Tuhan, ku tahu kau mendengar doaku. Doa yang ku panjatkan setiap waktu. Waktu yang terus berjalan, hingga membawaku kepada satu titik harapan. Harapan itu terasa manis, melambai di kejauhan, serta senyum lembut menyapaku.
Hariku indah dengan telapak tangan yang menengadah. Berjuang untuk kehidupan yang berkah. Berpikir mendapatkan keadilan dari perjalanan kaki ini. Terjun bersama sang mentari. Tak terasa, di ufuk timur matahari sembunyi. Dan kuusap keringat yang menetes di pipi.
Ku kembali bercerita dengan sang rembulan yang sedikit menampakkan sinarnya. Seakan malu mendengarkan ceritaku yang hanya berujung pilu. Ia pun tertawa lepas bersama gumpalan medung di sekelilingklnya. Tapi tak mengapa, aku tetap bercerita.
Aku akan tetap pada harapanku. Berdiri melawan lelah hati. Hanya Tuhan yang masih setia menemani. Di mana dan akan kemana aku pergi, Dia tahu apa yang aku minta.
Harapan itu akan selalu ada...
Ambon, Eleven Eight Twenty Fifteen
No comments:
Post a Comment