Padamu, lelakiku.
Kiranya berkenan olehmu untuk memberiku kesempatan menceritakan apa yang kurasakan setelah kau bertamu ke rumahku kala itu. Apakah kau penasaran juga tentang itu? Memang semua itu juga seakan terjadi diluar prakarsaku. Aku pikir ada semacam ilham yang membuatmu harus melakukannya, panggilan jiwa sepertinya, selain pula rasa malu yang terus mendera yang selalu kau sebutkan setiap kali kau pulang.
Baiklah, kiranya kuceritakan saja, ya.
Aku tahu, kau sebenarnya lelaki pemalu. Kau bukan seperti teman-teman lelakimu yang lain yang begitu penuh jam terbang dalam menjalin hubungan, namun kamu juga bukan seorang lelaki yang kuat betul hidup dalam kesendirian. Selama ini kau hanya mencoba mencari kesibukan berarti, begitupun tampaknya kau selama ini. Suatu kali, seakan-akan jalan menujuku terbuka setelah kau rasakan kenyamanan kala menyapamu ringan hingga menceritakan hari-hari yang dilalui bersama. Akupun merasakannya. Rasa yang tertambat perlahan, namun begitu sulit sekali dibahasakan. Kau bilang jalani saja, seperti semilir angin senja. Dan aku setuju, sedangkan kau tersenyum dari bilangan jarak tertentu. Aku mengangguk, memahami kedekatan yang seakan tak perlu dilihat dari dekat. Mungkin aku hendak menjaga diriku, kau tak tahu. Yang jelas, itu mungkin lebih selamat dan menyelamatkan bagiku.
Ah waktu pun berlalu. Hampir semua orang tahu, cerita kau dan aku. Teman-temanmu mulai menyikut, bertanya bagaimana caranya mendapatkan perhatianku. Kau hanya tertawa, entah mudah atau tidak, toh kita sudah menjalaninya. Kicauan itu seakan tak berarti lagi, biasa saja. Padahal aku sendiri tahu persis selama ini membangun hubungan dengan lelaki hanya mentok dikecewakan. Maka, bolehkah aku sedikit bangga pada sosokmu, lelakiku?
Tapi satu kali aku malu benar rasanya, mengingat saran teman-temanmu yang lain soal kedekatan yang sudah terlampau larut ini. Muncul pertanyaan dalam benak, apakah kamu akan segera memastikanku? Memastikan ku betul-betul dalam genggaman erat dibawah naungan restu Tuhan berserta keluarga, bukan restu sekedar "ciee-ciee" bermakna kosong dari teman-teman saja. Kau terhenyak dan berpikir dalam, sedangkan kau selalu berkata kau saja belum selesai pada dirimu sendiri dengan perempuan itu. Bagaimanakah ini, sedang semua sudah berlanjut lebih lama dari yang kita berdua kira. Bila kau menjadi aku, maka mungkin akan kau tanyakan juga kepastian ini, meski sampai sekarang tak ada tanda-tanda darimu melakukan sesuatu. Mungkinkah aku sekian lama ini bersabar untuk menunggumu?
Karena itulah bulat bagimu untuk melangkah lebih jauh, setidaknya untukmu lebih dalam mengenalku. Kau ingin tahu keluargaku (walau kau sudah cukup mengenal kedua kakak lelakiku), bagaimana rupa ayahku, bagaimana wajah ibuku. Kau ingin kenal saja, merasakan hal yang belum kau rasakan sebelumnya tentang mengenal orang-orang terdekat yang mencintaiku. Di luar sana, masih saja ada lelaki yang mengumbar janji dan terlampau dekat pada perempuannya, namun mengenalkan diri pada keluarga perempuannya saja enggan. Sedangkan kamu, meski tidak jauh lebih baik, setidaknya tidak berjanji apapun tapi sudah berani untuk mengunjungi keluargaku, juga setidaknya ibuku tahu siapa lelaki yang berani-berani mencuri hati anak perempuannya itu~
Bukan mudah meyakinkan diriku sendiri tentang ini. Memang, kau pernah berkali-kali pernah bertamu kerumah perempuan, tapi tak seperti ini. Mungkin telah puluhan kali juga kau berbincang dengan para ibu, tapi tak seistimewa ini. Ini jelas berbeda, dengan maksudmu yang hanya untuk berkunjung saja! Kau pahami sikapku terkejut seperti awan tenang tersapu angin ribut, menannyakan bahwa apakah kau benar-benar yakin ingin bertamu? Jawabmu, ya. Kau sudah bulat betul ingin datang ke rumah, perempuanmu.
Hari itupun tiba. Kau tak melewatkan suatu apapun. Kau tiba persis di hadapan rumahku tanpa telat, tanpa tersesat. Tapi kau rasakan kegugupan menjalari sekujur tubuhmu. Kau bilang sedari awal kau pemalu tapi kau sudah sejauh ini, kau pun tak peduli bila sebagian lelaki di dunia ini menertawakanmu hari itu karena katamu memang rasanya pertama kali itu begini dan harus kau hadapi. Tampak aku menunggu di beranda dengan senyuman termanis, senyum bahagia, sedang kau hanya mengangguk ragu, selangkah mendekati pintu rumahku. Gelagapan kau mengucap salam, karena disampingku telah ada sosok yang mencintaiku, ibuku yang ingin kau kenal itu.
Kau menyapa ibuku, lalu masuk dan ikut menyapa ayahku yang memasang raut wajah sama persis seperti setiap kali ada teman lelakiku yang bertamu di rumah. Memang tak setampan dulu, tapi masih menyisakan ketegasan. Senyum ibuku, ada rona kelembutan sekaligus kekuatan yang begitu besar menyambutmu dengan hangat. Kau pandangi mata ibuku dan kau lihat ada binar yang berbeda, semacam pandangannya pada anaknya sendiri. Aku tahu, ingin sekali rasanya kau ingin berucap terima kasih pada ibuku yang telah menyambutmu dengan kasih sayang. Entah, meski tak kau ucapkan, kau memberikan senyum ketulusan bahagia kepada ibuku. Yang sekarang menjadi tugasmu untuk menghormati mereka dengan cara menjaga dan mengasihiku.
Pada waktunya, ternyata semua lancar-lancar saja tak seperti yang kau duga seperti adegan drama. Kau tak merasa tersudutkan seperti pemeran laki-laki yang mendatangi rumah perempuannya. Hingga pada waktunya, kau berpamitan pulang. Kau pamit kepada ayahku yang sedang sibuk dengan laptopnya, sedang ibuku yang mengantarmu dengan sukacita dan penuh tawa bahagia. Setidaknya hari ini berlalu dengan baik dan hilang sudah bebanmu. Dengan lega kau pergi meninggalkan rumahku, seiring kesan yang akan selalu kau ingat dalam benak.
Lelakiku,
Aku tahu sepulang dari rumahku, kau tak berteriak lega. Malah mungkin semakin dalam kau berpikir dan menyadari diri. Kau sadari, kau masih dalam proses belajar, belum bekerja, jelas masih mengejar masa depan. Kau selalu bilang bahwa kau tak punya apa-apa dan belum jadi siapa-siapa. Menurutku, pola pikir lelaki akan selalu sama, seperti yang juga kau tunjukkan padaku, bahwa kemapanan seorang lelaki akan jadi pondasi harga diri. Bukan soal harta benda, melainkan sikap dan karakter dalam memandang hidup yang utama.
Kau juga mungkin mengingat setiap sambutan hangat ibuku, yang tanpa sadar menjadi ultimatum bagimu untuk menjaga diriku. Mungkin kau selalu berkata, kau bukan siapa-siapa, bukan yang berkewajiban menjagamu layaknya ayah dan kakak-kakak lelakiku. Tapi ibuku seakan percaya padamu, itu saja. Juga secara harafiah, mungkin menurutmu ibuku meminta pula agar jangan sampai kau menyakiti hatiku. Dan pintaku hanya satu, jangan pernah kecewakan kepercayaan ibuku. Karena jika suatu saat anak perempuannya pulang kepangkuan ibunya dan menangisi sakit hati yang dideritanya, maka saat itulah kau telah mengecewakan ibunya. Berjanjilah, jangan sampai ibuku kecewa karena telah menyambutmu dengan kasih sayang.
Kusimpulkan saja, kedatangananmu bertamu dirumahku berarti sebuah tanggung jawab. Pelajaran penting bagimu tentang bagaimana kau memandang dirimu sendiri sekaligus arti kehadiranmu disini. Mulai timbul proyeksi jangka panjang yang belum terpikirkan olehmu sebelumnya. Rasanya, proses pendewasaan ini harus benar-benar kau jalani, tentang betapa besarnya tanggungjawabmu sebagai seorang lelaki.
Meski aku tahu, lelakiku, kau belum menjanjikan apa-apa sebagaimana kau juga belum meminta apa-apa dari orangtuaku. Karena kau belum selesai dengan dirimu sendiri dan perempuan itu, maka sepatutnyalah aku diam. Semoga kau paham.
Mungkin, menurutmu hingga nanti Tuhan menunjukkan jalan.
Ambon, 16 Juli 2016

No comments:
Post a Comment