Monday, 9 May 2016

Memiliki Tujuan

Betapa pentingnya memiliki tujuan.

bila kita telah menetapkan tujuan, maka kita secara langsung telah menetapkan jiwa kita untuk ikut berjuan bersamanya. Tanpa tujuan, segalanya bisa berjalan, namun kadang tanpa jiwa.

Kita kadang berhenti di tengah jalan, beruntung bila sadar-maka kita akan bertanya-tanya tentang apa yang kita lakukan, lalu kita tersadar dan kembali ke awal. Lalu bagaimana bila tidak sadar?

Tidak mungkin, kita akan sadar pada waktunya. Hanya saja kita tidak tahu, ketika kita disadarkan mengenai tujuan hidup, entah waktu telah terlambat atau belum.

Gampang, tanpa tujuan pun kita bisa hidup. Memang, layaknya air yang mengalir. Air yang mengalir, dalam jalannya pasti menemui posisi yang rendah. Namun adakalanya, air ini akan berhenti karena telah tiba pada tempatnya. Lalu apa yang terjadi? Maka, air akan diam, menggenang. Bila tak segera bergerak, maka air itu akan "membusuk".

Begitupun hidup yang dibiarkan begitu saja berjalan. Memang nyaman karena berkutat pada standar yang rendah dan mudah. Hingga suatu kali, kita telah mencapai posisi puas, maka kita akan berhenti. Semakin lama, maka kita akan menemui jenuh.

Hingga sirkulasinya akan menemui pada pertanyaan hidup, "apalagi yang harus kulakukan?", "apa yang sebenarnya harus kulakukan?", "apa hal terbaik yang bisa kukerjakan?" dan pertanyaan hidup lainnya.

Namun, waktu tak dapat berputar sirkular. Waktu akan senantiasa lurus, berjalan, hingga menemui titik henti. Maka, kadangkala kesadaran akan hidup akan terasa sangat terlambat datangnya karena umur terlanjur menua dan kemampuan tak lagi menunjang keinginan dan harapan.

Maka, itulah pentingnya memiliki tujuan. Karena dengan waktu, kita senantiasa berkejaran.


Ambon, 9 Mei 2016

Tuesday, 3 May 2016

Tanggung Jawab, ya?

  • Pada mulanya, kamu hanyalah entah siapa yang mempengaruhi hidupku barang setitik saja tidak pada akhirnya, hilang kamu setitik, berantakanlah aku berdepa-depa. Tanggung jawab, ya?
  • Pada mulanya, apa-apa tentangmu rasanya bukan urusanku. Pada akhirnya, mengetahui segala tentangmu bahkan dilibatkan dalam urusanmu, aku mau. Tanggung jawab, ya?
  • Pada mulanya, untuk sekedar peduli aku gengsi. Pada akhirnya, mengenyampingkan gengsi aku lalui, sebab menahan peduli padamu, -aku tak tahan lagi. Tanggung jawab, ya?
  • Pada mulanya, ialah aku yang sama sekali tak pernah memikirkan tentangmu. Pada akhirnya, dalam kondisi tak berpikir pun, kamu muncul dalam benakku. Tanggung jawab, ya?
  • Pada mulanya, waktu yang aku lalui bersamamu tidak prioritaskan, sama saja layaknya aku bersama yang lain juga. Pada akhirnya, melewati banyak waktu bersamamu, rasanya aku selalu perlu. Tanggung jawab, ya?
  • Pada mulanya, bertemu hanya sekedar perlu. Pada akhirnya, apa apa yang berhubungan denganmu membuatku candu. Tanggung jawab, ya?
  • Pada mulanya, beberapa bagian darimu bahkan luput dari pandanganku. Pada akhirnya, bagian darimu mana yang tak aku suka? Tanggung jawab, ya?
  • Pada mulanya, kamu hilang tentu bukan perkaraku, sayang. Pada akhirnya, jika demikian jelas aku tak terbayang. Tanggung jawab, ya?
  • Pada mulanya, memintamu untuk tetap bertahan dan berjalan beriringan, -tak pernah trpikirkan. Pada akhirnya, semua itu menjadi permohonanyang semoga kamu berbaik hati mengabulkan. Tanggung jawab, ya?
Pada mulanya, sudah tentu tidak akan sama dengan pada akhirnya. Awalnya begini, akhirnya begitu. Apapun itu, semoga kamu tetap bersamaku.

Disudut bilik hatimu, 30 April 2016

Bila Cintamu Tak Dihargai

Bila kau bertanya cinta itu sebatas apa,
tentu saja aku akan berkata bahwa;
Cinta tak ada batasnya
Sampai nanti Tuhan mengembalikan hatimu seperti sedia kala
Seperti saat kau belum mengenalnya

Bila hanya tak dicintai kau boleh tetap mencintai
Bila hanya tak diberi kau boleh tetap memberi

Namun bila kau tak dihargai,
Kau harus mengerti!
Kau harus tau diri!
Ia tak menghargai karena baginya kau tak bernilai lagi

Sungguh kau tak perlu lagi merendahkan diri
Hanya ada satu pilihan; Pantaskan diri!

Bila sudah pantaspun semoga kau mengerti
Semoga kau bersedia melihat dengan hati
Agar kau tak kembali terluka lagi

-InsaffinaGalihPratiwi
Jakarta, 15 September 2015