Tuesday, 30 June 2015

Keadilan dari Ketulusan

ku hanya bisa terdiam,
menahan semua rasa perih yang selama ini ku pendam...
ketika semua harapan kau musnahkan,
dan meninggalkan bekas luka yang kau ukir seperti lukisan...

apa yang ku lakukan selama ini kau anggap tak berarti,
dan tak ada makna sama sekali...
seluruh isi di dalam hati telah diberikan,
tapi yang didapatkan hanya kepedihan...

aku memang tak sempurna,
tak seperti yang kau inginkan,
tapi bukan hatiku bisa kau permainkan...
aku manusia biasa yang masih punya hati dan perasaan...

semua angan dan harapan kini telah sirna,
digilas kenyataan yang bertepuk sebelah tangan,
seakan-akan semua tak pernah diperhitungkan oleh kenyataan
yang merasuk hati dan pikiran...

aku tak berharap banyak,
dari apa yang ku lakukan,
tetapi aku hanya menginginkan keadilan dari setiap ketulusan...

TERPERANGKAP

mereka tidak pernah mengerti diriku
karena aku memiliki kemerdekaan dalam jiwaku
tapi, sekarang aku terperangkap dalam satu posisi
-seperti hewan awetan-

posisi yang mereka gariskan bagiku tidak sesuai untukku
-seperti aktris yang baik dalam drama yang sangat buruk-

aku bermimpi bisa melakukan hal-hal besar
tapi, tidak ada yang berharap aku akan melakukannya
hatiku sakit karena ingin bebas
-dan menoreh nasibku sendiri di angin-

aku tidak dianggap serius
dan suatu hari mereka akan melihat apa yang tidak mereka mengerti
dan mereka akan menyesal...

Ambon, 30 Juni 2015

DINDING PUNYA TELINGA, MUNGKIN DINDING PUN AKAN MENYAMPAIKAN PADANYA

Dear whoever,
Saya tak pernah beranggapan bahwa hidup ini mudah. semua orang tak pernah beranggapan seperti itu. kepalaku serasa berputar di dalam pusaran kehidupan, di dalam otak saya yang aneh ini. Kenaoa saya menyebut saya aneh, karena saya selalu menjalani kehidupan saya dengan cara yang aneh.

sekarang ini saya terbelenggu dengan perasaan yang sebenarnya tak harus kuhadapi sejak awal. Saya berusaha sebaik mungkin agar semuanya berjalan saling berdampingan antara logika dan perasaan. Saya tak pernah membayangkan akan seperti ini jadinya. Semakin rumit dan yang ada adalah saya semakin terpuruk dalam penderitaan saya karena ingin membahagiakan orang lain. Memuakan sebenarnya.

Saya mencintai seseorang yang tak seharusnya perasaan itu  saya tujukan kepadanya. Pada awalnya, saya hanya menganggap dia hanya seorang teman atau saudara yang membutuhkan perhatian dari seorang temann. Saya tak pernah berpikir bahwa dia mempunyai sedikit issue dengan pacarnya yang membuat dia berpaling kepada saya yang polos tak berguna ini. Dia mulai menceritakan semua kisahnya, dan saya merasa berguna bagi orang yang membutuhkan. Saya berharap dapat menjadi teman jalan, sahabat, ataupun saudara yang baik bagi dirinya. ternyata itu di luar dugaan saya, dia membuat saya terjerumus jauh dalam lubang itu, yang menyebabkan diri saya terpuruk dalam kesedihan saya sekarang.

Dia merasa saya orang yang tepat bagi dirinya untuk menopangnya dan mendukungnya. Setelah itu, saya merasa ada yang lain, dia meruntuhkan tembok yang saya bangun dengan susah payah agar saya tak sampai jatuh ke lubang yang sama. Saya tak ingin sakit hati lagi. Saya berharap menemukan solusi dari perasaan konyol kepada orang yang salah. Semakin hari semakin menjadi, saya tak bisa mengontrol lagi persejajaran antara perasaan dan logika. Dan kini, pemenangnya adalah perasaan. Saya tak mengerti akan semua ini. Saya berusaha pergi dari kehidupannya, tapi begitu sulit karena takut dia merana. Saya takut membuatnya kecewa. Tetapi apakah dia memikirkan apa yang saya rasakan?

Saya menghabiskan banyak sekali waktu bersamanya, hingga terakhir saya bertemu dengannya, merubah prespektif saya akan banyak hal. Dan itu adalah masa yang membuat pertahanan hati goyah, dan runtuh seketika itu juga. Saya merasa tak berdaya jika dia pergi. Saya membutuhkan sesuatu untuk men-cover hati saya yang terluka ini dan skarang dia pergi, dia tak ingin melukai saya. Malah kepergiannya yang membuat hati saya semakin terluka. Seperti kata-kata yang tertulis pada novel THE TWILIGHT SAGA - new moon :: it's like a huge hole has been punched through my chest. it means, rasanya seperti sebuah lubang yang menganga terbentuk di dada. Dan itu sangat menyakitkan. Serasa ingin mati jika harus menahan rasa sakit ini terus menerus. Rasanya ingin lari tapi tak pernah bisa. menderita.

Tapi, akhirnya saya yang harus menyerah memperjuangkannya. sakit memang, tapi tak apalah! Ini pelajaran hidup saya, agar tak terulang lagi. Saya benci mengatakannya, tapi saya gagal lagi dan jatuh ke lubang menyakitkan yang sama. sepertinya kelinci lebih pintar dari saya.

Menyendiri, mungkin lebih baik.

Ambon, 30 Juni 2015

Love Never Fair!!!

have you ever in this situation???
LOVING SOMEONE YOU CAN NEVER HAVE...

kalimat itu begitu sederhana, tak bermakna, namun memiliki arti khusus bagi diriku...
ditakdirkan untuk berhadapan dengan situasi seperti itu sungguh menyakitkan...
ditakdirkan untuk merasakan kepedihan, berulang-ulang kali...
kadang merasa lebih baik mati, daripada terus mengalami kekejian perasaan...

ada yang pernah bilang lebih baik dicintai daripada mencintai...
apakah itu benar adanya???
apakah kita benar-benar merasa puas dengan hanya menerima cinta???
ataukah kita lebih memaknai arti cinta di saat kita mencintai seseorang???

hah, sungguh rumit...
lebih rumit daripada rumus matematika, atau senyawa kimia...
semua itu ilmu pasti, bagiku cinta adalah ilmu yang tak pernah pasti...
kadang berubah, kadang pasti, sungguh tak menentu!!!

aku, hati yang tersakiti, lagi dan lagi...
tak pernah merasakan perasaan dicintai yang sejati...
lebih banyak mencintai, dengan balasan tak pernah benar-benar dicintai...
semua perasaan yang kurasakan, yang ku luapkan, yang ku curahkan kepada seseorang, selalu dibalas dengan dusta...
mencintai dia yang sudah menjadi milik orang lain...

dia... lagi lagi dia...
seseorang yang tiba-tiba masuk dalam hidupku...
yang dari awal sudah ku anggap sebagai teman, sahabat, kakak, adik, saudara...
namun, betapa ku hanyut dalam setiap perkataannya...
ku hanyut hingga ku terperosok dalam jurang kesakitan ku sendiri...
aku berusaha, memasuki ruang dalam hatinya...
mengerti akan dunianya, hingga akhirnya aku menjadi bagian dari semua itu...

kenapa???
kenapa baru sekarang aku mengenalmu???
aku menyesal terlambat mengenalmu!!!

pernyataan itu yang dia katakan kepadaku...
pernyataan yang membuka kembali luka menganga dalam hatiku...
luka yang dulu hampir sembuh, seperti terkikis lagi dengan kata-kata itu...
luka itu kini semakin sakit...
rasanya ingin berteriak...
tapi, kepada siapa???
tak ada yang mendengar...
tak ada yang peduli...

ketika dia mendapatkan kebahagiaannya, aku dibuang...
aku tak berarti lagi bagi dirinya...
segala hal yang telah kulakukan selama ini, dia anggap hanya segenggam sampah yang berisi kemunafikan semata...
dia anggap aku tak punya hati dan perasaan, sehingga dengan mudahnya dicampakan...
sungguh, sekarang aku benar-benar merasa diriku bagaikan boneka tak bernyawa...

sekarang aku berusaha memperbaiki semuanya sendiri...
memperbaiki luka yang dia lukiskan ke dalam hati ini...
aku lebih banyak DIAM menyembunyikan semua rasa sakit ini...
aku lebih banyak menonjolkan sikap, bahwa aku kuat, bahwa aku tak pernah merasa sakit!!!
tapi, semua itu bohong!!!
semua itu cuma dusta!!!

aku memakai tameng, berlindung dari semua topeng kebahagiaanku...
karena aku hanya ingin melindungi diriku lagi, melindungi hatiku lagi...
agar aku takkan pernah terluka lagi!!!
aku hanya ingin mencegah, jangan sampai ada seseorang seperti dirinya terlalu dekat dengan diriku...
terlalu dekat dengan hatiku...
agar aku tak perlu mengobati luka ini lagi!!!
kar'na sungguh, hati ini sungguh sudah tak berbentuk lagi!!!

Ambon, 28 Juni 2015

L I F E

HIDUP, bukan hanya untuk mencari pasangan hidup!!!
HIDUP, bukan berbicara tentang kesenangan dan foya-foya!!!
HIDUP, bukan karena kamu kaya atau miskin!!!
HIDUP, bukan karena kamu tampan-cantik atau jelek!!!
HIDUP, bukan karena impian tidak tercapai!!!
HIDUP, bukan sekedar rutinitas yang fana!!!

HIDUP, adalah saat dimana banyak hal bisa dicapai...
saat dimana kita merasa sudah tak ada harapan, tapi kita terus berjuang!!!
saat dimana kemiskinan menjadi ucapan syukur, dan kekayaan menjadi sebuah kemunafikan...
saat dimana kita tak membutuhkan pendamping, tetapi seseorang yang tak disadari ada disekitar mengisi kekosongan yang hampa...
saat dimana kita meluangkan sedikit waktu untuk keluarga...
saat dimana kita bertahan walaupun bukan tujuan kita...
saat dimana kita dihina karena fisik kita, tapi kita masih tetap bangga dengan apa yang TUHAN berikan...

HIDUP, tak selamanya tentang kesenangan...
KESUSAHAN pun suatu hari dapat mendatangkanKEBAIKAN didalam hidup, walaupun kadang kita merasa sudah tak sanggup, itulah saat dimana kita menjadi sosok yang kuat...
KEJATUHAN, bukanlah alasan untuk menyerah, tetapi mengajarkan kita untuk bangkit dari keterpurukan...

HIDUP penuh dengan PERJUANGAN dan kita harus belajar untuk BERJUANG sampai akhir...

Ambon, 2 Juli 2010

Farewell

Apakah mentari tahu bumi merindukan kasih sayang?
Apakah mentari tahu siapa yang menemani bumi saat sendiri?
Apakah mentari tahu bumi sedang gersang?

Mentari tidak menyadarinya, tetapi hujan memahaminya.
Mentari tidak peka, tetapi hujan merasakannya.

Bumi memiliki mentari, hujan tak pernah menjadi milik bumi,
begitupun bumi tak pernah menjadi milik hujan
Ketika dibutuhkan, hujan selalu ada membasahi bumi.
hujan dengan tulus hati membunuh keinginannya untuk memiliki bumi
Karena hujan tahu bumi juga membutuhkan mentari

Apa salahku menjadi hujan?
Apa salahku ingin memeluk bumi?
Apa salahku membasahi bumi dengan kecupan?

Dan hujan pun tiba di penghujung bulan Juni
Sudah cukup untuk hujan tetap tinggal membasahi bumi
Sudah cukup hujan mendengar keluhan bumi
Sudah cukup hujan menguping kejenuhan karena hujan datang pada bumi

Mungkin sudah saatnya hujan pergi
Mungkin kepergian hujan dapat membuat bumi bahagia
Mungkin hujan salah telah membasahi bumi dengan cinta

Selamat tinggal bumi
Baik-baiklah disana
Berbahagialah bersama mentari

Ambon, 30 Juni 2015
#30harimenulishujan
#LastDay
#goodbye

Sunday, 28 June 2015

Jangan Pernah

Jangan pernah menatap mentari
kalau tak tahan silaunya

Jangan pernah menyentuh hujan
jika takut basah

Jangan pernah menyentuh hidup seseorang
kalau itu hanya akan menghancurkan perasaannya.

Jangan pernah menatap matanya
jika semua yang kamu lakukan hanya kebohongan.

Hal yang paling kejam adalah membiarkannya jatuh cinta
sementara kamu tidak mencintainya.

Passo, 29 Juni 2015
#30harimenulishujan
#Day29

Jikalau

Jikalau mendung
Aku mempersiapkan diri

Jikalau gerimis
Aku berlari cepat menghindar

Jikalau hujan
Aku berteduh

Jikalau semakin deras
Aku bergulung dalam diam

Jikalau hujan reda
Aku melangkah pergi

Segala sesuatu pasti ada masa kadaluarsanya bukan?
Hujan pun begitu, ada masa berhentinya.

Kau pun begitu, punya masa selesai bersamaku.

Passo, 28 Juni 2015
#30harimenulishujan
#Day28

Friday, 26 June 2015

E G O I S



mungkin aku bukan siapa-siapa
tak berarti apa-apa bagimu
sejak awal, aku hanya pelarianmu
kau dan aku sudah masuk terlalu jauh
terlampau dalam

maafkan aku
tetapi jangan salahkan aku
jika ku jatuh sangat dalam
entah karena aku terlalu rapuh
atau karena aku terlalu bodoh?

kali ini... sekali saja
dapatkah aku bersikap egois?

dapatkah aku menatap matamu
walau cuma sebentar?

dapatkah aku menyentuh wajahmu,
walau hanya sekilas?

dapatkah aku mencium bibirmu penuh gairah
walau hanya sekejap?

dapatkah aku memelukmu di bawah gerimis
walau untuk terakhir kalinya?

dapatkah aku memilikimu hanya untukku saja,
walau aku tahu kau tak akan pernah menjadi milikku?

dapatkah aku bersikap egois padamu,
walau cuma sekali saja?

Aku mohon...

Passo, 27 Juni 2015
#30harimenulishujan
#Day27

Hujan Warna Warni



Hujan warna warni, kata orang memang tak mungkin. Tapi bagi saya, bagi kami semua, itu mungkin. Tiga bulan yang lalu warna warni menghiasi langit kota. Terlampau jauh mengingat memori hujan warna warni, tetapi kenapa tidak, mengenang kembali keindahan hujan warna warni yang tak setiap hari dapat saya nikmati. 

Kesenangan bergembira, bermain warna bersama banyak orang. Orang-orang terdekat, menyenangkan. Entah itu hanya sekejap, tetapi mampu menghibur hati saya yang saat itu masih terluka. Masih membekas. Warna warni menimbulkan sensansi bahagia yang tak terucapkan oleh kata-kata. Hanya dapat saya ekspresikan saat menari gembira mengikuti alunan musik yang  di lantunkan oleh DJ.

Saat MC mengarahkan kami untuk melemparkan bubuk berwarna warni yang ada di tangan kami. Seluruh warna berbaur menyatu dengan udara di langit, dan inilah saat yang di nantikan. Hujan warna warni menghiasi langit biru di lapangan merdeka, Ambon. Tak terlupakan. Sungguh.

Tetapi setiap momen indah, pasti punya masa tenggang waktu habisnya. Begitupun juga dengan hujan warna warni kala itu. Sangat membahagiakan. Tak terucapkan. Menciptakan kegembiraan sesaat, luka yang membekas pun tak terasa lagi. Yang ada hanyalah, kenangan baru tercipta, meninggalkan seberkas luka baru yang menganga sampai hari ini.

Luka lama belum cukup sembuh, hujan warna warni menghantar ke luka yang baru yang akan bertahan lama. Saya hanya berharap, luka ini punya masa tenggang waktu habisnya juga.


Paparisa, 26 Juni 2015
#30harimenulishujan
#Day26
#acfest2015
#mangenteAmbon

Thursday, 25 June 2015

cinta menunggu



lelah... letih... lesu...
mengarungi hari dengan giat
mencoba menggapai yang belum tercapai

merasa ini sia-sia
kemudian tak berarti
hanya memenuhi permintaan
tanpa hati berkeinginan

muak sebenarnya tetapi dipendam
mencoba dengan ikhlas
menjalani dengan niat
hanya nampak di wajah

lalu terbangun dari koma sesaat
ingin kembali pulang
berisitrahat sejenak
disana ayah menunggu karena khawatir
ibu membuka pelukan menyambut

hujan deras tak berarti
hanya cinta yang menunggu di rumah...


Ambon, 25 Juni 2015
#30harimenulishujan
#Day25

Wednesday, 24 June 2015

S E L E S A I

Selesai sudah cerita dongeng saya. Dongeng yang saya harap tidak berakhir menyedihkan, lagi dan lagi, selalu berakhir dengan air mata. Sejujurnya saya sudah lelah, saya tak pernah menemukan "happy ending" milik saya sendiri. Saya malah berpikir, saya tidak layak mendapatkan akhir bahagia. Entahlah, saya tidak mengerti tetapi tidak ingin menyalahkan Tuhan, tidak menyalahkan hidup, tidak menyalahkan siapapun. Semua yang terjadi, sebagian besar karena kesalahan saya sendiri.

Ingin rasanya marah kepada Tuhan, tetapi siapa saya yang tidak layak ini menyalahkan Tuhan? Ingin mencaci maki hidup, hanya saja hidup tak akan pernah merespon kata-kata makian yang saya lontarkan. Ingin menyalahkan orang lain atas dongeng saya yang berakhir buruk, hanya saja dongeng mereka baik-baik saja. Apakah saya se-egois itu untuk menyalahkan orang lain? Saya pikir tidak.

Dan entah sampai kapan saya harus menyalahkan diri, karena saya merasa saya terlalu menyusahkan diri saya sendiri. Saya merasa terlalu peduli, terlalu peka, terlalu baik, terlalu jujur, terlalu tulus, terlalu sayang, terlalu cinta, tanpa memikirkan apa akibatnya bagi diri saya sendiri. Saya terlalu sering meminta maaf untuk hal-hal yang harusnya bukan salah saya, tetapi saya merasa tak enak hati dengan sebuah situasi yang mengharuskan saya lebih baik meminta maaf lebih dulu sebelum orang lain meminta maaf kepada saya.

Andai saja, ada makhluk mulia ciptaan Sang Kuasa, yang saya sebut manusia menghargai keseluruhan "terlalu" yang saya berikan dan curahkan dengan sepenuh hati. Ingin merasa menyesal, hanya saja saya tak ingin hal buruk yang mereka limpahkan kepada saya, merubah diri saya yang baik menjadi orang yang buruk. Saya tak ingin menjadi seburuk apa yang mereka lakukan kepada saya.

Di umpamakan seperti ini, seluruh lautan tidak akan pernah bisa menenggelamkan sebuah kapal, kecuali kapal itu bocor dan air masuk sedikit demi sedikit ke dalam kapal. Sama hal-nya dengan hal buruk yang hidup timpakan kepada saya, tidak akan pernah mempengaruhi pribadi saya terkecuali saya yang membiarkan keadaan mempengaruhi pribadi saya.

Lalu, saya terduduk dan merenung kembali tentang keseluruhan pribadi yang telah datang dan pergi dalam hidup saya, yang memberikan kebahagian maupun duka. Saya mengerti, saya telah menemukan diri saya sendiri. Bahwa saya... Saya bukan milik siapapun. Saya tak berpikir bahwa saya dapat di miliki oleh siapapun. Karena saya... Saya tak ingin di miliki. Tubuh, jiwa dan roh saya adalah milik Tuhan. Maka cerita dongeng saya pun selesai...





Quote for today: "I belong to no one. I don't think I could ever be anyone's. I didn't want to be owned. But my heart belongs to the rain." ~@nielmafransisca

saat hujan turun

 

ketika hujan turun membawa sejuta kenangan tentangmu
hanya terdengar suara rintik hujan diluar yang menemaniku malam ini
aku hanya menikmati dinginnya tanpa kehadiranmu
dan aku hanya bisa berharap kau mengingatku saat hujan turun.

ingatkah saat dulu hujan mengguyur tubuhku membasahi imajinasiku,
kau hadir di sana namun aku tak bisa memilikinya
dan di bawah rintik hujan aku menunggu sosok hadirmu
mengingat canda tawamu saat kita saling membutuhkan.

gemercik rintik hujan tak lagi terdengar
tertutup sunyi terbalut sepi saat kau tak disini.
tetapi aku mencoba bahagia saat hujan turun
karena ku dapat mengenangmu untukku sendiri.


Ambon, 24 Juni 2015
#30harimenulishujan
#Day24

Tuesday, 23 June 2015

tak ada jalan keluar



berjalan tanpa arah
hilang diterpa kegelapan
tak ada tujuan
hanya jalan kosong

belok ke kiri
belok ke kanan
tak ada pilihan
yang baik atau yang benar

hanya rasa terbebani
hanya melihat kebuntuan
hanya ada luka
hanya ada kesalahan

hari ini hujan sedang mereda
matahari sedang unjuk gigi
sementara jiwaku
hampa dan kosong


Ambon, 23 Juni 2015
#30harimenulishujan
#Day23

Monday, 22 June 2015

tidak seburuk itu



Hujan tak selamanya turun
Jangan menghindar
Jangan berteduh
Nikmati tiap tetes yang jatuh
Basah kuyuplah dengan kesedihan
Karena masih ada pelangi yang berpadu dengan mentari
Bunga masih bersemi
Dan tersadarlah bahwa hujan tidak seburuk itu.


Ambon, 22 Juni 2015
#30harimenulishujan
#Day22

Saturday, 20 June 2015

kenapa harus aku?



Saat kamu adalah miliknya,
apakah kamu memikirkan perasaanku?

Atau saat kamu membutuhkanku,
apakah kamu memikirkan perasaannya?

Lalu siapa yang egois disini?
Ataukah aku hanya seseorang "sambil lalu"-mu?

Kenapa bukan dia yang membuatmu nyaman?
Kenapa harus aku?

Kenapa bukan dia yang menjadi tempat keluh kesahmu?
Kenapa harus aku?

Kenapa bukan dia yang ada disini menguatkanmu?
Kenapa harus aku?

Kenapa bukan dia yang menemani hari-harimu?
Kenapa harus aku?

Kenapa bukan dia yang memelukmu?
Kenapa harus aku?

Kenapa bukan dia yang menciummu?
Kenapa harus aku?

Kenapa bukan dia yang peka?
Kenapa harus aku?

Kenapa matahari bersinar disaat aku ingin hujan turun
menutupi air mataku?

Kenapa?

Dan pada kenyataannya kamu tetap memilih dia.
Bukan aku.


Passo, 21 Juni 2015
#30harimenulishujan
#Day21
#Special21
#TweentyOne

Hujan & Mantan



Ada apa gerangan?
Hujan seperti menunjukkan amukkannya beberapa hari terakhir
Dan kami terduduk membicarakan mantan.

Mantan yang main kekerasan itu amukkannya seperti hujan 2 hari terakhir.
Kalau hujan mungkin tak dapat di prediksi dan di kontrol
Tetapi mantan yang habitatnya main kekerasan, harusnya dapat di kontrol dengan keputusan kita untuk menyudahi drama kekerasan itu

Dan untunglah, saya belum pernah menjalin hubungan dengan lelaki yang suka main kekerasan terhadap perempuan. Terima kasih Tuhan untuk itu.

Kopitiam, 20 Juni 2015
#30harimenulishujan
#Day20

Friday, 19 June 2015

Hujan menurut Jessica Lengkong



Hujan itu muncul karena Matahari yang memantulkan cahaya ke laut dan uap airnya naik ke awan dan menjadi titik air yang jatuh ke bumi.

Jawaban ilmu pengetahuan alam dari adek sepupu saya tentang hujan.

Mungkin seperti ini saya artikan pemahaman diatas...

Saya hadir karena dia tidak ada disisi bumi untuk menemaninya.
Lalu karena hanya ada saya di sisi bumi, maka bumi harus beradaptasi dengan cuaca tersebut.

Tau kah kamu apakah ada hujan miring?
*pertanyaan lanjutan dari statement adek sepupu saya yang tadi


Halong Atas, 19 Juni 2015
#30harimenulishujan
#Day19

Thursday, 18 June 2015

Hidup Baru

Bertemu
Bertegur sapa
Bercanda
Saling mengenal
Menjalin hubungan
Perasaan terkait
Punya visi yang sama
Tujuan yang searah
Masa depan tercipta
Mengikat janji
Berbagi kebahagian
Menempuh hidup baru bersama

Di tengah derasnya hujan
Masih ada yang berbahagia



Wedding Ruland&Jessica


Gedung Serbaguna Xaverius, 18 Juni 2015
#30harimenulishujan
#Day18

Tuesday, 16 June 2015

Bagaimana Perasaanmu?



Saya pernah menulis Menunggu Kepastian yang berbicara tentang hujan yang memilih berhenti memijakan kakinya sebentar di bumi karena dia ingin bumi menikmati waktunya bersama sang mentari.

Bagaimana perasaanmu saat tahu bahwa orang yang menyuruh kau pergi adalah orang yang paling takut kehilanganmu?

Bagaimana perasaanmu saat tahu orang yang kau kira meninggalkanmu adalah orang yang paling ingin kau bahagia?

Bagaimana perasaanmu saat kau tahu?


Paparisa, 17 Juni 2015
#30harimenulishujan
#Day17

Monday, 15 June 2015

Yang Salah

Karena yang sabar itu yang salah...

Karena yang jujur itu yang salah...

Karena yang tulus itu yang salah...

Karena yang bisa di ajak susah bersama itu yang salah...

Karena yang bisa dijadikan sahabat itu yang salah...

Karena yang selalu ada itu yang salah...

Karena yang bisa sepayung berdua itu yang salah...

Karena menjadi hujan itu akan selalu disalahkan...



Maaf karena jadi orang yang tepat di waktu yang salah...

Passo, 16 Juni 2015
#30harimenulishujan
#Day16

Masa Lalu

Menyusuri hari-hari, menjalani hidup seperti orang lain pada umumnya. Di tengah letihnya saya menjalani hidup dari pagi hingga sore, saya mendapatimu bersama seseorang, tetapi terlihat kesepian.

Kau duduk di bawah atap saat langit sedang hujan, sedang menghabiskan kopi panas. Kita duduk berhadapan, saling memperhatikan, hujan-hujanan. Saya tidak merasai hujan sebagai alasan untuk meninggalkan kesempatan menatapmu.

Seperti pada kebanyakan perempuan, entah saya menilai diri saya lebih buruk dari mereka. Saya malu mendatangimu karena saya membawa masa lalu dalam tas ransel yang terkunci dengan gembok besar rahasia. Sungguh berat.

Saya malu mendatangimu karena saya bersama masa lalu. Sesuatu yang sudah kau tahu, telah membuatmu meninggalkan saya seperti membuang bungkus kacang ke selokan.

Kau pun tersenyum ketika saya sadar kau sedang memperhatikan saya yang sibuk membaca. Lalu saya tersenyum menyisakan rasa malu.

Saya malu mendatangimu karena saya bersama masa lalu. Sesuatu yang sudah kau ketahui, akhirnya membuatmu berpikir perempuan seperti ini tidak ada baiknya sama sekali.




Passo, 15 Juni 2015
#30harimenulishujan
#Day15

Saturday, 13 June 2015

Alasan Mencintai



Engkaulah getar pertama
yang meruntuhkan gerbang
tak berujungku mengenal hidup.

Engkaulah tetes hujan pertama
yang menyesatkan dahagaku
dalam cinta tak bermuara.

Engkaulah matahari Firdausku
yang menyinari kata pertama
di cakrawala aksara.

Kau hadir dengan ketiadaan.
Sederhana dalam ketidakmengertian.
Gerakmu tiada pasti.
Namun aku terus disini.
Mencintaimu.


Passo, 14 Juni 2015
#30harimenulishujan
#Day14

Filosofi Konyol

Ketika saya sedang berbincang dengan seorang kakak tentang perempuannya. Sesi berbagi opini di mulai. Dan alhasil, saya mengambil kesimpulan seperti ini...

Dia masih memainkan peran ke-egoisannya tanpa berpikir itu benar atau salah. Dia tahu anda terlalu mencintai dia, hingga akhirnya dia berpikir anda tak akan pernah meninggalkannya. Dia salah. Anda akan pergi dan dia akan menyesal.

Dan saya teringat akan filosofi konyol milik saya sendiri tentang cuaca hari-hari terakhir ini. 

Saya sangat menantikan hujan. Bahagia tak terhingga saat hujan turun di hari ke empat bulan ini, saya merasa menang. Karena terlalu yakin akan terus turun hujan, saya tak lagi mencuci bersih sepatu kesayangan yang sangat kotor karena medan saat hujan turun. 

Beberapa hari berlalu...

Cuaca berkabut di luar jendela, masih dengan keyakinan hujan akan terus mengenangi tanah saya berpijak, memakai sepatu converse andalan yang kotornya tak terhingga. Tengah hari, matahari menunjukkan keperkasaannya. Saya menyesal, sepatu belum di cuci bersih, terlihat jorok dan dekil saat panas menyengat dari sang mentari.




Apa daya?
Saya harus tetap berjalan memakai sepatu dekil ini kan?

Kira-kira seperti itulah ceritanya...


Perjalanan Pulang, 13 Juni 2015
#30harimenulishujan
#Day13

Friday, 12 June 2015

Reda

hujan sudah reda
mungkin dia sudah lelah
atau dia sudah tak ingin basah-basahan
merindukan hujan menjadi inspirasi
tetapi kulit merindukan sengatan mentari
salahkah?

Ambon, 16 Juni 2015
#30harimenulishujan
#Day12


Thursday, 11 June 2015

Sendiri

Hari ke-11 di bulan Juni. Saat ini saya sedang duduk di dalam sebuah ruangan sambil mendengarkan instrument dari Kenny-G, menemani saya menulis dalam kesendirian. Mari saya deskripsikan isi ruangan ini seperti apa.

Ruangan ini pengap, karena di setiap sisi dindingnya di lapisi karpet peredam suara berwarna biru. Lantainya pun di tutupi oleh karpet berwarna abu-abu dan di penuhi dengan alat-alat musik yang di letakan begitu saja oleh pemilik ruangan. Seperti, keyboard, guitar electric dan alat-alat lain yang saya tak tahu jelas nama dari alat musik tersebut.

Di depan saya terdapat jendela yang sama juga di lapisi dengan karpet. Kemudian, di depan jendela terdapat meja dengan speaker sedang dan laptop yang khusus di sediakan untuk studio rekaman. Serta tak lupa, microphone untuk merekam suara, berada tepat di samping kiri saya.

Pintu ruangan ini terbuka, lampu ruangan menyala, begitu banyak sekali orang di luar sana. Sibuk dengan hiburan mereka masing-masing. Tertawa lepas dengan candaan yang konyol. Ramai. Dan saya hanya bersembunyi di ruangan yang kami sebut studio. Menenggelamkan diri dengan tulisan-tulisan.

Jujur saja, saya bukan tipe orang yang tertutup. Hanya saja, kadang saya merasa saya butuh waktu untuk diri saya sendiri. Hanya saya dan dunia yang tidak boleh di masuki oleh orang lain. Butuh waktu untuk berpikir dan merenungkan beberapa hal yang seolah tak dapat saya ucapkan kepada khalayak.

Saya mungkin dapat bercerita lepas tentang banyak hal yang pada umumnya di alami banyak orang. Tetapi saya punya prinsip saya sendiri, ada hal-hal yang sulit saya rangkai agar di mengerti oleh orang lain tentang apa yang saya rasakan. Karena saya sadar, pikiran mereka belum sampai ke jalur yang sedang saya hadapi. Atau saya merasa, saya tak ingin ada yang mengerti, karena saya tak mau mendengar pendapat mereka.

Hujan ini masih deras saja. Dan saya, masih mendambakan kesendirian saya di tengah hujan yang turun membasahi hati yang sedang gundah gulana. Aish :(




Paparisa, 11 juni 2015
#30harimenulishujan
#Day11

Wednesday, 10 June 2015

Menulis



Menulis itu seperti menerawang ke alam lain. Perenungan-perenungan akan sebuah ide-ide tertentu yang terlintas atau yang sedang di jalani, seperti merasuki jiwa dengan lamunan yang dalam tersirat makna berjuta kiasan.

Seperti mencoba memahami pribadi yang lain di dalam pikiran melalui media huruf dirangkai menjadi kata, di rubah menjadi kalimat dan di olah menjadi sebuah cerita.

Saat ini hujan dan saya harus memahami berbagai makna di balik hujan. Canda sampai ke tawa, sedih hingga ke tangis. Masing-masing punya ceritanya sendiri, punya maknanya sendiri, punya renungannya sendiri.

Hujan punya segudang inspirasi. Hari ini jujur saja, saya tak punya bayangan akan menulis apa tentang hujan. Yang saya tahu, sekarang masih hujan dan saya menikmatinya.


Ambon, 10 Juni 2015
#30harimenulishujan
#Day10

Monday, 8 June 2015

Masa Kecil



Saat kecil dulu, saya ingat setiap kali hujan turun, saya bersama teman-teman sekitar daerah pemukiman kami, bermain hujan. Sambil bermandikan hujan, kami menuturkan cerita dari hujan ini sendiri. Jadi tidak hanya ingin bermandikan hujan, kami tentu saja ingin bermain di saat hujan menetes dari langit.

Seperti hujan hari ini, kami juga selalu menikmati hujan yang deras turunnya seperti sekarang. Kata orang tua dulu, ini hujan yang dapat menyebabkan sakit atau semacamnya. Tetapi kami, tidak mengindahkan larangan orang tua kami masing-masing. Kami hanya ingin bersenang-senang di bawah tetesan hujan.

Keceriaan masa kecil saat hujan turun, mengingat saat kecil tak ada yang perlu dipikirkan. Pikiran yang polos, tak bernoda. Tak ada beban maupun tuntutan hidup. Menjadi dewasa, kita di perhadapkan dengan situasi dan keadaan yang membuat kita sulit untuk merasakan kebahagiaan dan keceriaan seperti masa kecil dulu. Tetapi menjadi bahagia dan ceria adalah pilihan, bukan?

Menyenangkan mengingat ketika kecil tak ada hal-hal berat yang perlu di indahkan. Yang perlu kami tahu hanyalah bersenang-senang dengan masa kecil saat itu. Karena masa kecil hanya satu kali terjadi. Dan ketika masa kecil itu telah berlalu, yang hinggap saat hujan turun hanyalah memori keceriaan. Sambil berselimut, menatap hujan dari balik jendela.

Masa kecil dan hujan sangat kental kaitannya. Sungguh, ingin sekali masa itu terulang kembali. Seandainya saja...


Passo, 9 Juni 2015
#30harimenulishujan
#Day9

Berkawankan Hujan

Terbangun pagi tadi, lebih tepatnya hampir siang. Bergelung dibawah selimut, saya setengah membuka mata dan membuka sedikit tirai jendela. Hujan sudah menyelimuti tanah yang kering selama lima hari terakhir. Dan entah sudah berapa kali, hati saya selalu berkata ketika hujan turun, itulah air mata saya yang tak sempat jatuh.

Entah untuk apa saya menangis. Entah untuk siapa saya menangis. Terdapat beban mengganjal dihati yang ingin sekali saya luapkan. Ingin sekali menjadi orang yang memikirkan diri sendiri untuk menyalurkan air mata itu. Tapi apakah saya mampu? Saya rasa tidak.

Menyandarkan pipi kanan saya ke tepi jendela, memandang aliran hujan yang menetes di jendela kamar. Terlihat indah, saya sentuh sisi lain jendela dengan tangan kiri saya dan merasakan aura dingin yang ikut terasa dari balik kaca yang tak tersentuh tetesan hujan. Sendu. Seperti sedang mentransfer isi hati saya kepada hujan.


Saya lalu tersadar akan satu hal, aktifitas ini sudah saya lakukan selama lima hari terakhir. Terhitung sejak tanggal 4 Juni kemarin. Semenjak saat itupun, saya merasa kesedihan saya berkurang dan saya mempunyai begitu banyak sekali alasan untuk tersenyum. Berkawan dengan hujan, membawa kesedihan saya entah melayang ke antah berantah.

Gagal. Mungkin saya sudah gagal sejauh ini. Tetapi maafkan, ketika saya memilih untuk pergi dan meletakkan hidup saya demi sesuatu yang tercipta. Saya akan merindukan kehidupan ini, tetapi saya tahu apa yang saya hadapi. Saya tahu apa yang saya pilih. Ini benar, walau sulit. Tapi hujan tak selamanya bencana. Hujan adalah bentuk anugerah. Hujan adalah kawan terbaik saya.

Katakan pada mereka kawan, saya akan baik-baik saja. Sampaikan pada mereka kawan, permohonan maaf saya yang terdalam. Di balik semua ini, hujan akan membuat kalian mengerti jalan-jalan yang saya pilih. Kira-kira seperti itulah asiknya saya berkawan dengan hujan.


Paparisa, 8 Juni 2015
#30harimenulishujan
#Day8

Sunday, 7 June 2015

Ciara - I Got You





I GOT YOUR BACK, BABY!
My Favorite...

Diskusi PARIWISATA


Terus tumbuhnya kelas menengah baru di Indonesia, menyusul pertumbuhan ekonomi, berpengaruh cukup besar pada geliat turisme, terutama di Indonesia Timur. Parawisata karenanya menjadi harapan baru pengembangan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Beberapa tahun terakhir, misalnya, spot-spot dan lokasi-lokasi parawisata baru terus bermunculan dan dipasarkan melalui berbagai macam media.

Bagaimana perkembangan parawisata di Indonesia hari-hari ini?
What is the next BIG THING dan bagaimana pemerintah-pemerintah daerah melakukan pemasaran parawisata (bagaimana seharusnya)?
ialah topik diskusi dan sharing kita sore ini.

Sebagai narasumber untuk diskusi sore nanti ialah Achmad Alkatiri, anak AMBON berumur 25 tahun yang adalah inisiator kegiatan #barondaMaluku, Former Community Manager at www.wego.id (Portal wisata dan traveling) dan Digital Marketing Mgr Accor Malaysia, Singapore & Indonesia.

diskusi akan dilangsungkan di
Paparisa #Ambonbergerak
Lorong Sagu (Samping Percetakan Negara)
No. 58 Urimessing
Senin, 8 - Juni 2015
Pukul 19:00 WIT

Saturday, 6 June 2015

Selamat Pagi


Selamat pagi Hujan
Selamat pagi wahai pujangga
Selamat pagi Sang penghuni hati
Selamat pagi Kesayangan

Ku tuturkan satu demi satu
Sedikit demi sedikit
Tetapi pasti seperti hujan
Tipis tipis menghilangkan dahaga

Ku tuturkan bagi para pujangga
Yang menanti dan terkabul
Yang setia merangkai kata menjadi kalimat dan menjadi cerita
Tentang hujan empat hari terakhir

Ku tuturkan bagi sang penghuni hati
Yang menahan hati disini ketika awalnya harus pergi
Yang tak melihat hati ketika tinggal
Tetapi menitipkan sesuatu yang indah

Ku tuturkan bagi kesayangan
Yang hidup dari takdir
Yang tercipta karena anugerah
Syukur karena kehadiran
Menemani kesendirian

Semoga hari ini lebih indah
dari segala ganjalan yang menancap di jiwa.

Ambon, 7 Juni 2015
#30harimenulishujan
#Day7

aku ingin...

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu 
kepada api yang menjadikannya abu...

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan
kepada hujan yang menjadikan tiada...




Ambon, 6 Juni 2015
#30harimenulishujan
#Day6

Friday, 5 June 2015

Lingkungan Hidup

Hujan memerlukan keberadaan lapisan atmosfer tebal
agar dapat menemui suhu di atas titik leleh es
di dekat dan di atas permukaan Bumi.

Hujan memiliki dampak dramatis terhadap kehidupan.
Semua makhluk hidup di bumi memerlukan air untuk hidup.

Terlalu banyak air atau terlalu basah
dapat mendorong pertumbuhan jamur berbahaya.

Tumbuhan memerlukan beragam jumlah air hujan untuk hidup.
Misalnya, tanaman tropis memerlukan ratusan inci hujan per tahun untuk hidup,
sementara kaktus tertentu memerlukan sedikit air.

Terkadang aku mencium adanya bau yang menenangkan
selama dan sesaat setelah hujan.
Sumber bau ini adalah petrikor,
minyak yang dihasilkan tumbuh-tumbuhan,
kemudian diserap bebatuan dan tanah
dan dilepaskan ke udara selama hujan berlangsung.

Bagiku hujan membawa kebahagian
dan aku anggap menenangkan
serta memiliki estetika yang dinikmati masyarakat.


Ambon, 5 Juni 2015
#30harimenulishujan
#HariLingkunganHidup
#Day5

Wednesday, 3 June 2015

Tetesan Surgawi

Saya masih termangu, entah apa yang terlintas ketika saya membuka mata dan hal pertama yang saya ingat adalah wajahmu. Dan tiba-tiba saya tersadar hujan telah turun. Saat itu juga, saya-pun tahu sajak-sajak maupun syair-syair yang di tuturkan beberapa hari terakhir, memanjatkan harapan akan turun hujan telah tercipta.


Hujan deras yang turun bukan karena amukan Sang Pencipta yang mendengar kata-kata indah oleh khalayak perindu tetesan surgawi. Tetapi karena Sang Pencipta hujan sejak lama rindu mendengar alunan simfoni yang terpanjatkan selama tiga hari ini.


Hari ke empat menjadi berkat keindahan yang terpancar. Malaikat bersenandung ria memainkan alat musik sambil menyanjung tinggi makhluk-makhluk sempurna ciptaan yang Esa, yang sedang memanjatkan harapan akan turunnya hujan.




Dan setiap tetes hujan yang membasahi muka bumi, menjadi imajinasi dan inspirasi termulia bagi setiap jiwa yang rindu akan jamahan sang hujan. 


Paparisa, 4 Juni 2015
#30harimenulishujan
#Day4
  

Hujan adalah Hujan


hujan adalah sebuah presipitasi berwujud cair
tidak setiap hari jatuh
tidak setiap waktu menetes
tetapi entah dibelahan dunia mana hujan ingin berkunjung
mungkin sebentar, mungkin lama
walau hanya sedikit membasahi tanah kering
atau sekedar memenuhi dahaga bumi


hujan adalah hujan
dia akan jatuh sesuka hati tanpa tahu
tanpa sadar apa yang dia perbuat
hujan hanya tahu dia jatuh tak memandang sebab
luka atau ciptakan bahagia
karena dia hujan
dia akan tetap jatuh saat dikehendaki maupun tidak


Ambon, 3 Juni 2015
#30harimenulishujan
#Day3

Tuesday, 2 June 2015

terima kasih telah hadir


Hai kamu...
Iya, kamu yang ada disitu
Kamu mungkin dapat mendengarku
Kamu juga mungkin dapat memelukku dalam diam
Sedangkan aku, aku hanya dapat menyentuh dinding lembut pelindungmu
Dapat merasakanmu walau hanya sekilas lalu



Kamu tahu, aku sedang jatuh
Terjatuh pada sebuah kesalahan
Entahlah, aku menyebutnya kesalahan karena terasa manis walau hanya sekejap
Bentuk lain dari kesalahan yang telah ku perbuat



Apakah kamu bisa merasakan kesusahanku?
Apakah kamu mengerti apa yang sedang aku perjuangkan?
Aku-pun tak mengerti
Aku masih belum bisa menempatkan diriku diwaktu nanti



Terasa berat dipikirkan
Terasa sulit dihadapi
Ingin menangis tapi air mata ini tak kunjung menetes
Mungkin karena aku tak ingin ada yang melihat kesusahanku



Hujan...
ku mohon jatuhlah sebentar
Jatuh di saat aku menangis
Agar tetesan hujan diwajahku berbaur bersama dengan menetesnya air mataku




Hai kamu...
iya, kamu jangan bersedih
Jangan terluka hatimu
Kau telah membuatku kuat
Kamu mengubah perasaanku
Kamu membuatku tak ingin menangis lagi
Kamu membuat ku punya alasan untuk mencari masa depan yang lain
Masa depan diluar semua kepedihan ini


Hai kamu...
Iya, kamu...
Terima kasih telah hadir...




Passo, 3 Juni 2015

Hujan

#30harimenulishujan
#Day3 #enwhyelkey



Berteduhlah wahai jiwa-jiwa yang rapuh
Hujan bulan juni bergemuruh menerpa bumi
Bulan pun bersembunyi di balik awan hitam
Bintang seolah tenggelam melupakan taburan cahayanya

Wahai jiwa jiwa yang lusuh
Beristirahatlah dalam tenang
Dengan carut marut cerita hidup

Nikmatilah anugerah Tuhanmu
Dalam linang air mata
Dalam ratap rindu ditengah suara sang hujan
Dalam kesendirian

Ingin kutitipkan salam cinta pada ayah dan ibu
yang setia mendekapku saat hujan itu turun

Paparisa, 2 Juni 2015

Monday, 1 June 2015

Menunggu Kepastian


Hari kedua di bulan Juni. Hari ini masih sama seperti hari kemarin, belum hujan. Dan saya, masih disini menunggu turunnya hujan. Seandainya hujan dijadwalkan oleh yang Kuasa, mungkin saya tak perlu menunggu seperti ini.



Hah... Menunggu betul-betul hal yang sungguh membosankan. Tetapi ketika saya mempunyai sebongkah harapan untuk menunggu, kenapa tidak menunggu?

Menunggu hujan turun itu bagaikan menanti sebuah kepastian. 


Kepastian...
apakah saya perlu membawa payung setiap hari, kalau-kalau hari ini bumi di kunjungi oleh khalayak tetesan air dari langit.


Kepastian...

apakah saya tak perlu menatap langit yang cerah tanpa menghalangi teriknya sang mentari dengan telapak tangan yang kebas.


Atau kah, Kepastian...

apakah saya harus menunggu kamu memilih mentari atau hujan?


Memilih mana yang betul-betul dibutuhkan, terkadang sulit. Menentukan pilihan disaat kamu tahu, mentari dan hujan adalah 2 hal yang berbeda, tetapi punya perannya masing-masing.


Karena orang yang tepat adalah orang yang tahu bagaimana memainkan perannya. Dia tahu menempatkan dirinya disituasi apapun dan dia tahu bagaimana harus mengorbankan kebahagiaannya demi kebahagiaan orang lain.


Mungkin definisi orang yang tepat adalah berkorban dan definisi berkorban adalah Cinta.



Hujan sangat mencintai bumi, karena itu dia berkorban hari ini untuk tidak turun. Karena dia ingin bumi menikmati kebahagiaan bersama mentari.



Sesimple itu...



Passo, 2 Juni 2015

#30harimenulishujan #Day2

Waktunya Bicara by Kurniawan Gunadi

Tidak selamanya cinta itu harus diam-diam. Ada waktunya ia harus diungkapkan agar dunia tahu dan kamu pun tahu, jawaban apa yang Tuhan berikan kepada diammu.

Tidurpun ada masa bangunnya Karena kamu harus menyiapkan hari ini dan menjalaninya, bertemu orang-orang yang akan mengubah hidupmu di masa depan.

Tidak selamanya cinta itu harus sembunyi-sembunyi Karena ada waktunya ia meminta keberanianmu. Untuk mempertahankannya atau melepaskannya. Dan kamu keluar dari tempat persembunyianmu untuk menunjukkan dirimu bahwa ada kamu yang selama ini mengamati.

Yang menjadi pertanyaan besar di sini adalah kapan waktu itu datang, kapan kamu harus mengungkapkan, dan kapan kamu keluar dari persembunyian. Aku tidak tahu, kamu tidak tahu. Tapi kita pernah mendengar ungkapan "biarkan waktu yang menjawab semua ini". Waktu biasanya menjawab keadaan. Dan kamu harus menyiapkan diri untuk keadaan itu kapanpun juga. Atau kamu akan kehilangan selama-lamanya tanpa tahu jawaban dari sikap diam dan sembunyi-sembunyimu.

Aku menulis ini untuk laki-laki. Seorang teman perempuanku yang hendak menikah pernah mengatakan bahwa laki-laki terlalu penakut untuk bicara dan terlalu lama bersembunyi. Sementara keadaan menuntut kepastian bicara dan keberanian, laki-laki banyak yang undur diri.

Laki-laki yang tidak siap hanya mengajak pada hubungan yang tidak jelas akhirnya, pada aktivitas yang mendekati zinah. Dan bukan itu yang perempuan butuhkan sebenarnya.

Melainkan bicaramu, keberanianmu, kepastianmu.

#30harimenulishujan

Bagi para penyair, penyanyi, penulis lagu, penulis cerpen atau apapun yang suka menulis, yang terinspirasi dengan musim HUJAN, bergabunglah dengan gerakan #30harimenulishujan.

Berikut ini adalah aturan-aturan penulisan:

- keyword "HUJAN"
- sajak, syair, puisi, lirik, cerpen, pantun, apapun itu.
- publish tulisan di blog atau di note Facebook kemudian link-nya di publish ke twitter mention @musimmenulis dengan hashtag #30harimenulishujan #Day1 atau #Day2 sampai #Day30
- setiap hari menulis 1 tulisan
- tulisan di publish dari jam 6 pagi sampai jam 9 malam
- mulai penulisan dari tanggal 1 - 30 Juni 2015

- bagi 30 tulisan terbaik mewakili ke-30 hari akan dijadikan buku #30harimenulishujan sebagai inventaris perpustakaan dari Paparisa "Ambon Bergerak"

Selamat berkarya dengan hujan di bulan Juni 2015.

 painting by TessART