Terbangun pagi tadi, lebih tepatnya hampir siang. Bergelung dibawah selimut, saya setengah membuka mata dan membuka sedikit tirai jendela. Hujan sudah menyelimuti tanah yang kering selama lima hari terakhir. Dan entah sudah berapa kali, hati saya selalu berkata ketika hujan turun, itulah air mata saya yang tak sempat jatuh.
Entah untuk apa saya menangis. Entah untuk siapa saya menangis. Terdapat beban mengganjal dihati yang ingin sekali saya luapkan. Ingin sekali menjadi orang yang memikirkan diri sendiri untuk menyalurkan air mata itu. Tapi apakah saya mampu? Saya rasa tidak.
Menyandarkan pipi kanan saya ke tepi jendela, memandang aliran hujan yang menetes di jendela kamar. Terlihat indah, saya sentuh sisi lain jendela dengan tangan kiri saya dan merasakan aura dingin yang ikut terasa dari balik kaca yang tak tersentuh tetesan hujan. Sendu. Seperti sedang mentransfer isi hati saya kepada hujan.
Saya lalu tersadar akan satu hal, aktifitas ini sudah saya lakukan selama lima hari terakhir. Terhitung sejak tanggal 4 Juni kemarin. Semenjak saat itupun, saya merasa kesedihan saya berkurang dan saya mempunyai begitu banyak sekali alasan untuk tersenyum. Berkawan dengan hujan, membawa kesedihan saya entah melayang ke antah berantah.
Gagal. Mungkin saya sudah gagal sejauh ini. Tetapi maafkan, ketika saya memilih untuk pergi dan meletakkan hidup saya demi sesuatu yang tercipta. Saya akan merindukan kehidupan ini, tetapi saya tahu apa yang saya hadapi. Saya tahu apa yang saya pilih. Ini benar, walau sulit. Tapi hujan tak selamanya bencana. Hujan adalah bentuk anugerah. Hujan adalah kawan terbaik saya.
Katakan pada mereka kawan, saya akan baik-baik saja. Sampaikan pada mereka kawan, permohonan maaf saya yang terdalam. Di balik semua ini, hujan akan membuat kalian mengerti jalan-jalan yang saya pilih. Kira-kira seperti itulah asiknya saya berkawan dengan hujan.
Paparisa, 8 Juni 2015
#30harimenulishujan
#Day8

No comments:
Post a Comment