Wednesday, 24 June 2015

S E L E S A I

Selesai sudah cerita dongeng saya. Dongeng yang saya harap tidak berakhir menyedihkan, lagi dan lagi, selalu berakhir dengan air mata. Sejujurnya saya sudah lelah, saya tak pernah menemukan "happy ending" milik saya sendiri. Saya malah berpikir, saya tidak layak mendapatkan akhir bahagia. Entahlah, saya tidak mengerti tetapi tidak ingin menyalahkan Tuhan, tidak menyalahkan hidup, tidak menyalahkan siapapun. Semua yang terjadi, sebagian besar karena kesalahan saya sendiri.

Ingin rasanya marah kepada Tuhan, tetapi siapa saya yang tidak layak ini menyalahkan Tuhan? Ingin mencaci maki hidup, hanya saja hidup tak akan pernah merespon kata-kata makian yang saya lontarkan. Ingin menyalahkan orang lain atas dongeng saya yang berakhir buruk, hanya saja dongeng mereka baik-baik saja. Apakah saya se-egois itu untuk menyalahkan orang lain? Saya pikir tidak.

Dan entah sampai kapan saya harus menyalahkan diri, karena saya merasa saya terlalu menyusahkan diri saya sendiri. Saya merasa terlalu peduli, terlalu peka, terlalu baik, terlalu jujur, terlalu tulus, terlalu sayang, terlalu cinta, tanpa memikirkan apa akibatnya bagi diri saya sendiri. Saya terlalu sering meminta maaf untuk hal-hal yang harusnya bukan salah saya, tetapi saya merasa tak enak hati dengan sebuah situasi yang mengharuskan saya lebih baik meminta maaf lebih dulu sebelum orang lain meminta maaf kepada saya.

Andai saja, ada makhluk mulia ciptaan Sang Kuasa, yang saya sebut manusia menghargai keseluruhan "terlalu" yang saya berikan dan curahkan dengan sepenuh hati. Ingin merasa menyesal, hanya saja saya tak ingin hal buruk yang mereka limpahkan kepada saya, merubah diri saya yang baik menjadi orang yang buruk. Saya tak ingin menjadi seburuk apa yang mereka lakukan kepada saya.

Di umpamakan seperti ini, seluruh lautan tidak akan pernah bisa menenggelamkan sebuah kapal, kecuali kapal itu bocor dan air masuk sedikit demi sedikit ke dalam kapal. Sama hal-nya dengan hal buruk yang hidup timpakan kepada saya, tidak akan pernah mempengaruhi pribadi saya terkecuali saya yang membiarkan keadaan mempengaruhi pribadi saya.

Lalu, saya terduduk dan merenung kembali tentang keseluruhan pribadi yang telah datang dan pergi dalam hidup saya, yang memberikan kebahagian maupun duka. Saya mengerti, saya telah menemukan diri saya sendiri. Bahwa saya... Saya bukan milik siapapun. Saya tak berpikir bahwa saya dapat di miliki oleh siapapun. Karena saya... Saya tak ingin di miliki. Tubuh, jiwa dan roh saya adalah milik Tuhan. Maka cerita dongeng saya pun selesai...





Quote for today: "I belong to no one. I don't think I could ever be anyone's. I didn't want to be owned. But my heart belongs to the rain." ~@nielmafransisca

No comments:

Post a Comment