Saat kau memilih pergi, aku tak lagi mencium aroma kopi yang kau minum
Karena akan membuatku terjaga lebih lama lagi
Lalu mau tak mau aku terpaksa harus terima
Menerima kau yang sepertinya memenuhi kepala
Karena aku tidak menkonsumsi kopi
Dan karena aromanya mengingatkanku padamu
Kau yang begitu gemar menghabiskan bercangkir-cangkir kopi
Hingga seringkali membuatku khawatir perihal lambungmu yang dibuatnya nyeri
Karena sejak kau pilih pergi, aku menulis berkali-kali setiap hari seolah kata-kata enggan untuk mati
Sungguh tidak sama sekali!
Saat aku memilih pergi, aku tak sudi lagi menulis
Karena akan membuatku berceloteh sendiri
Lalu mau tidak mau aku akan menyeduh segelas kopi
Bukan aku membenci
Tapi karena tiap katanya selalu terbawa mimpi
Sebab tiap diksi semakin membawaku ke alam imaji
Membuatku terus berjuang melawan pikiranku sendiri
Bersama segelas kopi hari-hariku tak lagi sepi
Sejak hatiku kau bawa pergi, Tuhan berjanji akan ada satu waktu nanti... Kau akan merindukan tulisanmu bersamaku dan segelas kopi
Kenapa kau memilih pergi?
Bila kau jelas menyadari hatimu telah ku bawa pergi?
Kau tahu? Bahagiamu saat bersamaku, takkan terganti.
Aku memilih pergi agar tiada dari kita yang tersakiti
Sebab hatiku kau bawa pergi, aku memilih menyepi bersama segelas kopi
Kau memilih pergi agar diantara kita tak ada yang tersakiti?
Lalu apa yang kita dapati hari ini?
Bukankah berpisah justru membuat luka parah?
Kenapa kau lebih memilih menghabiskan segelas kopi sendiri?
Kenapa kau lebih memilih menahan rindu yang katamu paling nyeri?
Bila cintamu bukan pura-pura,
Buktikan dengan tindak nyata
Jangan diam ditempat saja!
Segelas kopi akan kuseduhkan lagi untukmu nanti!
Aku pergi bukan sebab tak cinta lagi
Namun aku takut kamu akan tersakiti
Sebab egoku kadang menguasai diri ini
Karena hanya namamu yang selalu kusebut dalam doa
Biar malaikat mencatat dan semoga Tuhan mengabulkannya
Ini setiaku padamu dan semesta
Baiklah!
Mari kita lihat sejauh mana kita sanghup menjaga jarak!
Bersama segelas kopi, kutulis puisi dini hari, untukmu di waktu pagi, dengan rindu yang abadi.
Semoga Tuhan merestui
Semoga kita sanggup menjaga cinta agar tetap hidup sampai di ujung jalan nanti
Bahwa jarak bukan lawan yang hebat!
Yang sanggup membuat cinta begitu saja berpindah tempat.
Doa tulus kita,
Lebih hangat dari sebuah peluk, lebih manis dari sebuah kecup.
Serupa puisi yang senja kemarin ku tulis
Jaketku takkan pernah lama terlihat rapuh
Ia akan selalu menjadi saksi perihal aku
Aku yang selalu menjadi perempuan pendoamu setiap hari.
Serupa harum kopi di pagi hari
Doa-doamu terbit menyamangati jiwa ini
Kelak, akan kupastikan kepadamu
Wahai wanita pendoaku...
Itulah hari dimana kaulah lelaki yang bertanggung jawab atas hidupku
Berimanlah...
No comments:
Post a Comment