Friday, 18 July 2014

'Move On' itu karena 'Terbiasa'


Ada saat dimana kita belum bisa melupakan masa lalu. Ada saat dimana sakit hati berat membuat kita terpuruk dan sulit melanjutkan hidup. Dan sebenarnya kita harus tahu, disitulah letak tantangan hidup yang sebenarnya.


Tiap-tiap orang mempunyai pengalamannya sendiri tentang patah hati dan move on. Tentang rasa terpuruk, stuck dan bagaimana untuk move on. Dan demikian juga, setiap orang punya pengalaman dan caranya sendiri untuk menyelesaikan masalah yang di hadapi. Dan inilah cara saya.

Dulu sekali kira-kira tahun 2009, saya pernah jatuh cinta dengan seseorang. Seseorang itu adalah orang yang diluar bayangan untuk di vonis bersalah karena membuat saya jatuh hati padanya. Kenapa? Karena dia sudah mempunyai pacar. My mistake. But, he made my world so colourful that time. Kita menyebut hubungan ini dengan sebutan CIDAHA atau kepanjangannya “Cinta Dalam Hati”. Terdengar so sweet. Tapi ada saat dimana hubungan itu menyesakan hati.

Ketika bersamanya terasa menyenangkan. Tetapi ketika tidak bersamanya, hati ini kehilangan arah. Yah itu karena kebersamaannya dengan perempuan yang dia sebut calon pendamping masa depannya. Sakit hati. Berat. Mengetahui fakta menyakitkan itu. Tapi perasaan yang saya punya waktu itu mengalahkan rasa cemburu yang bermain-main di pikiran saya.

Lalu saya di perhadapkan dengan situasi di mana dia harus memilih. Pilihannya adalah bersama calon pendamping masa depannya, di bandingkan memilih saya. Maka masa terpuruk saya-pun di mulai. Saya merasa patah hati dan saya merasa terlalu membutuhkan dia.

Tapi lihatlah sekarang, saya move on. Saya bertahan hingga saat ini. Dan saya teringat kembali kata-kata penyemangat yang dia ucapkan untuk terakhir kali, “Sebelum mengenal saya, kamu bisa menjalani hidup dengan baik selayaknya orang lain pada umumnya. Kenapa hanya karena saya sudah tidak ada, kamu tidak bisa melanjutkan hidupmu tanpa saya?”

Benar sekali. Kata-katanya terakhir kali sungguh benar. Saya tak dapat menyangkalnya. Dan dari ucapannya itu, saya mengerti bahwa semua perasaan terpuruk itu ada karena kenangan indah yang masih membekas di benak. Perasaan stuck dan tidak bisa move on itu ada, karena kita belum terbiasa dengan ketidak hadiran orang yang sudah menjadi bagian dari diri kita.

Waktu yang membuat 2 (dua) orang asing yang tidak saling mengenal saling mencintai dengan sungguh. Waktu juga yang akan menyembuhkan luka dan membuat kita terbiasa dengan ketidakhadiran orang tersebut. Memang tidak mudah, tidak segampang mengatakannya. Hanya saja saya percaya dan saya yakin pada diri saya sendiri. Dan terbukti saya bisa.




Dari keseluruhannya yang paling penting lagi untuk Move on adalah “Forgive and Forget”. Ketika kita mengampuni kesalahan seseorang yang menyakitkan hati, dengan pasti saya meyakinkan bahwa kita juga pasti bisa melupakannya. Karena belajar untuk memaafkan akan membawa kita mampu untuk melupakan.






Quote for today: "Patience is not the ability to wait. It's how you act while you're waiting."

Thursday, 17 July 2014

Suddenly ‘Single’? Lima Tahap Berduka





Kematian pasangan, perceraian, atau putusnya suatu hubungan jangka panjang dapat menimbulkan respons yang serupa pada kebanyakan orang. Setiap orang memang merundungi  kehilangannya dengan cara yang berbeda. Namun bagi saya ada lima tahap umum berduka yang akan dilalui setiap orang, saat meratapi hilangnya suatu hubungan.

Barangkali saya tidak akan melalui tahap-tahap ini secara berurutan. Mungkin manusia pada umumnya akan mengalami semua tahap ini lebih dari sekali. Terkadang suatu peristiwa membuat kita mengalami salah satu tahap ini lagi.

Misalnya, membersihkan lemari dan menemukan kemeja lama almarhum, atau mendengar mantan pacar akan menikah mungkin dapat memicu kembali tahap-tahap tertentu. Seperti Lima tahap berduka ini:

1)      Penyangkalan---Tahap “Tidak, bukan aku.”
Tahap ini dipenuhi ketidakpercayaan dan penyangkalan. Seperti ketika pasangan saya dulu pernah meninggal dan saya masih berharap dia datang mengetuk pintu. Atau ketika pasangan saya sudah meminta putus hubungan namun saya masih berharap dia akan berubah pikiran.

Konfirmasi. Terkadang fantasi-fantasi sebelum tidur yang konstan tentang dia yang masih menjemput dan mengantarkan saya pulang selarut apapun itu. Dalam fantasi saya, dia selalu mengenakan sweter yang saya berikan pada ulang tahunnya yang ke-24. Dan saya tahu, kalau saya melihatnya mengenakan sweter itu, dia datang untuk meminta saya kembali padanya. Saya akan menghadapinya dengan kalem, tentu saja: saya tak akan membiarkannya mengetahui jantung saya berdegup kencang. Saya akan membiarkannya memohon berjam-jam sebelum saya akhirnya menyerah.

2)      Marah---Tahap “Mengapa aku?”
Marah pada situasi, pasangan, dan orang-orang lain adalah hal yang lumrah. Saya marah pada orang karena telah menciptakan situasi yang menyakitkan saya. Saya mungkin marah pada almarhum pasangan saya karena merasa ditinggalkan. Saya mungkin marah pada suami atau istri (ayah atau ibu, misalnya) karena meminta cerai dan memecah keluarga saya.

Saya marah. Saya sudah melakukannya, meski hanya sebentar. Saya marah kepada dia ketika dia pergi meninggalkan saya. Menghilang tanpa kabar. Meninggalkan saya dengan berjuta tanya yang sampai sekarang tak pernah terjawab. Saya marah. Saat itu menurut pikiran saya kalau memang dia pria terhormat, dia akan meninggalkan saya dengan kejelasan tanpa membuat saya menderita hingga saat ini. Dia benar-benar egois. Dia menghilang, meskipun menurutnya itu adalah keputusan terbaik. Namun kemarahan saya segera pupus. Saya rasa, saya begitu tenggelam dalam penyangkalan sehingga tak menyisakan emosi untuk marah.

3)      Menawar---Tahap “Kalau saya berbuat begini, kamu akan berbuat begitu.”
Saya berupaya tawar-menawar untuk mengubah situasi. Kalau dulu saya kehilangan pasangan karena kematian, mungkin saya akan menawar pada Tuhan, “Saya akan menjadi orang lebih baik kalau Tuhan mengembalikan dia.” Atau ketika pasangan saya meminta perpisahan, saya mungkin akan berkata, “Kalau kamu tetap tinggal, saya akan berubah.”

Tahap ini sering saya lakukan. Kalau saya memberinya lebih banyak waktu dan menunjukkan betapa saya mencintainya, dia akan sadar dia tak bisa kehilangan saya dan akan berusaha keras membuka hatinya untuk saya. Tapi sekarang saya sudah tak melakukannya lagi. Saya terlalu sibuk dengan tahap depresi.

4)      Depresi---Tahap “Ini sungguh-sungguh terjadi.”
Saya menyadari situasi ini tak akan berubah. Kematian atau perpisahan selalu terjadi, dan tak ada yang bisa dilakukan untuk mengembalikan pasangan saya. Mengakui situasi tersebut kerap membawa depresi. Ini bisa menjadi masa yang tenang untuk menarik diri, sementara saya menyerap situasi sebenarnya.

Rasanya saya tidak menjalani tahap depresi dengan cara yang benar. Depresi saya bukan karena mengakui keadaan. Depresi saya hanya karena... depresi.

5)      Penerimaan---Tahap “Inilah yang terjadi.”
Meskipun saya belum melupakan yang telah terjadi, saya bisa mulai mengambil langkah maju.

Terkadang mudah ketika mengatakannya. Tetapi lebih terdengar seperti mimpi bagi saya.


Saran-saran bila saya mendadak sendiri:
Bila saya berada dalam keadaan emosional, lebih baik saya menunda melakukan segala sesuatu sampai pikiran saya lebih jernih. Peliharalah diri sendiri. Saya harus merawat kesehatan spiritual, emosional dan fisik. Tak ada orang lain yang dapat melakukannya kecuali diri saya sendiri. Makan dengan sehat, berolahraga secara teratur dan minum vitamin. Izinkan diri saya sendiri berduka dan biarkan waktu bagi diri saya sebanyak yang diperlukan untuk beradaptasi dengan apa yang telah terjadi.

Karena pada dasarnya, waktu yang akan menyembuhkan luka karena waktu juga yang akan menggantikan yang telah hilang. Just get used to it!





Quote for today: "Everything is okay in the end, if it's not okay, then it's not the end."

Wednesday, 7 May 2014

Loving Someone I can Never Have

Pernahkah kalian berada pada situasi dimana kalian ingin menyendiri? Atau situasi dimana kalian tidak ingin di ganggu oleh siapapun? Saya pernah. Kita semua pernah merasakannya.

Saya tidak tidur semalaman. Anehnya saya tidak merasakan kantuk, hanya saja saya merasa tidak bertenaga, tidak bisa dan tidak ingin melakukan apapun. Tetapi tentu saja itu tidak mungkin. Saya masih harus beraktifitas. Dan saya harus ceria. Jangan lupa itu.

Sepanjang hari saya terus menghindari telpon. Saya tidak sanggup menjawab telpon dari siapapun. Saya takut diri ini tidak akan kuat menghadapi kenyataan. Saya seperti orang linglung. Saat beraktifitas, saya memaksakan diri tersenyum dan pura-pura ceria, tetapi begitu selesai dengan seluruh kegiatan, saya kembali seperti mayat hidup.

“Ada apa denganmu hari ini, Niel?” tanya seorang sahabat. “Kamu sakit?”
Saya tidak menatapnya. Saya hanya menggeleng pelan dan duduk bersandar.

“Biasanya suaramu sudah terdengar ke mana-mana dan kau selalu tidak bisa diam,” desaknya sambil mencondongkan tubuhnya ke depan saya. Ia semakin khawatir melihat tindak-tanduk sahabatnya ini. “Hari ini kau bahkan tidak bersuara. Ada apa?” tanyanya lagi.

Saya menyunggingkan senyum tipis dan menggeleng. “Tidak apa-apa sayang.” Saya tidak bisa menceritakan apa-apa. Tidak kepada siapapun.


Saya kembali ke tempat itu, ke bukit itu untuk kesekian kalinya. Hanya saja situasinya terasa berbeda tanpa dia. Langitnya berbeda dengan langit pada waktu bersamanya. Warna langit waktu itu begitu indah dan sepertinya alam sedang merestui kebersamaan saya bersamanya. Dan sampai matipun saya takkan pernah melupakan saat-saat terindah bersamanya di sana. Di tempat itu.

Lalu tidak seperti biasanya, berdiri di puncak bukit itu dan memandangi keindahan pantai tidak memberikan kedamaian. Saya kembali untuk menenangkan diri dan berpikir, tetapi setelah begitu lama berdiri di sana, saya tetap belum menemukan apapun. Saya masih tidak tahu apa yang harus dilakukan, masih belum bisa menerima kenyataan, masih berharap semua ini mimpi buruk dan saya akan segera terbangun.

Pikiran saya kosong, karena hati kecil saya menolak berpikir. Saya tidak merasakan apapun, karena saraf ini menolak merasakan. Lebih baik saya tidak berpikir. Lebih baik saraf saya mati rasa. Kalau tidak, saya takkan sanggup menanggung rasa sakit ini. Terlalu besar.
Ketika malam itu berakhir, malam dimana semua ini bermula. Saya merasa tidak rela. Perlahan kenyataan mulai menghampiri dan saya belum siap menerimanya. Saya bertanya-tanya dalam hati bolehkah saya hidup dalam mimpi? Apa yang terjadi kalau saya tidak mau menerima kenyataan? Apa yang terjadi?

Saat dia mengantar saya sampai ke rumah, laki-laki itu juga terlihat bimbang. Begitu dia berbalik pergi, saya merasa sebagian hati ini tercabik, sebagian diri ini ikut pergi. Tetapi saya tidak bisa melakukan apa-apa. Saya hanya bisa memandangi sosoknya yang semakin menjauh.

Sudah 1 (satu) tahun berlalu tetapi kejadian itu terasa seperti baru kemarin terjadi. Kenangan itu masih fresh di ingatan. Mengingatnya kembali membuat tubuh saya gemetar hebat dan saya terisak-isak di luar kendali. Tiba-tiba saja seluruh rasa sakit datang membanjiri tubuh saya. Dan yang paling terasa sakit adalah hati ini. Saya menekan telapak tangan saya di dada, seakan berusaha menutupi luka yang menganga disana.

Bagaimana sekarang? Saya harus bagaimana? Saya berteriak, lalu menutup mulut saya dengan sebelah tangan untuk menahan tangis yang semakin kencang. Belum pernah saya menangis sesedih ini. Ini pertama kalinya saya tersedu-sedu di luar kendali. Saya jatuh terduduk di tanah. Kedua tangan saya menutupi wajah, bahu berguncang keras dan tubuh ini masih gemetar. Kemudian saya membisikkan pengakuan, “I love him, so badly.”


Apakah ada yang tahu bagaimana rasanya mencintai seseorang yang tidak boleh dicintai? Saya tahu.

Saya memang baru mengenalnya, tapi rasanya saya sudah mengenalnya seumur hidup. Dan tiba-tiba saja saya sadar dia telah menjadi bagian yang sangat penting dalam hidup saya.

Hidup ini sungguh aneh, juga tidak adil. Suatu kali hidup melambungkan saya setinggi langit, kali lainnya hidup menghempaskan saya begitu keras ke bumi. Ketika saya menyadari dialah satu-satunya yang paling saya butuhkan dalam hidup ini, kenyataan berteriak di telinga saya dia juga satu-satunya orang yang tidak boleh saya dapatkan. Kata-kata saya mungkin terdengar tidak masuk akal, tetapi percayalah, saya rela melakukan apa saja, asal bisa bersamanya. Tetapi apakah manusia bisa mengubah kenyataan?

Satu-satunya yang bisa saya lakukan sekarang adalah keluar dari hidupnya. Saya tidak akan melupakan dirinya, tetapi saya harus melupakan perasaan saya padanya walaupun itu berarti saya harus menghabiskan sisa hidup saya mencoba melakukannya. Pasti butuh waktu lama sebelum saya bisa menatapnya tanpa merasakan apa yang saya rasakan setiap kali saya melihatnya. Mungkin suatu hari nanti (saya tak tahu kapan) rasa sakit ini akan hilang dan saat itu kami baru akan bertemu kembali.

Sekarang... Saat ini saja... Untuk beberapa detik saja... saya ingin bersikap egois. Saya ingin melupakan semua orang, mengabaikan dunia, dan melupakan asal-usul serta latar belakang saya. Tanpa beban, tuntutan, atau harapan, saya ingin mengaku.



"Saya mencintainya."

Air mata saya turun semakin deras. Jangan marah kalau saya menangis sekarang. Biarkan saya menangis sekarang. Hari ini saja. Setelah itu saya akan baik-baik saja. Apakah saya akan baik-baik saja? Entahlah. Saya ingin kehidupan normal sebelum semua ini terjadi. Tapi kehidupan normal? Kehidupan normal itu seperti apa? Saya sudah lupa. Mungkin butuh waktu, tapi saya akan baik-baik saja. Saya akan kembali beraktifitas, tertawa, dan mengoceh seperti biasa. Saya berjanji.

Keinginan saya hanya 1 (satu). Saya hanya ingin dia selalu bahagia. Walaupun saya harus menyerahkan seluruh hidup saya. Karena selama dia bahagia, saya juga akan bahagia. Sesederhana itu.

Our favorite songs. Click to download:
You by SwitchfootWhy by Secondhand SerenadeRehab by Rihanna


Quote for today: "I can think clearly through stressful situations to resolve and find a conclusion."

Tuesday, 6 May 2014

Should Marijuana Be Legalized?

Cannabis, also known as marijuana (from the Mexican Spanish marihuana), is a preparation of the Cannabis plant intended for use as a psychoactive drug and as medicine. The legality of marijuana has been a hotly debated subject for decades. Until the government of many established countries outlawed it is use, smoking marijuana had been a widespread activity for thousands of years. The question is, why not legalize it? Drinking and cigarettes are legal and as far as I know, they kill a lot of people. I haven't even heard of related deaths. People simply just don't like it because it is illegal. In moderation, it has no bad side effects. That’s why, I totally agree with the legalizing of marijuana.


All the studies used always that marijuana "may" or "should" cause lung cancer. But it has never been reported that someone had lung cancer solely from using marijuana. But smoke is harmful because of the proprieties of smoke. Any smoke could harm your lungs. But nothing in the cannabis plant ever caused lung cancer. A study has been made and showed the tobacco smoke is more harmful than marijuana smoke. Tobacco kills more people than all illegal drugs combined with accidents and aids per year. It causes over 450,000 deaths per year. Even knowing that tobacco is being the number one killer in the country, the government still plants it and sells it.

Then we got alcohol. It is responsible for the death of over 85,000 people per year. Then we got caffeine which cause from one to 10,000 deaths per year. Even aspirin causes from one to 7500 deaths per year. What about marijuana? People believe it kills from 50,000 to hundreds of billions per year. In fact no single case of death has been attributed from using marijuana in the history of the human kind from thousands of years. You have to smoke 15,000 joints in 20 minutes to die from marijuana which is almost impossible.

 
The U.S government did an experiment on monkeys to determine and see if marijuana kills or causes any damage to the brain or brain cells. The monkeys died. Six years later, it was finally released how the experiment was made. They pumped astronomical amount of smoke on monkeys. The smoke and the lack of oxygen made the monkeys suffocate and die. The dead brain cells were from the lack of oxygen and not from marijuana. Thus, the experiment results were invalid. In fact, in 2005 a study showed that marijuana could stimulate the growth of brain cells on the brain. Many studies had been done and never actually found something in marijuana that could push user to go for "hard drugs" (such as cocaine, heroin, etc...)

Because of the current status of marijuana, users are forced to deal with the black market. Prohibition could be the reason of marijuana being a gateway drug. Many black market dealers now tend to go for harder drugs. Why? It is easier to carry pills and powder that could be easily hidden. Marijuana is harder to hard and to sell. It has a strong smell so it makes it harder for dealers to carry it. But, people in some states in US and in Canada could get a medical marijuana card if they have been checked and proven by a doctor that they qualify for a card. That card helps the patient against any arresting for possession of marijuana.

Prohibition it’s also in fact has never worked. Prohibition has never stopped people from using marijuana. In 1937, it was estimated that there was 15,000 marijuana users. Now, it is estimated to be 15,000,000+ marijuana users. But marijuana being more potent now won't change its effects it had thousands of years ago. For it being more potent will just take fewer amounts from a user to get high thus, inhaling less smoke. Only 3% of the patients on the rehab system went voluntarily from being independent on marijuana. The others were either told by a judge or a guardian. Some people get the choices either going to jail or you go to a treatment. Everyone chooses to go to a treatment. They consider these people addicts. Marijuana is known to be less addictive than coffee. There are no severe withdrawal symptoms after stopping the use of marijuana. Its use can be discontinues easier than any other drugs.

Any kind benefit of Cannabis is it can be hemp. It is the most durable natural soft fiber on the surface on this planet. Since thousands of years, hemp always had many uses on the industry. A lot of medicines and clothes were made from hemp. It is said that the famous movie "Reefer Madness" caused marijuana to be illegal. It was believed that marijuana caused the user to be violent but many politicians later opposed that myth. In fact, marijuana calms and mellows the user.

So with all of that evidence, I guess marijuana is one of the most useful, if not the most useful plant known to mankind and it should not be illegal while keeping tobacco and alcohol legal. Using marijuana in comparison to using tobacco and alcohol is probably the safer and healthier choice. Tobacco is known to be highly addictive and harmful but is legal and at the same time, governments all over the world spend billions of tax payers dollars on trying to get people to quit. What a joke! What a bunch of hypocrites! At least marijuana has many beneficial uses. Marijuana use is not limited to low socioeconomic, unmotivated people. I think governments are just too lazy to revise laws and of course the powerful religious sects of the world (some of which are known pedophiles) would also have opinion about it.





Quote for today: "Drugs may be the road to nowhere, but at least they're the scenic route."

Monday, 5 May 2014

Learning to Breathe



Learning to Breathe” adalah judul lagu favorit saya yang di bawakan oleh Switchfoot, Band Rock Alternatif asal San Diego, California. Entahlah dengan maksud dan tujuan dari lagu itu diciptakan atau arti dari baris-baris lirik yang mengisi keindahan melodi dari instrument yang mudah dicerna. Tetapi kembali lagi ke perasaan saya ataupun pengertian saya sendiri ketika mendengar lagu ini.

Pertama kali saya mendengar lagu ini pada tahun 2002. Lagu ini adalah salah satu original soundtrack untuk film “A Walk To Remember” yang dirilis pada tahun yang sama juga. One of my favorite movie also. Disini saya tidak berbicara tentang filmnya, tetapi kembali lagi tentang arti lagu ini bagi saya.

Saya teringat lagi dengan lagu ini 10 (sepuluh) tahun kemudian, pada tahun 2012. Ketika saya diperhadapkan dengan situasi yang menyesakan hati, menggundahkan jiwa dan mematikan akal pikiran. Momen tersebut yang jujur saja, sangat ingin saya lupakan. Momen keterpurukan terbesar selama 21 (dua puluh satu) tahun perjalanan hidup saya dimuka bumi ini.

Bagi saya, lagu ini bercerita tentang 2 (dua) hal dari cerita kehidupan saya. Pertama, kehancuran hati  yang sungguh dalam sehingga pada waktu itu saya merasa ‘hidup tak mampu, matipun tak sanggup’. Kalimat itu mungkin terdengar sederhana, tetapi sungguh nyata terjadi dalam hidup saya pada waktu itu. Ketika momen kehancuran hati mempengaruhi seluruh keseimbangan hidup, lagu ini menciptakan tangisan hati yang tak terhingga. Air mata tak dapat menggambarkan kehancuran yang saya rasakan.

"So this is the way I say I need You
This is the way that I say I love You
This is the way that I say I'm Yours
This is the way, this is the way"

Itulah yang saya rasakan. Begitulah cara saya mengasihini diri karena menjatuhkan hati ke orang salah. Begitulah cara saya menunjukan betapa saya membutuhkan dia. Di saat dia menghancurkan saya berkeping-keping. Kalau di ibaratkan kertas, sungguh saya sudah tak berbentuk. Karena begitu hancur, sampai hancur sehancur-hancurnya.

Mungkin para psikiater menyebut saya "berfungsi normal". Saya pergi beraktifitas setiap hari; bergaul dengan teman-teman; belanja sepatu. Namun sebenarnya saya tidak benar-benar disana. Diri saya terlepas dari semua itu. Setiap pagi saya bangun dari tempat tidur, memberi makan diri saya, mengirim tubuh dan otak saya beraktifitas, sementara diri saya yang sebenarnya, jiwa saya, sedang bergelung rapat bak janin ditempat tidur, menangis meraung-raung.

Proses itu saya sebut ‘proses mengasihani diri sendiri’ atau ‘proses berkabung’ yang terjadi selama 1 (satu) tahun. Dan lagu ini menjadi minuman memabukan maupun pada akhirnya menjadi obat penenang bagi jiwa saya yang kehilangan arah.

Kedua, kebangkitan dari masa berkabung. Lagu ini menjadi obat penenang yang menghantarkan saya untuk berhenti bertindak selayaknya sampah dan melanjutkan hidup. Melanjutkan yang terhambat selama setahun. Menata hati dan hidup saya kembali dari awal. Seperti lirik lagu ini,

"I'm Learning to breathe, I'm learning to crawl. I'm finding that You and You alone can break my fall. I'm living again, awake and alive. I'm dying to breathe in these abundant skies".

Seperti itulah saya bangkit. Bagaimana lagu ini menjadi motivasi bagi saya untuk berdiri lagi setelah jatuh terlalu lama. Saya menjadi kuat, sekuat burung di langit yang belajar terbang setelah terjatuh. Mungkin terdengar terlalu klise bagi sebagian orang, tapi tidak bagi saya. Kalau ada orang yang mengenal saya secara personal, pasti mengetahui jatuh bangun saya pada tahun kelam itu. Bagaimana hidup saya begitu berantakan. Lalu saya selesai dengan pengasihanan diri dan kebodohan karena terjerumus terlalu dalam dengan situasi itu.

Saya tak menyesal pernah melakukan banyak kesalahan di masa lalu. Yang terjadi biarlah terjadi dan biarlah menjadi pelajaran bagi saya di masa yang akan datang. Karena, ada saat dimana saya muak dan lelah dengan segala pemberontakan itu. Saya sadar segala kesalahan itu tak akan pernah mendatangkan damai. Tetapi syukur kepada yang kuasa, karena kesalahan yang pernah saya hadirkan, menjadikan saya yang sekarang. Saya yang lebih kuat.

Semoga lagu ini juga bisa menjadi inspirasi dan memotivasi ke arah yang lebih baik. Ini cerita saya. Bagaimana dengan ceritamu?







Quote for today, “Don’t judge. You don’t know what storm God have asked me to walk through.

Thursday, 24 April 2014

Terima Kasih untuk Kakak sekaligus Sumber Inspirasi

Ide menulis Blog ini pada dasarnya sudah ada di dalam hati saya sejak lama. Hanya saja belum terealisasikan dengan baik, atau lebih tepatnya masih 'cakar ayam' atau masih belum tertata dengan selayaknya. Saya pikir mungkin karena jiwa saya yang masih belum terlalu dewasa dan belum serius menekuni dunia menulis ini. At least, saya punya 5 (lima) blog yang berbeda dari setiap akun ini, yang namanya sulit saya pahami kenapa bisa menjadi nama dari setiap blog saya. Blog saya yang terbaru kali ini, lebih simple, fresh dan lebih dewasa (menurut saya). Yah, setidaknya saya berusaha dan saya berharap dapat dicerna dengan baik.


Keseriusan saya untuk menulis bermula ketika saya bertemu dengan seorang perempuan bernama Theoresia Rumthe di Radio Republik Indonesia, Ambon. Pertemuan tidak sengaja itu dalam rangka saya sebagai Putri Pariwisata 2013, bersama kakak Theo dan Bung Almascatie menjadi nara sumber dalam dialog Peringatan Wafatnya Prajurit Perempuan Martha Christina Tiahahu yang ke-196 tepat pada tanggal 2 Januari 2014.

Saya tidak mengenal mereka berdua. Lalu saya mulai mencari informasi sebelum bertemu langsung. Seperti kakak Theo yang dikenal dengan syair-syairnya yang luar biasa menghipnotis sedangkan Bung Almascatie aktifis dan Blogger terjitu se-Maluku. Mereka orang-orang hebat yang kemudian menjadi inspirasi saya.

Kakak Theo adalah seorang Radio Broadcaster, MC, Creative Writing, Pengajar Public Speaking, Moluccan Roots, dan juga seorang blogger yang sudah memberi inspirasi bagi banyak orang (blog: perempuansore.blogspot.com). Saya rajin meng-update blog-nya, selain karena saya suka dengan cerita-ceritanya yang imaginatif maupun menginspirasikan ini, saya juga belajar menulis dari caranya menulis. Seperti kutipan ini, "peringatan : blog ini mengandung bir." Yang ternyata benar mengandung bir yang memabukan dan membuat ketagihan.

Saya kemudian menemukan satu lagi kutipan dari blognya, "menulislah dan jangan bunuh diri!" Saat itulah dimana saya merenung dan akhirnya saya mengerti, menulis saja tak perduli apa kata orang, tulis saja apa yang bisa saya tulis. Tak perlu hebat dalam menulis, apapun yang ada di hati, apapun yang terlintas dipikiran, tulislah seperti 'air' biarkanlah mengalir apa adanya. Itulah menulis yang saya definisikan disini. 

Terkadang, masih tidak percaya bahwa tetap dan selalu diberi talenta yang begitu melimpah oleh Sang Pencipta. Kembali menulis lagi. Puisi, Sajak, Syair atau apapun itu bentuknya, disinilah saya temukan cara untuk menyalurkan isi kepala dan isi hati melalui tulisan.

Terima Kasih untuk kak Theo Rumthe atau yang lebih dikenal dengan nama @perempuansore (twitter), yang seolah memberikan motivasi kepada saya untuk menemukan passion yang ada di dalam diri saya. Yang juga menjadi sumber inspirasi dengan tidak pernah membiarkan saya duduk manis tanpa menulis apapun hingga akhirnya kini menjadi rutinitas yang tidak bisa di ubah. Membuat saya selalu terpikirkan untuk menulis walaupun hanya di draft SMS atau 'note' di Smartphone kemanapun saya pergi, agar tak ada satupun moment inspirasi terlewatkan. Terima kasih untuk dorongan, semangat, dan masukannya selama ini kepada saya.

You are trully my Inspiration. Danke banya kak Theo :)





quote for today: "Everyone comes to me about their problems, but often times don't know where to go when I need someone."

Wednesday, 23 April 2014

Kesuksesan dan Kegagalan

Kesuksesan adalah pengoptimalan suatu kelebihan. Kegagalan adalah akumulasi dari segala kekurangan.

Saya sudah lupa kapan saya mendengar kutipan ini. Mungkin pada waktu jaman saya sekolah dulu, ketika kata-kata bijak seperti ini terlalu berat untuk dapat saya cerna. Ketika umur yang masih belia memaksa saya untuk menikmati masa sekolah. Masa SMA yang gemilang. Ya, saya sungguh menikmati moment itu. Kita semua sangat menikmati. Hanya saja moment itu tak mungkin bertahan selamanya.

Pada saat saya mulai menginjakan kaki kedalam dunia kenyataan---dunia kuliah---memaksa saya untuk berpikir kembali, apa sih impian saya? Apa yang harus saya lakukan kedepan? Apakah ini yang saya mau? Entahlah. Mungkin jiwa saya masih labil, bisa dibilang seperti itu. Dan pada akhirnya kutipan di atas mempunyai arti tersendiri dalam pembangunan karakter saya sampai saat ini.


Kesuksesan adalah pengoptimalan suatu kelebihan.

Kesuksesan menurut pandangan saya adalah apa yang dirasakan ketika saya meraih sesuatu. Karena ketika saya merasa antusias, bahagia dan bangga, maka itu berarti saya telah meraih apa yang di inginkan dari lubuk hati saya.

Saat berbicara tentang 'optimal', maka pengoptimalan suatu kelebihan dari kesuksesan tersebut yang saya yakini, yaitu berupa pencapaian yang di inginkan di lihat dari bagaimana kelebihan saya berperan didalamnya. Kelebihan-kelebihan tersebut yang menjadi titik kunci pencapaian kesuksesan tersebut dan harus dipacu agar lebih berkembang dalam mencapai kesuksesan yang lain.

kesuksesan bukan apa yang orang lain rasakan, tapi apa yang saya rasakan sendiri. Hidup adalah hidup saya dan sukses adalah sukses saya. Tidak ada yang berhak ikut campur menentukan bagaimana seharusnya saya sukses. Untuk apa saya dianggap sukses bagi orang lain, tapi dianggap gagal oleh diri sendiri? Untuk apa orang lain kagum dengan apa yang saya capai, tapi saya sendiri tidak pernah bahagia menikmati hasil pencapaian saya. What for? Ini namanya membohongi diri sendiri.

Mungkin kita sudah mendengar ini ribuan kali. Miliki impian kita sendiri sebelum melangkah menuju kesuksesan. Saya-pun demikian. Benar, kesuksesan bermula dari impian. Semua pencapaian dan hal-hal yang luar biasa di dunia ini dimulai dari impian dan hasrat yang membara. Semua itu datangnya dari apa yang kita inginkan. Kalau impian itu datang dari apa yang orang lain inginkan, artinya kita tidak pernah menjalani hidup kita sendiri dengan sebaik-baiknya.


Kegagalan adalah akumulasi dari segala kekurangan.

Kegagalan menurut situs artikata.com, berasal dari dari dasar kata 'gagal' yang memiliki beberapa arti: tidak berhasil; tidak tercapai; ketidakberhasilan. Yang menurut definisi saya sendiri, Kegagalan means apa yang saya rasakan ketika tidak berhasil atau belum mencapai suatu target. 'Optimal' berarti mengevaluasi lagi kekurangan saya dan memperbaikinya sehingga mencegah saya dalam meraih pencapain sukses yang tertunda.

Kegagalan adalah satu titik dimana saya harus melihat apa yang salah dari usaha yang saya lakukan, memperbaiki, belajar dan berusaha lagi. Ketika saya dihadapkan pada kenyataan bahwa saya mengalami kegagalan itu, memacu saya agar berhenti berkecil hati dan terus mencoba lagi.

Saya pernah mendengar satu pepatah, bunyinya: "Seseorang terjatuh bukan karena gunung, tetapi karena kerikil.Kutipan tersebut menjadi mindset bagi saya bahwa, hal-hal kecil yang terkadang mematahkan semangat inilah yang harus saya ubah menjadi pacuan bagi saya untuk terus bangkit disaat jatuh dan melanjutkan pertandingan sampai akhir. 

Kesimpulannya adalah milikilah impian kita sendiri. Perjuangkan dan raihlah kesuksesan sejati yang kita dambakan. Pasti bisa tercapai dan membahagiakan! Karena dari pengalaman hidup saya sendiri, saya belajar bahwa hidup takkan pernah baik dan Kata SUKSES takkan pernah ada jikalau saya tak pernah mengenal kata GAGAL.





quote for today: "I can be very seductive without even realizing it."