Thursday, 21 April 2016

Pencitraan?

Sebenarnya apa yang salah dari “Pencitraan”?

Mengapa setiap dihadapkan dengan kata tersebut kesannya selalu negatif? Kesannya membentuk citra yang bukan dirinya sendiri, padahal belum tentu begitu. Bisa saja yang sedang seseorang tampilkan adalah sisi yang ingin ia nampakkan di depan seseorang, di suatu kondisi tertentu atau di tempat yang ia inginkan untuk mempertontonkan sisi ia yang lain --- yang mungkin saja berbeda dengan sisi yang ia perlihatkan di tempat lain. Bukan berarti menjadi sosok yang bukan dia, hanya saja menyembunyikan yang tidak ingin ia bagi dan menampilkan apa yang ingin ia perlihatkan.

Kalau ditelisik dari arti katanya sendiri, pencitraan berasal dari kata baku “citra” dengan penambahan awalan dan akhiran. Secara keseluruhan merupakan suatu kegiatan membentuk citra mental pribadi atau gambaran sesuatu. Sayangnya, sering salah arti. Seolah pencitraan adalah hal buruk di mana seseorang mengenakan topeng yang bukan dia, tetapi memakai topeng orang lain.

Beberapa waktu lalu saya terlibat pembicaraan mengenai ini dengan salah seorang teman. Katanya, saya seperti memiliki kepribadian lain, semacam alter ego. Karena yang dia lihat saya melalui tulisan tulisan saya berbeda sekali dengan ketika kami bertemu langsung. Hahaha saya tertawa saja.

Kadang saya juga merasa saya memiliki kepribadian ganda. Pasalnya, sikap saya berbeda-beda. Dan saya menyadarinya. Di media social saya begini terkadang begitu, di chat saya seperti itu, bertatap muka pun seperti apa, padahal saya seperti begini saja aslinya; ceriwis.

Saya sering bertanya pendapat orang lain, apakah saya terkesan pencitraan? Dan jawaban rata-rata mengatakan ‘tidak’. Wajar kata mereka. Yang dapat saya simpulkan adalah, saya bukan terkesan pencitraan tetapi lebih kepada ‘menempatkan diri’.

Semua orang berhak untuk melakukan pen citraan. Sah saja jika seseorang ingin mencitrakan dirinya sebagai orang baik, murah senyum, atau sebagai orang yang ketus, keras kepala, arogan, dan sebagainya. Boleh saja. Kenapa tidak/ asa yang ia citrakan yang ia citrakan adalah ia yang sebenarnya, bukan malah mencitrakan apa yang tak ada pada dirinya hingga meminjam topeng tetangga. Kenakan topeng milik sendiri saja, kasarnya.

Tapi bagi saya, yang lebih penting dari pencitraan itu sendiri adalah bagaimana saya menempatkan diri. Menempatkan diri di satu circle. Membagi porsi apa yang mau ditampakkan, apa yang mau disembunyikan sama pentingnya. Karena tidk bisa juga menampilkan semua gambling di depan umum. Karena itu, saya memilih apa yang ingin saya perlihatkan. Biar mereka yang dekat, dalam arti sebenarnya tahu baik, buruk, menggemaskan, menyebalkannya saya. Mereka yang sekedar tahu, biar saja tahu sebatas permukaan. Menerka-nerka ada apa saja di dasar dan menebak kira-kira berapa kedalaman. Jadi, intinya pandai-pandailah menempatkan diri. Bukan meng-cover diri menjadi orang lain. Jelas beda. Hanya saja, tampakkan yang mau diperlihatkan. Sembunyikan apa yang tidak mau dipertontonkan.

Demikian. Salam Kartini.



Ambon, 21 April 2016

No comments:

Post a Comment