Thursday, 26 November 2015

R . A . G . U

Haruskah selamanya aku menunggumu, sedang kau tahu di mana kau bisa menjemputku? Haruskah aku selalu menyukai keraguanmu, sedang kau tahu begitu tulus aku menerimamu?

Aku tahu cinta selalu hadir bersama kehati-hatian, kekhawatiran, dan keragu-raguan. Tetapi, akankah benar ini cinta jika kau tak berani merubah itu semua menjadi rasa percaya?

Aku ada, kau tahu untukmu aku selalu ada. Namun haruskah ku percaya kau cinta, sedang aku begitu merasa kau masih menyimpan ragu atasku di dalam kepala?

Beri tahu aku. Jika memang bukan aku yang kau inginkan ada di masa depanmu.

Semoga kau selalu ingat. Cinta memang tidak pernah memaksa apapun juga. Tetapi terkadang, cinta membutuhkan keberanian untuk membuktikan segala ucap.

Jangan kecewakan Tuhan, kumohon. Tuhan sudah begitu baiknya memberi kesempatan. Jangan sia-siakan. Jangan lagi kenalkan cinta pada pahitnya sebuah penyesalan.

Aku mencintaimu dengan setulus hatiku. Aku menyayangimu dengan doa-doaku. Aku menunggumu dengan seluruh waktu. Pada bagian manakah, yang atasku masih kau ragukan?

Tuesday, 17 November 2015

Sudut Pemikiran: nyaman

Dekat dengan lawan jenis tidak selamanya harus menjadi pasangan bukan? Rasa sayang berlebih muncul kepada seseorang yang saya anggap sahabat itu mungkin saja bukan? Dengannya saya bisa menjadi lebih hidup. Dengannya entah kenapa ada magnet yang tercipta untuk sekedar bercengkrama tanpa henti, untuk sekedar bermanja-manja, untuk menjadi sebenar-benarnya diri saya sendiri.

Karena dengannya kita sadar kita tidak perlu sebuah topeng untuk menutupi apa yang ada di diri kita. Dengannya, kita menjadi jauh lebih bermanfaat untuk hidup. Karena kita tahu kita membutuhkan dia, pun begitu dengan dia yang membutuhkan kita. Entah hanya sekedar sebagai teman duduk minum kopi misalnya.

Nanti, akan tiba satu titik dimana kamu akan benar-benar merasa nyaman kepada seseorang, namun kamu tak ingin untuk memilikinya. Aneh? Memang!

Jadi begini, nyaman itu tercipta ketika adanya komunikasi. Bukan begitu? Terlebih ketika komunikasi berjalan sangat baik antara dua belah pihak. Hingga akhirnya terciptalah percakapan tanpa henti bahkan mungkin menciptakan bentuk-bentuk perhatian yang pada akhirnya membuatmu merasa nyaman. Moment dimana hal ter-engga penting sekalipun dibahas, bahkan bisa berkembang jadi satu topik bahasan panjang. Dimana akan ada rasa engga nyaman untuk menolak ketika dia sedang membutuhkan bantuan. Atau bisa juga rasanya kurang lengkap melewati hari tanpa mendengar kabar, suara, atau kisah darinya. Pernah mengalaminya?

Nyaman sudah tercipta memang, namun ada batasan yang juga sedang dibangun secara tidak sadar. Batasan yang membuat kita akhirnya merasa khawatir. Mengkhawatirkan sesuatu hal dengan beragam kemungkinan. Batasan yang akhirnya mempengaruhi keputusan kita untuk tetap berada pada nyaman yang tidak lebih dari seorang teman.

Karena pada dasarnya rasa nyaman itu lebih menyakitkan dari rasa cinta.

Favorite Spoken of Purpose

I don't know if this is wrong because someone else is telling me that it's wrong but I feel this so let me just like, try my best not to let this happen again. We weren't necessarily put in the best position to make the best decisions.

You can't be hard on yourself for these were the cards that you were given so you have to understand that these, like... that's not who you are. You're trying to be the best you can be but that's all you can do. If you don't give it all you got, you're only cheating yourself. Give it all you got, but if it ends up happening, it ends up happening.

That's what it's....that's what's happening with me. It's like God I'm giving it all I got, sometimes I'm weak and I'm gonna do it, and it's like I'm not giving myself grace, I'm just like understanding, that's just how it is.

Menunggu

Di saat menunggu sudah menjadi hal yang membosankan, aku senang bermain-main dengannya. Banyak yang bisa kulakukan dengan menunggu, menikmati kesibukanku, menghabiskan waktu dengan teman-teman komunitas, termasuk menikmati saat-saat sendiri.

Di saat menunggu sudah menjadi hal yang membuat orang tidak sabar, aku akan tetap sabar. Aku tidak akan mengumbar lagi perasaan kemana-mana, tidak akan menjualnya dengan murah kepada siapapun, apalagi menggonta-ganti seenaknya begitu cepat. Diri ini tidak boleh semurah itu. Agar kamupun tidak khawatir dengan keadaanku.

Di saat menunggu sudah menjadi hal yang paling mengecewakan, aku senang melakukannya. Karena hal yang aku tunggu, tentunya hal yang pasti, berharga, dan penuh kejutan didalamnya, apalagi terselip restu-Nya. Karena dalam hidup ini, aku belajar. Antara hang harus ditunggu dan dilepas. Lagipula aku juga tidak ingin menunggu yang tidak pasti, yang membuat batin lelah menerka, yang tidak berani berkomitmen, hanya mengumbar kata-kata manis. Dan jika kecewa perasaannya tumpah dimana-mana yang solusi pun tidak dapat.

Ternyata hidup ini sepenuhnya tidak buruk jika kita mau bersabar menunggu. Jangan menghabiskan separuh hidupmh hanya untuk menunggu hal yang belum pasti adanya.

Mari kita jaga baik-baik rasa saling percaya ini, agar salah satu dari kita tidak perlu khawatir. Sebab barangkali menunggu ini adalah cara Tuhan untuk melihat kesabaran kita sebelum kita bertemu nanti.

Aku akan tetap menunggu. Karena aku percaya. Karena aku percaya, dalam hidup ini tidak akan pernah ada yang sia-sia jika kita melakukannya karena Tuhan. Termasuk menunggu, bukan? Karena aku yakin kamu juga percaya.

Dan tidak perlu khawatir juga, aku menunggumu.

Saturday, 7 November 2015

Harapan

Tuhan, ku tahu kau mendengar doaku. Doa yang ku panjatkan setiap waktu. Waktu yang terus berjalan, hingga membawaku kepada satu titik harapan. Harapan itu terasa manis, melambai di kejauhan, serta senyum lembut menyapaku.

Hariku indah dengan telapak tangan yang menengadah. Berjuang untuk kehidupan yang berkah. Berpikir mendapatkan keadilan dari perjalanan kaki ini. Terjun bersama sang mentari. Tak terasa, di ufuk timur matahari sembunyi. Dan kuusap keringat yang menetes di pipi.

Ku kembali bercerita dengan sang rembulan yang sedikit menampakkan sinarnya. Seakan malu mendengarkan ceritaku yang hanya berujung pilu. Ia pun tertawa lepas bersama gumpalan medung di sekelilingklnya. Tapi tak mengapa, aku tetap bercerita.

Aku akan tetap pada harapanku. Berdiri melawan lelah hati. Hanya Tuhan yang masih setia menemani. Di mana dan akan kemana aku pergi, Dia tahu apa yang aku minta.

Harapan itu akan selalu ada...

Ambon, Eleven Eight Twenty Fifteen