"Sawingalih Malam", terpampang di atas pintu gerbang; saya masih menunggu sejak jam 2 WIB siang ini di stasiun kereta sampai jam 7 malam nanti. Menanti tulisan di atas pintu gerbang itu berubah menjadi "Senja Utama Yogya", yang menghantarkan saya ke tempat yang belum pernah saya tapaki. Excited!
Ketika menanti dan menunggu adalah hal cukup membosankan, kali ini saya dengan senang hati melakukannya. Saya punya waktu sendiri untuk menulis sekelebat yang terlintas di benak saat saya duduk di atas koper abu-abu yang menemani perjalanan saya sejak jam 5 WIT pagi tadi di Ambon.
Mungkin handphone saya sudah kehabisan daya, tak lagi menggunakan arloji, saya kesepian tanpa memberi kabar ter-update perjalanan saya padamu. Tapi tak apa, saya masih bisa mengutarakan imajinasi saya melalui tulisan di agenda ini. Disamping saya ada tiang beton penyangga bangunan yang besar, dengan dihiasi pot bunga setinggi pinggang saya.
Untuk hari ini saja, saya begitu sabar menunggu. Bersungut pun hanya padamu yang masih dengan setia menunggu kabar dari saya yang berkelana jauh. Tugasmu sederhana, mendengar keluhan saya dan menuntun saya ke kota yang kau rindukan itu. Sungguh kegilaan ini hanya aku, kamu dan Tuhan yang tahu.
Disaat saya merasa susah disini, saya ingin mengutarakannya padamu. Entah mengapa sejak 8 bulan yang lalu, kau sudah menjadi tempat mengeluh, tempat mengutarakan isi pikiran saya, tempat saya kembali pulang kemana pun saya melarikan, saya tahu kemana saya harus pulang. Kar'na hanya kau yang mengerti, sangat mengerti pribadi saya sekarang.
Ini pilihan saya. Dan saya berharap kau dapat bergabung dan kita melakukan perjalanan gila ini bersama. Karena entahlah, denganmu segala kesulitan terasa lebih mudah untuk dihadapi. Seandainya kau ada disini. Karena saya masih menunggu waktu itu tiba. Walaupun saya merasa, saya bukanlah tempatmu kembali pulang.
Stasiun KA Senen
Jakarta, 19 Nov 2015

No comments:
Post a Comment