Dekat dengan lawan jenis tidak selamanya harus menjadi pasangan bukan? Rasa sayang berlebih muncul kepada seseorang yang saya anggap sahabat itu mungkin saja bukan? Dengannya saya bisa menjadi lebih hidup. Dengannya entah kenapa ada magnet yang tercipta untuk sekedar bercengkrama tanpa henti, untuk sekedar bermanja-manja, untuk menjadi sebenar-benarnya diri saya sendiri.
Karena dengannya kita sadar kita tidak perlu sebuah topeng untuk menutupi apa yang ada di diri kita. Dengannya, kita menjadi jauh lebih bermanfaat untuk hidup. Karena kita tahu kita membutuhkan dia, pun begitu dengan dia yang membutuhkan kita. Entah hanya sekedar sebagai teman duduk minum kopi misalnya.
Nanti, akan tiba satu titik dimana kamu akan benar-benar merasa nyaman kepada seseorang, namun kamu tak ingin untuk memilikinya. Aneh? Memang!
Jadi begini, nyaman itu tercipta ketika adanya komunikasi. Bukan begitu? Terlebih ketika komunikasi berjalan sangat baik antara dua belah pihak. Hingga akhirnya terciptalah percakapan tanpa henti bahkan mungkin menciptakan bentuk-bentuk perhatian yang pada akhirnya membuatmu merasa nyaman. Moment dimana hal ter-engga penting sekalipun dibahas, bahkan bisa berkembang jadi satu topik bahasan panjang. Dimana akan ada rasa engga nyaman untuk menolak ketika dia sedang membutuhkan bantuan. Atau bisa juga rasanya kurang lengkap melewati hari tanpa mendengar kabar, suara, atau kisah darinya. Pernah mengalaminya?
Nyaman sudah tercipta memang, namun ada batasan yang juga sedang dibangun secara tidak sadar. Batasan yang membuat kita akhirnya merasa khawatir. Mengkhawatirkan sesuatu hal dengan beragam kemungkinan. Batasan yang akhirnya mempengaruhi keputusan kita untuk tetap berada pada nyaman yang tidak lebih dari seorang teman.
Karena pada dasarnya rasa nyaman itu lebih menyakitkan dari rasa cinta.
No comments:
Post a Comment