Thursday, 15 October 2015

Sweet Sacrifice

Saya berpegang pada Iman saya belakangan ini. Pengorbanan mungkin terlalu berat untuk beberapa orang, tetapi jika menyerahkan sesuatu yang paling dikasihi untuk menyelamatkannya dari murka-Mu Tuhan, saya rela.

1 Raja-Raja 3:16-28, dengan Judul "Hikmat Salomo pada waktu memberi keputusan"

Saya terlalu percaya dan beriman bahwa Allah Bapa disurga yang Kasih-Nya melebihi segala cinta di dunia, Abba mempunyai hikmat yang jauh melampaui hikmat Salomo.

Manusia bisa melakukan hal yang tak terbayangkan demi menguntungkan diri mereka sendiri. Manusia terkadang melakukan hal-hal untuk memuaskan keegoisan dan kebutuhan diri sendiri. Dalam proses itu kita mendatangkan rasa sakit pada orang lain. Kita akan tetap melakukannya sekalipun tindakan itu menyakitkan dan merugikan orang lain.

Saya diperhadapkan dengan kondisi dimana saya harus menempatkan diri seperti salah satu dari perempuan sundal yang ada didalam cerita tersebut. Saya harus memperebutkan orang yang saya kasihi dengan perempuan lain. Hikmat Salomo yang datangnya dari Allah maka dengan keyakinan yang begitu besar kepada Allah yang saya sembah, Bapa berhikmat jauh dari apa yang Salomo tunjukkan.

Saat saya merasa orang yang saya kasihi selalu bimbang dan tertekan bagaimana dia membagi dirinya dengan perempuan itu, disitulah saya merasa saya harus berkorban. Saya memilih memberikannya kepada perempuan itu daripada orang yang saya kasihi harus membagi dirinya.

Pada ayatnya yang ke 26, "Maka kata perempuan yang empunya anak yang hidup itu kepada raja, sebab timbullah belas kasihannya terhadap anaknya itu, katanya: "Ya tuanku! Berikanlah kepadanya bayi yang hidup itu, jangan sekali-kali membunuh dia." Tetapi yang lain itu berkata: "Supaya jangan untukku ataupun untukmu, penggallah!"

Sebesar itulah rasa sayang, cinta dan kasih yang dapat saya tunjukkan. Mungkin benar, perempuan itu lebih membutuhkan dia daripada saya. Dan saya beriman bahwa Tuhan akan melapangkan hati saya merelakan sesuatu yang tidak dapat dipaksakan.

Kepada kau, perempuan yang kuserahkan orang yang paling saya kasihi, ingatlah hal ini:
Janganlah kau kecewakan dia (lagi), hatinya rapuh, dia hanya inginkan hadirmu. Janganlah kau membuatnya harus mengemis kasih sayang, karena saya mengenalnya lebih daripada kau mengenalnya. Kasihilah kekurangannya. Hargailah seluruh pengorbanannya. Sayangi dia melebihi apa yang dapat saya berikan. Cintai perasaannya padamu. Jadilah sahabat, saudara, bahkan posisikan dirimu seperti ibunya, yang dapat dia peluk saat dia membutuhkan perhatian. Jangan pernah bosan mendengar ceritanya, selami pikirannya. Karena hanya itu yang dia butuhkan. Hanya itu yang dia inginkan, hadirmu tanpa alpa.

Saya doakan yang terbaik. Berbahagialah bersama orang yang saya kasihi.

Ambon, 15 Oktober 2015

No comments:

Post a Comment