Suara ketukan itu mengusik ketenangan.
Kupikir itu kamu, ternyata teguran kematian.
Suara nafas itu menghadirkan kenangan.
Kupikir itu rindu, ternyata panggilan kematian.
Suara-suara itu memaksa ku untuk mengusir kebahagiaan.
Dentingan lonceng terdengar seperti ancaman.
Keresahan semakin menjadi, seakan tak kenal ampun.
Jiwa ini terlanjur terpaut ada kenestapaan.
Memilih haru; raga ini jauh terjerumus kesesatan.
Jalan yang ditempuh menghadirkan ragu,
Kemana harus ku melangkah?
Apa di sana tempat ku berlari menjauh?
Benarkah lokasi ini aman untuk bersembunyi?
Kematian semakin terasa menjamah tubuh.
Malaikat maut duduk manis menunggu sambil bertanya, "Sudahkah kau siap ikut denganku?"
"Tidak." Terlontar cepat dari bibir ini.
"Aku belum siap bahkan tidak siap untuk ikut denganmu", lanjutku.
Tanpa berucap kata atau tanya, malaikat maut hanya menatap tajam sambil tersenyum sinis.
Dan aku pun penuh paksa bergegas kabur, sekencang-kencangnya ku berlari entah menuju kemana.
Sejelas-jelasnya aku teriak tapi tak ada satu pun yang mendengar.
Sampai aku sadar aku terjebak dalam belantara sukmaku sendiri yang penuh dengan gersang ladang keduniawian.
Tuntun aku, bantu aku, sadarkan aku.
Aku butuh siapa saja yang bisa membawa ku pergi dari kegelisahan dan kemunafikan yang menjebak jiwa.
Sampai aku kembali pada jalan Tuhan yang penuh dengan kebenaran.
Siapapun itu!?
Walau ku tahu hanya diri ini lah yang mampu menuntun keluar dari terjangan kematian yang mengancam.
Tapi munafiknya, aku butuh sosok itu.
Dan aku masih inginkan surga yang kekal.
Ambon, 11 Desember 2015
No comments:
Post a Comment