Hai hujan...
Setelah hampir 2 minggu aku di temani sang mentari, akhirnya kamu datang juga menyentuh pipiku.
Sudah 3 hari kamu hadir, menemaniku di saat aku terkatung-katung karena membutuhkan pelukanmu. Sentuhan kecilmu pada kulitku menemani perjalananku beberapa terakhir ini.
Kamu terus turun dan menyadarkanku akan 1 hal. Yang paling menyakitkan adalah ketika aku harus pergi meninggalkan jejak sepatu penuh becek di teras rumahku.
Orangtuaku akan marah besar karena becek yang aku tinggalkan. Namun, apa daya hari sudah hujan dan aku membutuhkan hujan untukku sendiri.
Memeluknya dalam diam. Menangisinya di balik tetesan hujan.
Kenyamanan dan rasa aman sudah terganti dengan kehampaan.
Kepuasan sudah tersampaikan.
Ah, aku hanya membutuhkan hujan.
Hanya hujan yang mengerti arti ketulusan dari setiap tetesan.
Ambon, 16 Juli 2015
Sudah 3 hari kamu hadir, menemaniku di saat aku terkatung-katung karena membutuhkan pelukanmu. Sentuhan kecilmu pada kulitku menemani perjalananku beberapa terakhir ini.
Kamu terus turun dan menyadarkanku akan 1 hal. Yang paling menyakitkan adalah ketika aku harus pergi meninggalkan jejak sepatu penuh becek di teras rumahku.
Orangtuaku akan marah besar karena becek yang aku tinggalkan. Namun, apa daya hari sudah hujan dan aku membutuhkan hujan untukku sendiri.
Memeluknya dalam diam. Menangisinya di balik tetesan hujan.
Kenyamanan dan rasa aman sudah terganti dengan kehampaan.
Kepuasan sudah tersampaikan.
Ah, aku hanya membutuhkan hujan.
Hanya hujan yang mengerti arti ketulusan dari setiap tetesan.
Ambon, 16 Juli 2015
No comments:
Post a Comment