Friday, 12 May 2017

Yang Tertinggal Setelah Kepergian

Beberapa hari belakangan ini, di tempatku hampir setiap hari hujan deras. Di tempatmu bagaimana?
Hujan di sini hanya berlangsung sebentar saja, tetapi deras, dan membawa kenangan-kenangan yang sempat terlupakan. 
Sejak awal, aku paham bahwa cepat atau lambat, kita akan mengalami apa yang tengah terjadi hari ini. Sejak awal, aku paham bahwa seharusnya tidak membiarkan hati terlalu dalam. Tetapi siapa sangka? 
Ah, mungkin hanya karena terbiasa saja, awalnya. Lalu lama-lama ada yang mulai terasa berbeda dari sebelumnya. Kita pernah merasa saling menemukan tempat paling nyaman. Seiring waktu dan ketidakjelasan yang tidak bisa kita perjelas, ada yang mulai perlahan bergerak mundur, mungkin sejak lama, hanya aku saja yang baru sadar. Ada pula yang mulai merasa kehilangan, mungkin hanya aku saja yang merasakan, karena bagaimana perasaanmu yang sebenarnya, aku tidak tahu. 
Ternyata hatiku sudah sejak lama jatuh padamu, tetapi aku tidak menyadarinya. Beberapa kali berusaha menghindar karena aku tahu ketidakmungkinan itu, sialnya, hari ini aku merasa ada yang hilang. 
Kamu menyukai aku yang begitu dan begini, kamu tidak menyukai aku yang begitu dan begini, pun sebaliknya. Kita cukup berlapang dada menerima satu sama lain kala itu. Kala itu, ya… 
Aku mulai terbiasa mengikuti pola dalam hal-hal yang kamu sukai dan tidak, hingga akhirnya kini, ketika kamu tidak lagi di sini, aku masih tetap melakukan pola yang sama; Pola yang dulu tidak begitu kupikirkan, tetapi diam-diam mulai aku lakukan.
Yang tertinggal setelah kamu pergi adalah cerita dan pola-pola yang mungkin dengan tidak atau sengaja pernah kita lakukan untuk saling menenangkan.


Dan pada akhirnya, akan selalu ada yang lagi-lagi harus mengelus dada karena kecewa dengan perasaannya sendiri. Aku, misalnya.