Thursday, 17 July 2014

Suddenly ‘Single’? Lima Tahap Berduka





Kematian pasangan, perceraian, atau putusnya suatu hubungan jangka panjang dapat menimbulkan respons yang serupa pada kebanyakan orang. Setiap orang memang merundungi  kehilangannya dengan cara yang berbeda. Namun bagi saya ada lima tahap umum berduka yang akan dilalui setiap orang, saat meratapi hilangnya suatu hubungan.

Barangkali saya tidak akan melalui tahap-tahap ini secara berurutan. Mungkin manusia pada umumnya akan mengalami semua tahap ini lebih dari sekali. Terkadang suatu peristiwa membuat kita mengalami salah satu tahap ini lagi.

Misalnya, membersihkan lemari dan menemukan kemeja lama almarhum, atau mendengar mantan pacar akan menikah mungkin dapat memicu kembali tahap-tahap tertentu. Seperti Lima tahap berduka ini:

1)      Penyangkalan---Tahap “Tidak, bukan aku.”
Tahap ini dipenuhi ketidakpercayaan dan penyangkalan. Seperti ketika pasangan saya dulu pernah meninggal dan saya masih berharap dia datang mengetuk pintu. Atau ketika pasangan saya sudah meminta putus hubungan namun saya masih berharap dia akan berubah pikiran.

Konfirmasi. Terkadang fantasi-fantasi sebelum tidur yang konstan tentang dia yang masih menjemput dan mengantarkan saya pulang selarut apapun itu. Dalam fantasi saya, dia selalu mengenakan sweter yang saya berikan pada ulang tahunnya yang ke-24. Dan saya tahu, kalau saya melihatnya mengenakan sweter itu, dia datang untuk meminta saya kembali padanya. Saya akan menghadapinya dengan kalem, tentu saja: saya tak akan membiarkannya mengetahui jantung saya berdegup kencang. Saya akan membiarkannya memohon berjam-jam sebelum saya akhirnya menyerah.

2)      Marah---Tahap “Mengapa aku?”
Marah pada situasi, pasangan, dan orang-orang lain adalah hal yang lumrah. Saya marah pada orang karena telah menciptakan situasi yang menyakitkan saya. Saya mungkin marah pada almarhum pasangan saya karena merasa ditinggalkan. Saya mungkin marah pada suami atau istri (ayah atau ibu, misalnya) karena meminta cerai dan memecah keluarga saya.

Saya marah. Saya sudah melakukannya, meski hanya sebentar. Saya marah kepada dia ketika dia pergi meninggalkan saya. Menghilang tanpa kabar. Meninggalkan saya dengan berjuta tanya yang sampai sekarang tak pernah terjawab. Saya marah. Saat itu menurut pikiran saya kalau memang dia pria terhormat, dia akan meninggalkan saya dengan kejelasan tanpa membuat saya menderita hingga saat ini. Dia benar-benar egois. Dia menghilang, meskipun menurutnya itu adalah keputusan terbaik. Namun kemarahan saya segera pupus. Saya rasa, saya begitu tenggelam dalam penyangkalan sehingga tak menyisakan emosi untuk marah.

3)      Menawar---Tahap “Kalau saya berbuat begini, kamu akan berbuat begitu.”
Saya berupaya tawar-menawar untuk mengubah situasi. Kalau dulu saya kehilangan pasangan karena kematian, mungkin saya akan menawar pada Tuhan, “Saya akan menjadi orang lebih baik kalau Tuhan mengembalikan dia.” Atau ketika pasangan saya meminta perpisahan, saya mungkin akan berkata, “Kalau kamu tetap tinggal, saya akan berubah.”

Tahap ini sering saya lakukan. Kalau saya memberinya lebih banyak waktu dan menunjukkan betapa saya mencintainya, dia akan sadar dia tak bisa kehilangan saya dan akan berusaha keras membuka hatinya untuk saya. Tapi sekarang saya sudah tak melakukannya lagi. Saya terlalu sibuk dengan tahap depresi.

4)      Depresi---Tahap “Ini sungguh-sungguh terjadi.”
Saya menyadari situasi ini tak akan berubah. Kematian atau perpisahan selalu terjadi, dan tak ada yang bisa dilakukan untuk mengembalikan pasangan saya. Mengakui situasi tersebut kerap membawa depresi. Ini bisa menjadi masa yang tenang untuk menarik diri, sementara saya menyerap situasi sebenarnya.

Rasanya saya tidak menjalani tahap depresi dengan cara yang benar. Depresi saya bukan karena mengakui keadaan. Depresi saya hanya karena... depresi.

5)      Penerimaan---Tahap “Inilah yang terjadi.”
Meskipun saya belum melupakan yang telah terjadi, saya bisa mulai mengambil langkah maju.

Terkadang mudah ketika mengatakannya. Tetapi lebih terdengar seperti mimpi bagi saya.


Saran-saran bila saya mendadak sendiri:
Bila saya berada dalam keadaan emosional, lebih baik saya menunda melakukan segala sesuatu sampai pikiran saya lebih jernih. Peliharalah diri sendiri. Saya harus merawat kesehatan spiritual, emosional dan fisik. Tak ada orang lain yang dapat melakukannya kecuali diri saya sendiri. Makan dengan sehat, berolahraga secara teratur dan minum vitamin. Izinkan diri saya sendiri berduka dan biarkan waktu bagi diri saya sebanyak yang diperlukan untuk beradaptasi dengan apa yang telah terjadi.

Karena pada dasarnya, waktu yang akan menyembuhkan luka karena waktu juga yang akan menggantikan yang telah hilang. Just get used to it!





Quote for today: "Everything is okay in the end, if it's not okay, then it's not the end."

No comments:

Post a Comment