Papa, hari ini akan kutuliskan sebuah puisi sebagai salah satu bukti bahwa aku sanggup memenuhi janji.
Janji bahwa kau akan bangga melihatku mewarisi ketangguhan yang kau miliki.
Papa, kujanjikan. Aku sanggup untuk kau andalkan.
Papa, aku menyadari bahwa ada nyeri yang lebih nyeri dari nyeri patah jati.
Aku tak hendak memberi bukti bahwa aku sanggup menjadi perempuan penantang patah hati.
Namun papa,
Aku ingin memberi bukti bahwa saat putrimu ada dititik terendah.
Bahwa saat roda putrimu berputar kebawah meski hanya sendiri saja, ia sanggup untuk melangkah.
Aku ingin membwri bukti bahwa saat duniaku dihujani kepedihan, aku sanggup untuk bertahan dengan atau tanpa pembelaan.
Percayalah papa, putrimu sungguh pantang menyerah.
Papa,
Aku pernah mencintai seorang lelaki.
Aku tak pernah mengira bahwa pada akhirnya aku akan tersakiti.
Rasanya sungguh sesak sekali, aku menangis tanpa henti.
Dia datang bagai malaikat.
Aku berharap suatu saat dia takkan pergi secepat kilat.
Pada hari itu dia berkata, "bukan cinta yang salah. Hanya kita yang terlambat mengenal."
Papa, dia datang sungguh diwaktu yang tepat.
Tepat disaat aku sendirian dan dia membuatku nyaman dan aman.
Dia berkata, 'ingin menemani untuk merapihkan duniaku yang berantakan'
Namun kau tahu papa; kepergiannya nanti akan membuat duniaku menjadi duakali lipat tak beraturan.
Papa tahukah kau;
Putrimu sedang jatuh cinta sejatuh-jatuhnya.
Logikanya dibuat buta oleh cinta.
Ia tak mampu melihat fakta yang ada didepan mata.
Hingga akhinya ia terjatuh begitu jauh.
Logikanya dibuat buta oleh cinta.
Ia tak mampu melihat arah.
Hingga sering sekali ia salah melangkah.
Namun papa, kau tak perlu gundah.
Meski berkali-kali aku terjatuh, hidupku takkan rapuh.
Meski aku harus menanggung beban atas langkahku yang salah.
Aku takkan menyerah untuk mmperbaiki langkah.
Papa, aku percaya Tuhan selalu bersama hambanya yang berupaya dengan segala juang dan usaha.
Papa, sungguh kau benar-benar tak perlu lagi gundah.
Kini aku tahu; untuk tahu apa tujuan hidupku.
Aku harus lebih dulu tahu untuk siapa aku hidup.
Papa, tenanglah! Mungkin sekarang putrimu sedang kehilangan arah.
Papa,
Putrimu pernah jatuh cinta sejatuh-jatuhnya.
Hatinya dibuat pilu oleh cinta hingga ia tak sanggup lagi bernafas lega.
Sesaknya membuat ia menjadi tak berdaya.
Ia kehilangan selera melakukan segala.
Ia sudah lupa dengan mimpi-mimpinya.
Namun papa, kau tak perlu gundah.
Tak peduli sebagaimanapun sesaknya dada.
Tak peduli sebagaimanapun langkahku yang dibuat tertatih.
Bila harus berjalan aku takkan diam.
Bila harus berlari aku takkan berhenti.
Sungguh papa, kau benar-benar tak perlu gundah.
Kini aku tahu; aku melakukan segala yang terbaik tidak untuk diriku sendiri.
Serupa dengan mama yang begitu pandai mengimbangimu.
Serupa dengan mama yang begitu pandai menjadi ilmuwan terbaikku.
Papa aku ingin menjadi pasangan hidup yang seperti mama.
Papa aku ingin menjadi mama yang seperti mama.
Tenanglah papa,
Kini sebagaimanapun bebanku yang berat, putrimu mungkin akan kehilangan semangat.
Tetapi itu takkan berlangsung lama.
Papa
Putrimu pernah jatuh cinta sejatuh-jatuhnya.
Dihantam luka yang bertubi-tubi pleh cinta.
Hingga lukaku menganga, sakitnya sungguh memenuhi kepala.
Aku merasa akan mati saja.
Namun papa, kau tak perlu gundah.
Aku sanggup menghadapinya.
Luka yang bertubi-tubi takkan sanggup membeli ketangguhan yang kau warisi.
Bila bukan karena kehendak-Nya, luka yang menganga takkan sanggup membeli nyawa.
Papa,
Putrimu pernah jatuh cinta sejatuh-jatuhnya.
Jiwanya dibuat tersiksa oleh cinta.
Saat cinta tak lagi ingin tinggal lebih lama.
Duniaku menjadi kelabu, tak lagi memiliki warna.
Namun papa, kau tak perlu gundah.
Aku mulai menemukan celah
Aku takkan pernah kehilangan kepercayaan.
Bahwa saat kupilih Tuhan sebagai tempat untukku berteduh.
Takkan ada yang sanggup membuat hidupku lumpuh.
Papa,
Putrimu pernah jatuh cinta sejatuh-jatuhnya.
Namun lihatlah papa, aku berhasil menyembunyikan semuanya.
Tak ada yang tahu bahwa aku diam-diam menahan luka meski saat sendiri terkadang aku kehilangan kendali.
Papa, putrimu pernah jatuh cinta sejatuh-jatuhnya.
Namun lihatlah papa, meski hanya sendiri saja aku mencoba agar sanggup menghadapinya.
Lalu mencoba memperbaiki semua seperti sediakala.
Papa, kumohon agar kau jangan lagi gundah.
Agar kau jangan lagi mengkhawatirkan aku dengan terlalu, karena Tuhan selalu ada bersama putrimu.
Percayalah papa, Tuhan akan menjaganya untukmu.
Ambon, 1 Desember 2015