Saturday, 18 July 2015

Layangan Putus

Aku tidak pernah setia selain kepada dua hal, kamu dan hujan. Aku masih merasa baru saja kamu mencium keningku, sejam yang lalu sebelum matahari terbenam. Aku semakin mencintaimu setelah kepergianku. Aku tidak bisa lupa bagaimana kamu menemaniku setiap malam.

Dan kamu kemudian datang, menjadi kendali yang erat ketika aku mengarungi hidup. Kamu pernah berkata ingin membahagiakanku. Aku tahu kamu berbohong, tapi aku suka kamu bohongi.

Aku bersedih hari ini. Sore tadi ada seorang anak yang berlari mengganggu waktuku menunggumu. Ia mengejar layangan. Kamu ingat? Dulu kamu pernah mengejarku yang seperti layangan putus.

Aku yang tidak tahu lagi ke mana harus bersandar di tengah kepergianku dari orang tuaku. Merekayasa diri menjadi yatim piatu.

Namun lagi, aku menjadi layangan putus. Dan aku enggan menjadi milik siapa pun saat ini. Aku akan sabar menanti mati. Doaku di tengah hujan ini untukmu, semoga kita lekas bertemu. Aku bahagia, kau menginjinkanku mencintaimu...

Tertanda...
Perempuanmu

No comments:

Post a Comment