"Aku membacanya dari layar ponselku. Hanya sebuah jawaban samar---sekedar menenangkan---lantas aku pura-pura terpejam.
Dari kegelapan yang dilantarkan sepasang kelopak mataku, terdengar gumaman seseorang, tepatnya melayangkan pertanyaan padaku, "jadi kau masih berpikir untuk bertahan?" Ada nada sinis yang ditekankan di ujung kalimat tanyanya, sedikit disamarkan dengan desis senyum tipis---yang entah kenapa menurutku menambah irama sarkas. "Mungkin sedikit lagi. Mungkin." Jawabanku terdengar optimis, meskipun dari suaraku sendiri aku mendengar bahwa rasa putus asa sudah berdengung di udara.
Aku tidak tahu sedang memerangi siapa saat ini; antara optimisme yang semakin tidak masuk akal atau hanya sekedar mempertahankan ide bahwa sesekali waktu bisa menjadi sahabatku. Tidak ada yang pernah tahu mana yang bisa dijadikan pegangan. Tidak juga kamu.
Sekali lagi, dari ruang gelap yang tercipta di balik kelopak mata, aku mengucapkan 'selamat malam' non verbal yang rasanya terdengar jauh menyedihkan daripada malam-malam sebelumnya. Ternyata aku sungguh lelah."
- kutipan satir pengantar tidur berjudul 'Hilang'
Jogjakarta, 21 November 2015
No comments:
Post a Comment