Friday, 25 September 2015

Potret

Beberapa hari yang lalu, aku melihat potret instagram-mu bersamanya. Saling berdampingan. Entah momen apa yang kalian rekam dalam potret itu, rasanya aku ingin mengetahuinya. Dan hal yang membuatku mendadak tidak karuan adalah kedua bibir kalian saling bertukar senyum. Bahagia.
Padahal, beberapa bulan terakhir ini kita juga sebahagia itu.

Sudah lama sekali rasanya hari-hari berlalu. Aku telah lama memutuskan menjadikanmu duniaku, yang sesekali mengorbit pada dirimu. Lalu, potret itu berhasil membuatku muram. Bukan. Bukan karena dia berdampingan denganmu, tapi karena bukan aku yang lebih dulu mendampingimu.
Padahal, di waktu yang sama aku juga sangat ingin bersama-sama... Mendampingimu.

Hal yang membuatku sedih adalah ketika kamu memamerkan kebahagiaanmu dengannya, lalu mengabaikanku. Seakan-akan aku tercipta hanya untuk dilewati olehmu. Aku tidak peduli kamu bersama si ini atau si itu, tapi aku benci saat kamu bisa dengan seenaknya datang, membuatku jungkir balik, lantas pergi begitu saja.
Padahal, aku telah percaya kamu tidak akan sejahat itu padaku.

Pilihannya selalu ada di tanganmu, kasih. Tetap menyayangimu setelah dibuat berantakan adalah pilihanku. Aku berusaha untuk ada, sesibuk apapun aku. Lalu aku memaksa diri untuk tidak lagi menyapamu, karena merasa tidak benar-benar diinginkan olehmu.
Padahal, aku sedang sayang-sayangnya denganmu.

Ah lucu sekali rasanya, ketika melihat sebuah potret saja mampu membangkitkan kenangan dan rasa-rasa yang tertinggal. Namun jujur, di setiap detik, aku bersyukur, karena berkatmu, tulisan-tulisan ini ada. Mungkin kamu akan selalu melihatku sebagai perempuan lemah yang ingin dicintai.
Padahal, aku masih menyayangimu lebih dari orang lain pernah menyayangimu.

Dan aku tahu aku tak akan pernah baik-baik saja tanpamu.
Karena sebenarnya, aku rindu.

No comments:

Post a Comment