.
Kepergian pun perlu penantian dan menunggu. Begitupun kedatangan. Ada proses menanti dan menunggu. Sekilas terlintas dibenak. Apa maksudnya?
Mungkin besok, ketika saya sampai ke Jogja. Tempat dimana kau selalu berujar, "beta seng susah disana", saya akan mengerti apa maksud menanti dan menunggu ini. Walaupun saya harus kembali bertemu wajah-wajah yang sering saya temui di kota asal. Mimik-mimik menilik, menonton dan mencibir. Dan pasti akan ada pertanyaan, "Nielma bikin apa di Jogja?" Seperti biasa, mulai menilai hidup saya lagi.
Hidup saya seperti film saja, ditonton dan dikritik. Apa daya? Setidaknya masih punya 8jam atau lebih waktu sendiri bersama panjangnya rel kereta api yang membawa saya ke kota dimana kau selalu ingin kembali untuk menemuinya. Bukan untuk menemui orang yang menjadi tempatmu singgah.
Saya hanya bisa fakum sebentar dari presepsi yang selalu terlintas di kepala saya bagai iklan shampoo di tivi. Saya hanya ingin menikmati 8jam lebih waktu saya sendiri di dalam gerbong kereta api, tanpa takut ada yang di-judge!
Stasiun Kereta Api Senen
Jakarta, 19 Nov 2015
No comments:
Post a Comment