Wednesday, 7 May 2014

Loving Someone I can Never Have

Pernahkah kalian berada pada situasi dimana kalian ingin menyendiri? Atau situasi dimana kalian tidak ingin di ganggu oleh siapapun? Saya pernah. Kita semua pernah merasakannya.

Saya tidak tidur semalaman. Anehnya saya tidak merasakan kantuk, hanya saja saya merasa tidak bertenaga, tidak bisa dan tidak ingin melakukan apapun. Tetapi tentu saja itu tidak mungkin. Saya masih harus beraktifitas. Dan saya harus ceria. Jangan lupa itu.

Sepanjang hari saya terus menghindari telpon. Saya tidak sanggup menjawab telpon dari siapapun. Saya takut diri ini tidak akan kuat menghadapi kenyataan. Saya seperti orang linglung. Saat beraktifitas, saya memaksakan diri tersenyum dan pura-pura ceria, tetapi begitu selesai dengan seluruh kegiatan, saya kembali seperti mayat hidup.

“Ada apa denganmu hari ini, Niel?” tanya seorang sahabat. “Kamu sakit?”
Saya tidak menatapnya. Saya hanya menggeleng pelan dan duduk bersandar.

“Biasanya suaramu sudah terdengar ke mana-mana dan kau selalu tidak bisa diam,” desaknya sambil mencondongkan tubuhnya ke depan saya. Ia semakin khawatir melihat tindak-tanduk sahabatnya ini. “Hari ini kau bahkan tidak bersuara. Ada apa?” tanyanya lagi.

Saya menyunggingkan senyum tipis dan menggeleng. “Tidak apa-apa sayang.” Saya tidak bisa menceritakan apa-apa. Tidak kepada siapapun.


Saya kembali ke tempat itu, ke bukit itu untuk kesekian kalinya. Hanya saja situasinya terasa berbeda tanpa dia. Langitnya berbeda dengan langit pada waktu bersamanya. Warna langit waktu itu begitu indah dan sepertinya alam sedang merestui kebersamaan saya bersamanya. Dan sampai matipun saya takkan pernah melupakan saat-saat terindah bersamanya di sana. Di tempat itu.

Lalu tidak seperti biasanya, berdiri di puncak bukit itu dan memandangi keindahan pantai tidak memberikan kedamaian. Saya kembali untuk menenangkan diri dan berpikir, tetapi setelah begitu lama berdiri di sana, saya tetap belum menemukan apapun. Saya masih tidak tahu apa yang harus dilakukan, masih belum bisa menerima kenyataan, masih berharap semua ini mimpi buruk dan saya akan segera terbangun.

Pikiran saya kosong, karena hati kecil saya menolak berpikir. Saya tidak merasakan apapun, karena saraf ini menolak merasakan. Lebih baik saya tidak berpikir. Lebih baik saraf saya mati rasa. Kalau tidak, saya takkan sanggup menanggung rasa sakit ini. Terlalu besar.
Ketika malam itu berakhir, malam dimana semua ini bermula. Saya merasa tidak rela. Perlahan kenyataan mulai menghampiri dan saya belum siap menerimanya. Saya bertanya-tanya dalam hati bolehkah saya hidup dalam mimpi? Apa yang terjadi kalau saya tidak mau menerima kenyataan? Apa yang terjadi?

Saat dia mengantar saya sampai ke rumah, laki-laki itu juga terlihat bimbang. Begitu dia berbalik pergi, saya merasa sebagian hati ini tercabik, sebagian diri ini ikut pergi. Tetapi saya tidak bisa melakukan apa-apa. Saya hanya bisa memandangi sosoknya yang semakin menjauh.

Sudah 1 (satu) tahun berlalu tetapi kejadian itu terasa seperti baru kemarin terjadi. Kenangan itu masih fresh di ingatan. Mengingatnya kembali membuat tubuh saya gemetar hebat dan saya terisak-isak di luar kendali. Tiba-tiba saja seluruh rasa sakit datang membanjiri tubuh saya. Dan yang paling terasa sakit adalah hati ini. Saya menekan telapak tangan saya di dada, seakan berusaha menutupi luka yang menganga disana.

Bagaimana sekarang? Saya harus bagaimana? Saya berteriak, lalu menutup mulut saya dengan sebelah tangan untuk menahan tangis yang semakin kencang. Belum pernah saya menangis sesedih ini. Ini pertama kalinya saya tersedu-sedu di luar kendali. Saya jatuh terduduk di tanah. Kedua tangan saya menutupi wajah, bahu berguncang keras dan tubuh ini masih gemetar. Kemudian saya membisikkan pengakuan, “I love him, so badly.”


Apakah ada yang tahu bagaimana rasanya mencintai seseorang yang tidak boleh dicintai? Saya tahu.

Saya memang baru mengenalnya, tapi rasanya saya sudah mengenalnya seumur hidup. Dan tiba-tiba saja saya sadar dia telah menjadi bagian yang sangat penting dalam hidup saya.

Hidup ini sungguh aneh, juga tidak adil. Suatu kali hidup melambungkan saya setinggi langit, kali lainnya hidup menghempaskan saya begitu keras ke bumi. Ketika saya menyadari dialah satu-satunya yang paling saya butuhkan dalam hidup ini, kenyataan berteriak di telinga saya dia juga satu-satunya orang yang tidak boleh saya dapatkan. Kata-kata saya mungkin terdengar tidak masuk akal, tetapi percayalah, saya rela melakukan apa saja, asal bisa bersamanya. Tetapi apakah manusia bisa mengubah kenyataan?

Satu-satunya yang bisa saya lakukan sekarang adalah keluar dari hidupnya. Saya tidak akan melupakan dirinya, tetapi saya harus melupakan perasaan saya padanya walaupun itu berarti saya harus menghabiskan sisa hidup saya mencoba melakukannya. Pasti butuh waktu lama sebelum saya bisa menatapnya tanpa merasakan apa yang saya rasakan setiap kali saya melihatnya. Mungkin suatu hari nanti (saya tak tahu kapan) rasa sakit ini akan hilang dan saat itu kami baru akan bertemu kembali.

Sekarang... Saat ini saja... Untuk beberapa detik saja... saya ingin bersikap egois. Saya ingin melupakan semua orang, mengabaikan dunia, dan melupakan asal-usul serta latar belakang saya. Tanpa beban, tuntutan, atau harapan, saya ingin mengaku.



"Saya mencintainya."

Air mata saya turun semakin deras. Jangan marah kalau saya menangis sekarang. Biarkan saya menangis sekarang. Hari ini saja. Setelah itu saya akan baik-baik saja. Apakah saya akan baik-baik saja? Entahlah. Saya ingin kehidupan normal sebelum semua ini terjadi. Tapi kehidupan normal? Kehidupan normal itu seperti apa? Saya sudah lupa. Mungkin butuh waktu, tapi saya akan baik-baik saja. Saya akan kembali beraktifitas, tertawa, dan mengoceh seperti biasa. Saya berjanji.

Keinginan saya hanya 1 (satu). Saya hanya ingin dia selalu bahagia. Walaupun saya harus menyerahkan seluruh hidup saya. Karena selama dia bahagia, saya juga akan bahagia. Sesederhana itu.

Our favorite songs. Click to download:
You by SwitchfootWhy by Secondhand SerenadeRehab by Rihanna


Quote for today: "I can think clearly through stressful situations to resolve and find a conclusion."

Tuesday, 6 May 2014

Should Marijuana Be Legalized?

Cannabis, also known as marijuana (from the Mexican Spanish marihuana), is a preparation of the Cannabis plant intended for use as a psychoactive drug and as medicine. The legality of marijuana has been a hotly debated subject for decades. Until the government of many established countries outlawed it is use, smoking marijuana had been a widespread activity for thousands of years. The question is, why not legalize it? Drinking and cigarettes are legal and as far as I know, they kill a lot of people. I haven't even heard of related deaths. People simply just don't like it because it is illegal. In moderation, it has no bad side effects. That’s why, I totally agree with the legalizing of marijuana.


All the studies used always that marijuana "may" or "should" cause lung cancer. But it has never been reported that someone had lung cancer solely from using marijuana. But smoke is harmful because of the proprieties of smoke. Any smoke could harm your lungs. But nothing in the cannabis plant ever caused lung cancer. A study has been made and showed the tobacco smoke is more harmful than marijuana smoke. Tobacco kills more people than all illegal drugs combined with accidents and aids per year. It causes over 450,000 deaths per year. Even knowing that tobacco is being the number one killer in the country, the government still plants it and sells it.

Then we got alcohol. It is responsible for the death of over 85,000 people per year. Then we got caffeine which cause from one to 10,000 deaths per year. Even aspirin causes from one to 7500 deaths per year. What about marijuana? People believe it kills from 50,000 to hundreds of billions per year. In fact no single case of death has been attributed from using marijuana in the history of the human kind from thousands of years. You have to smoke 15,000 joints in 20 minutes to die from marijuana which is almost impossible.

 
The U.S government did an experiment on monkeys to determine and see if marijuana kills or causes any damage to the brain or brain cells. The monkeys died. Six years later, it was finally released how the experiment was made. They pumped astronomical amount of smoke on monkeys. The smoke and the lack of oxygen made the monkeys suffocate and die. The dead brain cells were from the lack of oxygen and not from marijuana. Thus, the experiment results were invalid. In fact, in 2005 a study showed that marijuana could stimulate the growth of brain cells on the brain. Many studies had been done and never actually found something in marijuana that could push user to go for "hard drugs" (such as cocaine, heroin, etc...)

Because of the current status of marijuana, users are forced to deal with the black market. Prohibition could be the reason of marijuana being a gateway drug. Many black market dealers now tend to go for harder drugs. Why? It is easier to carry pills and powder that could be easily hidden. Marijuana is harder to hard and to sell. It has a strong smell so it makes it harder for dealers to carry it. But, people in some states in US and in Canada could get a medical marijuana card if they have been checked and proven by a doctor that they qualify for a card. That card helps the patient against any arresting for possession of marijuana.

Prohibition it’s also in fact has never worked. Prohibition has never stopped people from using marijuana. In 1937, it was estimated that there was 15,000 marijuana users. Now, it is estimated to be 15,000,000+ marijuana users. But marijuana being more potent now won't change its effects it had thousands of years ago. For it being more potent will just take fewer amounts from a user to get high thus, inhaling less smoke. Only 3% of the patients on the rehab system went voluntarily from being independent on marijuana. The others were either told by a judge or a guardian. Some people get the choices either going to jail or you go to a treatment. Everyone chooses to go to a treatment. They consider these people addicts. Marijuana is known to be less addictive than coffee. There are no severe withdrawal symptoms after stopping the use of marijuana. Its use can be discontinues easier than any other drugs.

Any kind benefit of Cannabis is it can be hemp. It is the most durable natural soft fiber on the surface on this planet. Since thousands of years, hemp always had many uses on the industry. A lot of medicines and clothes were made from hemp. It is said that the famous movie "Reefer Madness" caused marijuana to be illegal. It was believed that marijuana caused the user to be violent but many politicians later opposed that myth. In fact, marijuana calms and mellows the user.

So with all of that evidence, I guess marijuana is one of the most useful, if not the most useful plant known to mankind and it should not be illegal while keeping tobacco and alcohol legal. Using marijuana in comparison to using tobacco and alcohol is probably the safer and healthier choice. Tobacco is known to be highly addictive and harmful but is legal and at the same time, governments all over the world spend billions of tax payers dollars on trying to get people to quit. What a joke! What a bunch of hypocrites! At least marijuana has many beneficial uses. Marijuana use is not limited to low socioeconomic, unmotivated people. I think governments are just too lazy to revise laws and of course the powerful religious sects of the world (some of which are known pedophiles) would also have opinion about it.





Quote for today: "Drugs may be the road to nowhere, but at least they're the scenic route."

Monday, 5 May 2014

Learning to Breathe



Learning to Breathe” adalah judul lagu favorit saya yang di bawakan oleh Switchfoot, Band Rock Alternatif asal San Diego, California. Entahlah dengan maksud dan tujuan dari lagu itu diciptakan atau arti dari baris-baris lirik yang mengisi keindahan melodi dari instrument yang mudah dicerna. Tetapi kembali lagi ke perasaan saya ataupun pengertian saya sendiri ketika mendengar lagu ini.

Pertama kali saya mendengar lagu ini pada tahun 2002. Lagu ini adalah salah satu original soundtrack untuk film “A Walk To Remember” yang dirilis pada tahun yang sama juga. One of my favorite movie also. Disini saya tidak berbicara tentang filmnya, tetapi kembali lagi tentang arti lagu ini bagi saya.

Saya teringat lagi dengan lagu ini 10 (sepuluh) tahun kemudian, pada tahun 2012. Ketika saya diperhadapkan dengan situasi yang menyesakan hati, menggundahkan jiwa dan mematikan akal pikiran. Momen tersebut yang jujur saja, sangat ingin saya lupakan. Momen keterpurukan terbesar selama 21 (dua puluh satu) tahun perjalanan hidup saya dimuka bumi ini.

Bagi saya, lagu ini bercerita tentang 2 (dua) hal dari cerita kehidupan saya. Pertama, kehancuran hati  yang sungguh dalam sehingga pada waktu itu saya merasa ‘hidup tak mampu, matipun tak sanggup’. Kalimat itu mungkin terdengar sederhana, tetapi sungguh nyata terjadi dalam hidup saya pada waktu itu. Ketika momen kehancuran hati mempengaruhi seluruh keseimbangan hidup, lagu ini menciptakan tangisan hati yang tak terhingga. Air mata tak dapat menggambarkan kehancuran yang saya rasakan.

"So this is the way I say I need You
This is the way that I say I love You
This is the way that I say I'm Yours
This is the way, this is the way"

Itulah yang saya rasakan. Begitulah cara saya mengasihini diri karena menjatuhkan hati ke orang salah. Begitulah cara saya menunjukan betapa saya membutuhkan dia. Di saat dia menghancurkan saya berkeping-keping. Kalau di ibaratkan kertas, sungguh saya sudah tak berbentuk. Karena begitu hancur, sampai hancur sehancur-hancurnya.

Mungkin para psikiater menyebut saya "berfungsi normal". Saya pergi beraktifitas setiap hari; bergaul dengan teman-teman; belanja sepatu. Namun sebenarnya saya tidak benar-benar disana. Diri saya terlepas dari semua itu. Setiap pagi saya bangun dari tempat tidur, memberi makan diri saya, mengirim tubuh dan otak saya beraktifitas, sementara diri saya yang sebenarnya, jiwa saya, sedang bergelung rapat bak janin ditempat tidur, menangis meraung-raung.

Proses itu saya sebut ‘proses mengasihani diri sendiri’ atau ‘proses berkabung’ yang terjadi selama 1 (satu) tahun. Dan lagu ini menjadi minuman memabukan maupun pada akhirnya menjadi obat penenang bagi jiwa saya yang kehilangan arah.

Kedua, kebangkitan dari masa berkabung. Lagu ini menjadi obat penenang yang menghantarkan saya untuk berhenti bertindak selayaknya sampah dan melanjutkan hidup. Melanjutkan yang terhambat selama setahun. Menata hati dan hidup saya kembali dari awal. Seperti lirik lagu ini,

"I'm Learning to breathe, I'm learning to crawl. I'm finding that You and You alone can break my fall. I'm living again, awake and alive. I'm dying to breathe in these abundant skies".

Seperti itulah saya bangkit. Bagaimana lagu ini menjadi motivasi bagi saya untuk berdiri lagi setelah jatuh terlalu lama. Saya menjadi kuat, sekuat burung di langit yang belajar terbang setelah terjatuh. Mungkin terdengar terlalu klise bagi sebagian orang, tapi tidak bagi saya. Kalau ada orang yang mengenal saya secara personal, pasti mengetahui jatuh bangun saya pada tahun kelam itu. Bagaimana hidup saya begitu berantakan. Lalu saya selesai dengan pengasihanan diri dan kebodohan karena terjerumus terlalu dalam dengan situasi itu.

Saya tak menyesal pernah melakukan banyak kesalahan di masa lalu. Yang terjadi biarlah terjadi dan biarlah menjadi pelajaran bagi saya di masa yang akan datang. Karena, ada saat dimana saya muak dan lelah dengan segala pemberontakan itu. Saya sadar segala kesalahan itu tak akan pernah mendatangkan damai. Tetapi syukur kepada yang kuasa, karena kesalahan yang pernah saya hadirkan, menjadikan saya yang sekarang. Saya yang lebih kuat.

Semoga lagu ini juga bisa menjadi inspirasi dan memotivasi ke arah yang lebih baik. Ini cerita saya. Bagaimana dengan ceritamu?







Quote for today, “Don’t judge. You don’t know what storm God have asked me to walk through.