Kematian pasangan,
perceraian, atau putusnya suatu hubungan jangka panjang dapat menimbulkan
respons yang serupa pada kebanyakan orang. Setiap orang memang merundungi kehilangannya dengan cara yang berbeda. Namun
bagi saya ada lima tahap umum berduka yang akan dilalui setiap orang, saat
meratapi hilangnya suatu hubungan.
Barangkali saya tidak
akan melalui tahap-tahap ini secara berurutan. Mungkin manusia pada umumnya
akan mengalami semua tahap ini lebih dari sekali. Terkadang suatu peristiwa
membuat kita mengalami salah satu tahap ini lagi.
Misalnya, membersihkan
lemari dan menemukan kemeja lama almarhum, atau mendengar mantan pacar akan
menikah mungkin dapat memicu kembali tahap-tahap tertentu. Seperti Lima tahap
berduka ini:
1)
Penyangkalan---Tahap “Tidak, bukan
aku.”
Tahap ini dipenuhi ketidakpercayaan
dan penyangkalan. Seperti ketika pasangan saya dulu pernah meninggal dan saya
masih berharap dia datang mengetuk pintu. Atau ketika pasangan saya sudah
meminta putus hubungan namun saya masih berharap dia akan berubah pikiran.
Konfirmasi.
Terkadang fantasi-fantasi sebelum tidur yang konstan tentang dia yang masih
menjemput dan mengantarkan saya pulang selarut apapun itu. Dalam fantasi saya, dia
selalu mengenakan sweter yang saya berikan pada ulang tahunnya yang ke-24. Dan saya
tahu, kalau saya melihatnya mengenakan sweter itu, dia datang untuk meminta
saya kembali padanya. Saya akan menghadapinya dengan kalem, tentu saja: saya
tak akan membiarkannya mengetahui jantung saya berdegup kencang. Saya akan
membiarkannya memohon berjam-jam sebelum saya akhirnya menyerah.
2)
Marah---Tahap “Mengapa aku?”
Marah pada situasi, pasangan, dan
orang-orang lain adalah hal yang lumrah. Saya marah pada orang karena telah
menciptakan situasi yang menyakitkan saya. Saya mungkin marah pada almarhum
pasangan saya karena merasa ditinggalkan. Saya mungkin marah pada suami atau
istri (ayah atau ibu, misalnya) karena meminta cerai dan memecah keluarga saya.
Saya marah.
Saya sudah melakukannya, meski hanya sebentar. Saya marah kepada dia ketika dia
pergi meninggalkan saya. Menghilang tanpa kabar. Meninggalkan saya dengan
berjuta tanya yang sampai sekarang tak pernah terjawab. Saya marah. Saat itu
menurut pikiran saya kalau memang dia pria terhormat, dia akan meninggalkan
saya dengan kejelasan tanpa membuat saya menderita hingga saat ini. Dia
benar-benar egois. Dia menghilang, meskipun menurutnya itu adalah keputusan
terbaik. Namun kemarahan saya segera pupus. Saya rasa, saya begitu tenggelam
dalam penyangkalan sehingga tak menyisakan emosi untuk marah.
3) Menawar---Tahap “Kalau saya berbuat
begini, kamu akan berbuat begitu.”
Saya berupaya tawar-menawar untuk
mengubah situasi. Kalau dulu saya kehilangan pasangan karena kematian, mungkin
saya akan menawar pada Tuhan, “Saya akan menjadi orang lebih baik kalau Tuhan
mengembalikan dia.” Atau ketika pasangan saya meminta perpisahan, saya mungkin
akan berkata, “Kalau kamu tetap tinggal, saya akan berubah.”
Tahap ini
sering saya lakukan. Kalau saya memberinya lebih banyak waktu dan menunjukkan
betapa saya mencintainya, dia akan sadar dia tak bisa kehilangan saya dan akan
berusaha keras membuka hatinya untuk saya. Tapi sekarang saya sudah tak
melakukannya lagi. Saya terlalu sibuk dengan tahap depresi.
4)
Depresi---Tahap “Ini sungguh-sungguh
terjadi.”
Saya menyadari situasi ini tak akan
berubah. Kematian atau perpisahan selalu terjadi, dan tak ada yang bisa
dilakukan untuk mengembalikan pasangan saya. Mengakui situasi tersebut kerap
membawa depresi. Ini bisa menjadi masa yang tenang untuk menarik diri,
sementara saya menyerap situasi sebenarnya.
Rasanya
saya tidak menjalani tahap depresi dengan cara yang benar. Depresi saya bukan
karena mengakui keadaan. Depresi saya hanya karena... depresi.
5)
Penerimaan---Tahap “Inilah yang
terjadi.”
Meskipun saya belum melupakan yang
telah terjadi, saya bisa mulai mengambil langkah maju.
Terkadang
mudah ketika mengatakannya. Tetapi lebih terdengar seperti mimpi bagi saya.
Saran-saran bila saya
mendadak sendiri:
Bila saya berada dalam
keadaan emosional, lebih baik saya menunda melakukan segala sesuatu sampai
pikiran saya lebih jernih. Peliharalah diri sendiri. Saya harus merawat
kesehatan spiritual, emosional dan fisik. Tak ada orang lain yang dapat
melakukannya kecuali diri saya sendiri. Makan dengan sehat, berolahraga secara
teratur dan minum vitamin. Izinkan diri saya sendiri berduka dan biarkan waktu
bagi diri saya sebanyak yang diperlukan untuk beradaptasi dengan apa yang telah
terjadi.

No comments:
Post a Comment