Monday, 28 September 2015

Argumen Kopi

AKU:
Saat kau memilih pergi, aku tak lagi mencium aroma kopi yang kau minum
Karena akan membuatku terjaga lebih lama lagi
Lalu mau tak mau aku terpaksa harus terima
Menerima kau yang sepertinya memenuhi kepala

Sejak kau pilih pergi, aku tak lagi menyeduh kopi
Karena aku tidak menkonsumsi kopi
Dan karena aromanya mengingatkanku padamu
Kau yang begitu gemar menghabiskan bercangkir-cangkir kopi
Hingga seringkali membuatku khawatir perihal lambungmu yang dibuatnya nyeri

Ketika kau memutuskan pergi, aku tak duduk di rumah kopi untuk menulis 
Karena sejak kau pilih pergi, aku menulis berkali-kali setiap hari seolah kata-kata enggan untuk mati

Saat kau ingin pergi, aku benar-benar tidak ingin mendengar tentang kopi.
Sungguh tidak sama sekali!


KAU:
Saat aku memilih pergi, aku tak sudi lagi menulis
Karena akan membuatku berceloteh sendiri
Lalu mau tidak mau aku akan menyeduh segelas kopi

Sejak aku pergi, aku tak sudi lagi menulis
Bukan aku membenci
Tapi karena tiap katanya selalu terbawa mimpi

Ketika aku pergi, aku tak sudi lagi menulis
Sebab tiap diksi semakin membawaku ke alam imaji
Membuatku terus berjuang melawan pikiranku sendiri

Saat aku pergi, aku tak sudi lagi menulis
Bersama segelas kopi hari-hariku tak lagi sepi
Sejak hatiku kau bawa pergi, Tuhan berjanji akan ada satu waktu nanti... Kau akan merindukan tulisanmu bersamaku dan segelas kopi


AKU:
Kenapa kau memilih pergi?
Bila kau jelas menyadari hatimu telah ku bawa pergi?

Kenapa kau pilih pergi lalu memilih hari hanya berdua bersama segelas kopi?
Kau tahu? Bahagiamu saat bersamaku, takkan terganti.


KAU:
Aku memilih pergi agar tiada dari kita yang tersakiti
Sebab hatiku kau bawa pergi, aku memilih menyepi bersama segelas kopi

Menahan rindu paling nyeri, karena ketulusanmulah aku masih sanggup berdiri, hingga detik ini. Dan benar adanya, bahagiaku saat bersamamu, takkan terganti.


AKU:
Kau memilih pergi agar diantara kita tak ada yang tersakiti?
Lalu apa yang kita dapati hari ini?
Bukankah berpisah justru membuat luka parah?

Bila kau diberi pilihan yang lebih baik dari apa yang kau pilih hari ini,
Kenapa kau lebih memilih menghabiskan segelas kopi sendiri?
Kenapa kau lebih memilih menahan rindu yang katamu paling nyeri?

Aku masih ditempat yang sama
Bila cintamu bukan pura-pura,
Buktikan dengan tindak nyata
Jangan diam ditempat saja!

Untuk pertama kali setelah kau pergi,
Segelas kopi akan kuseduhkan lagi untukmu nanti!


KAU:
Aku pergi bukan sebab tak cinta lagi
Namun aku takut kamu akan tersakiti
Sebab egoku kadang menguasai diri ini

Cintaku bukanlah cinta pura-pura
Karena hanya namamu yang selalu kusebut dalam doa
Biar malaikat mencatat dan semoga Tuhan mengabulkannya
Ini setiaku padamu dan semesta

Dan dalam puisi, semuanya akan abadi, hingga aku mati.


AKU:
Baiklah!
Mari kita lihat sejauh mana kita sanghup menjaga jarak!


KAU:
Bersama segelas kopi, kutulis puisi dini hari, untukmu di waktu pagi, dengan rindu yang abadi.

Tapi kita percaya, dalam jarak kedua ujung jalan kelak dan bertemu, mempertemukan dua ketabahan dengan rindu yang tersembunyi.


AKU:
Semoga Tuhan merestui
Semoga kita sanggup menjaga cinta agar tetap hidup sampai di ujung jalan nanti

Sebagai bukti,
Bahwa jarak bukan lawan yang hebat!
Yang sanggup membuat cinta begitu saja berpindah tempat.


KAU:
Doa tulus kita,
Lebih hangat dari sebuah peluk, lebih manis dari sebuah kecup.

Saat jarak menyiksa, hadiahi aku itu saja.


AKU:
Serupa puisi yang senja kemarin ku tulis
Jaketku takkan pernah lama terlihat rapuh
Ia akan selalu menjadi saksi perihal aku
Aku yang selalu menjadi perempuan pendoamu setiap hari.


KAU:
Serupa harum kopi di pagi hari
Doa-doamu terbit menyamangati jiwa ini
Kelak, akan kupastikan kepadamu
Wahai wanita pendoaku...

Akulah yang akan berdiri sejengkal di depanmu; menjadi imammu...


AKU:
Itulah hari dimana kaulah lelaki yang bertanggung jawab atas hidupku

Hari dimana aku akan melakukan ini dan itu atas ijinmu

Hari dimana aku akan menyeduhkan segelas kopi untuk kembali menemaniku menulis puisi

Hari dimana aku akan berbakti tanpa henti padamu


KAU:
Berimanlah...

No comments:

Post a Comment