“Learning to Breathe” adalah judul lagu favorit saya yang di bawakan oleh Switchfoot, Band Rock Alternatif asal San Diego, California. Entahlah dengan maksud dan tujuan dari lagu itu diciptakan atau arti dari baris-baris lirik yang mengisi keindahan melodi dari instrument yang mudah dicerna. Tetapi kembali lagi ke perasaan saya ataupun pengertian saya sendiri ketika mendengar lagu ini.
Pertama kali saya mendengar lagu
ini pada tahun 2002. Lagu ini adalah salah satu original soundtrack untuk film
“A Walk To Remember” yang dirilis
pada tahun yang sama juga. One of my
favorite movie also. Disini saya tidak berbicara tentang filmnya, tetapi
kembali lagi tentang arti lagu ini bagi saya.
Saya teringat lagi dengan lagu
ini 10 (sepuluh) tahun kemudian, pada
tahun 2012. Ketika saya diperhadapkan dengan situasi yang menyesakan hati,
menggundahkan jiwa dan mematikan akal pikiran. Momen tersebut yang jujur saja, sangat
ingin saya lupakan. Momen keterpurukan terbesar selama 21 (dua puluh satu) tahun perjalanan hidup saya dimuka bumi ini.
Bagi saya, lagu ini bercerita
tentang 2 (dua) hal dari cerita kehidupan saya. Pertama, kehancuran hati yang sungguh dalam sehingga pada waktu itu
saya merasa ‘hidup tak mampu, matipun tak
sanggup’. Kalimat itu mungkin terdengar sederhana, tetapi sungguh nyata
terjadi dalam hidup saya pada waktu itu. Ketika momen kehancuran hati
mempengaruhi seluruh keseimbangan hidup, lagu ini menciptakan tangisan hati
yang tak terhingga. Air mata tak dapat menggambarkan kehancuran yang saya
rasakan.
"So this is the way I say I need You
This is the way that I say I love You
This is the way that I say I'm Yours
This is the way, this is the way"
This is the way that I say I love You
This is the way that I say I'm Yours
This is the way, this is the way"
Itulah yang saya rasakan. Begitulah cara saya mengasihini diri karena menjatuhkan hati ke orang
salah. Begitulah cara saya menunjukan betapa saya membutuhkan dia. Di saat dia
menghancurkan saya berkeping-keping. Kalau di ibaratkan kertas, sungguh saya
sudah tak berbentuk. Karena begitu hancur, sampai hancur sehancur-hancurnya.
Mungkin para psikiater menyebut
saya "berfungsi normal".
Saya pergi beraktifitas setiap hari; bergaul dengan teman-teman; belanja
sepatu. Namun sebenarnya saya tidak benar-benar disana. Diri saya terlepas dari
semua itu. Setiap pagi saya bangun dari tempat tidur, memberi makan diri saya,
mengirim tubuh dan otak saya beraktifitas, sementara diri saya yang sebenarnya,
jiwa saya, sedang bergelung rapat bak janin ditempat tidur, menangis
meraung-raung.
Proses itu saya sebut ‘proses
mengasihani diri sendiri’ atau ‘proses berkabung’ yang terjadi selama 1 (satu)
tahun. Dan lagu ini menjadi minuman memabukan maupun pada akhirnya menjadi obat
penenang bagi jiwa saya yang kehilangan arah.
Kedua, kebangkitan dari
masa berkabung. Lagu ini menjadi obat penenang yang menghantarkan saya untuk
berhenti bertindak selayaknya sampah dan melanjutkan hidup. Melanjutkan yang
terhambat selama setahun. Menata hati dan hidup saya kembali dari awal. Seperti
lirik lagu ini,
"I'm Learning to breathe, I'm learning to crawl. I'm finding that You and You alone can break my fall. I'm living again, awake and alive. I'm dying to breathe in these abundant skies".
Seperti itulah saya bangkit. Bagaimana lagu ini menjadi motivasi bagi saya untuk berdiri lagi setelah jatuh terlalu lama. Saya menjadi kuat, sekuat burung di langit yang belajar terbang setelah terjatuh. Mungkin terdengar terlalu klise bagi sebagian orang, tapi tidak bagi saya. Kalau ada orang yang mengenal saya secara personal, pasti mengetahui jatuh bangun saya pada tahun kelam itu. Bagaimana hidup saya begitu berantakan. Lalu saya selesai dengan pengasihanan diri dan kebodohan karena terjerumus terlalu dalam dengan situasi itu.
"I'm Learning to breathe, I'm learning to crawl. I'm finding that You and You alone can break my fall. I'm living again, awake and alive. I'm dying to breathe in these abundant skies".
Seperti itulah saya bangkit. Bagaimana lagu ini menjadi motivasi bagi saya untuk berdiri lagi setelah jatuh terlalu lama. Saya menjadi kuat, sekuat burung di langit yang belajar terbang setelah terjatuh. Mungkin terdengar terlalu klise bagi sebagian orang, tapi tidak bagi saya. Kalau ada orang yang mengenal saya secara personal, pasti mengetahui jatuh bangun saya pada tahun kelam itu. Bagaimana hidup saya begitu berantakan. Lalu saya selesai dengan pengasihanan diri dan kebodohan karena terjerumus terlalu dalam dengan situasi itu.
Saya tak menyesal
pernah melakukan banyak kesalahan di masa lalu. Yang terjadi biarlah terjadi
dan biarlah menjadi pelajaran bagi saya di masa yang akan datang. Karena, ada saat dimana saya muak
dan lelah dengan segala pemberontakan itu. Saya sadar segala kesalahan itu tak
akan pernah mendatangkan damai. Tetapi syukur kepada yang kuasa, karena kesalahan
yang pernah saya hadirkan, menjadikan saya yang sekarang.
Saya yang lebih kuat.
Semoga
lagu ini juga bisa menjadi inspirasi dan memotivasi ke arah yang lebih baik. Ini cerita saya. Bagaimana dengan ceritamu?
click to download: Learning to Breath by Switchfoot
Quote for today, “Don’t judge.
You don’t know what storm God have asked me to walk through.”
A good story!
ReplyDelete