Sebenarnya apa yang salah dari “Pencitraan”?
Mengapa setiap dihadapkan dengan
kata tersebut kesannya selalu negatif? Kesannya membentuk citra yang bukan
dirinya sendiri, padahal belum tentu begitu. Bisa saja yang sedang seseorang
tampilkan adalah sisi yang ingin ia nampakkan di depan seseorang, di suatu
kondisi tertentu atau di tempat yang ia inginkan untuk mempertontonkan sisi ia
yang lain --- yang mungkin saja berbeda dengan sisi yang ia perlihatkan di
tempat lain. Bukan berarti menjadi sosok yang bukan dia, hanya saja
menyembunyikan yang tidak ingin ia bagi dan menampilkan apa yang ingin ia
perlihatkan.
Kalau ditelisik dari arti katanya
sendiri, pencitraan berasal dari kata baku “citra” dengan penambahan awalan dan
akhiran. Secara keseluruhan merupakan suatu kegiatan membentuk citra mental
pribadi atau gambaran sesuatu. Sayangnya, sering salah arti. Seolah pencitraan
adalah hal buruk di mana seseorang mengenakan topeng yang bukan dia, tetapi
memakai topeng orang lain.
Beberapa waktu lalu saya terlibat
pembicaraan mengenai ini dengan salah seorang teman. Katanya, saya seperti
memiliki kepribadian lain, semacam alter ego. Karena yang dia lihat saya
melalui tulisan tulisan saya berbeda sekali dengan ketika kami bertemu
langsung. Hahaha saya tertawa saja.
Kadang saya juga merasa saya
memiliki kepribadian ganda. Pasalnya, sikap saya berbeda-beda. Dan saya
menyadarinya. Di media social saya begini terkadang begitu, di chat saya
seperti itu, bertatap muka pun seperti apa, padahal saya seperti begini saja
aslinya; ceriwis.
Saya sering bertanya pendapat
orang lain, apakah saya terkesan pencitraan? Dan jawaban rata-rata mengatakan ‘tidak’.
Wajar kata mereka. Yang dapat saya simpulkan adalah, saya bukan terkesan
pencitraan tetapi lebih kepada ‘menempatkan diri’.
Semua orang berhak untuk
melakukan pen citraan. Sah saja jika seseorang ingin mencitrakan dirinya
sebagai orang baik, murah senyum, atau sebagai orang yang ketus, keras kepala,
arogan, dan sebagainya. Boleh saja. Kenapa tidak/ asa yang ia citrakan yang ia
citrakan adalah ia yang sebenarnya, bukan malah mencitrakan apa yang tak ada
pada dirinya hingga meminjam topeng tetangga. Kenakan topeng milik sendiri
saja, kasarnya.
Tapi bagi saya, yang lebih
penting dari pencitraan itu sendiri adalah bagaimana saya menempatkan diri. Menempatkan
diri di satu circle. Membagi porsi apa yang mau ditampakkan, apa yang mau
disembunyikan sama pentingnya. Karena tidk bisa juga menampilkan semua gambling
di depan umum. Karena itu, saya memilih apa yang ingin saya perlihatkan. Biar mereka
yang dekat, dalam arti sebenarnya tahu baik, buruk, menggemaskan, menyebalkannya
saya. Mereka yang sekedar tahu, biar saja tahu sebatas permukaan. Menerka-nerka
ada apa saja di dasar dan menebak kira-kira berapa kedalaman. Jadi, intinya
pandai-pandailah menempatkan diri. Bukan meng-cover diri menjadi orang lain. Jelas
beda. Hanya saja, tampakkan yang mau diperlihatkan. Sembunyikan apa yang tidak
mau dipertontonkan.
Demikian. Salam Kartini.
Ambon, 21 April 2016

No comments:
Post a Comment