Thursday, 9 July 2015

unexpected




Manusia pada hakekatnya tak pernah bisa menerka kapan hujan akan singgah di bumi, kecuali kita melihat sebongkah awan hitam bergerak mendekati tempat kita berpijak. Tak jauh berbeda dengan jatuh cinta, hanya saja jatuh cinta tak bisa di terka kapan dan ditentukan kepada siapa cinta itu akan singgah. Lebih tepatnya, tak dapat di prediksi kapan cinta akan mengunjungi hati.

Tetapi sekarang, saya sudah mengambil keputusan untuk tidak kembali terlibat dengan dinamika jatuh cinta. Saya sudah diterpa lelah dan jenuh. Dan semakin kesininya, saya lebih beranggapan bahwa saya tidak membutuhkan sosok seorang adam untuk membuat saya merasa di cintai ataupun merasa istimewa. Pada dasarnya saya di cintai oleh keluarga, orang-orang terdekat, maupun sahabat-sahabat saya. Begitupun saya merasa istimewa dengan diri saya sejauh ini. Kesendirian saya hari-hari terakhir, mengijinkan saya untuk terus berkarya dengan kehidupan muda saya.

Saat ini, saya sudah menyelesaikan apa yang memang pada umumnya di inginkan oleh anak muda. Saya sudah pernah merasakan bahagianya di cintai oleh lelaki, tersakiti, dan sekawanan menye-menye pendukung memori jatuh cinta itu. Pada akhirnya, saya mengambil keputusan untuk berhenti mencari sesuatu yang bukan menjadi prioritas di dalam hidup saya. Itu bukan pencapaian paling utama dalam hidup saya. Karena dongeng saya sudah berakhir sejak detik itu. Dan menurut saya, itulah dongeng modern jaman sekarang tak akan pernah mengenal... happy ending.

Saya belajar untuk tidak menggantungkan hidup saya pada siapapun. Saya mencintai diri saya sendiri dengan tidak berharap di cintai oleh orang lain. Pertanyaannya adalah, bagaimana orang lain dapat mencintai saya, jikalau saya tidak terlebih dahulu mencintai diri saya sendiri? Saya rasa, jawabannya cukup jelas terngiang di telinga saat saya menyebutkan pertanyaan itu. Karena yang tak dapat di prediksi-lah yang mengubah hidup kita selamanya.


Ambon, 9 Juli 2015

No comments:

Post a Comment