Beberapa minggu terakhir berbagai komunitas dan kelompok kreatif anak muda Maluku memulai perjalanannya, naik turun gunung untuk mengunjungi Desa terpencil "Ema". Saya sendiri sudah ke Negeri Ema pada tahun 2012 dalam rangka pelantikan Raja (sebutan untuk kepala desa) Negeri Ema. Pada waktu itu akses transportasi masih sulit dan harus berjalan kaki selama kurang lebih 2 jam menuju Desa Ema tersebut. Cukup melelahkan, tetapi sepadan dengan rasa puas ketika saya tiba di Negeri Ema. Pepohonan yang masih asri, penduduk yang sangat tradisional, mengingatkan akan masa-masa sayaketika masih kecil.
Kali ini saya merasa terpanggil untuk ikut serta dalam Kampanye penyediaan akses jalan yang layak dan memadai dari dan menuju Desa Ema, fasilitas pendukung seperti kesehatan, pendidikan yang layak dan mengembalikan hak-hak masyarakat lokal yang masih dapat dikatakan terbelakang dan belum makmur. Sayabersama teman-teman dari berbagai kalangan komunitas ikut serta dalam men-support kampanye #EmaBergerak. Dan sebelum saya menguraikan masalah-masalah yang terjadi di desa kecil ini, mari saya ajak berkenalan singkat dengan Negeri Ema dan apa saja Seni, Budaya, maupun Sejarah yang dapat kita temukan sampai sekarang di Negeri Ema.
Negeri Ema Huaressy adalah sebuah Desa kecil yang terletak pada Jazirah Leitimur Selatan Kota Ambon, Provinsi Maluku. Disinilah tempat kelahiran Pahlawan Nasional Dr. Johannes. Leimena, pencetus pusat kesehatan masyarakat atau yang kita sebut PUSKESMAS. Selain itu, Negeri Ema juga memiliki warisan pra-sejarah (arkeolog) yang masih dapat kita lihat, seperti Kendi Emas, Air Majapahit, Gamelan, Tombak Pusaka, dan seperangkat Alat Makan Sirih dan Pinang. Negeri Ema juga terkenal dengan sumber alamnya yang melimpah. Apabila musim buah banyak kunjungan dari masyarakat luar selain masyarakat asal, karena hasil pertanian yang melimpah mengundang banyak pengunjung dan belum juga membantu kemakmuran masyarakat Negeri Ema.
Hanya saja sangat disayangkan akses jalan ke Negeri Ema masih sangat sulit sampai sekarang dan membutuhkan waktu kurang lebih 2 jam ditempuh dengan berjalan kaki. Kalaupun menggunakan kendaraan bermotor, pengemudi motor harus betul-betul menguasai medan dikarenakan jalan yang masih belum memadai untuk dilewati kendaraan seperti motor atau mobil. Karena itu, masyarakat yang berada di Negeri Ema cukup sulit untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mereka hidup bagaikan di jaman purba.
Lain hal-nya dengan fasilitas kesehatan. Sangat menyedihkan mengetahui pelayanan kesehatan di Negeri Ema sangat minim. Padahal Om Jo (sapaan Dr. Johannes Leimena) yang merupakan pencetus PUSKESMAS, desa kelahirannya malah sulit sekali mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai. Tak heran bayi dari seorang ibu meninggal karena bidan yang bertugas di puskesmas setempat juga tidak begitu mahir di bidangnya. Negeri Ema seperti di anak tirikan di tanah sendiri, pemerintah tidak pernah memperhatikan hal tersebut.
Kemudian fasilitas pendidikan di Negeri Ema pun tak luput dari kurangnya perhatian pemerintah. Kurangnya tim pengajar di Negeri Ema membuat sekolah kadang terbengkalai, karena kebanyakan para pengajar berasal dari luar Negeri Ema, yang kebetulan sulit mencapai Sekolah setiap harinya dengan akses jalan yang masih belum memadai. Lalu, bagaimana nasib masa depan anak-anak penerus Dr. J. Leimena, Pahlawan Nasional kita?
Karena itu, bagi semua pihak harus disadarkan bahwa Negeri Ema merupakan sebuah daya tarik yang bila ditangani dengan baik akan membawa kesejahteraan bagi masyarakat setempat,
Ø Sumber daya arkeologi tetap dikembangkan untuk mengekstinsifikasikan sumber pendapatan daerah melalui sektor parawisata.
Ø Bagi pemerintah daerah agar lebih memperhatikan akses jalan menuju Negeri Ema.
Ø Apabila pengelolaan sumber daya arkeologi dapat dilaksanakan secara konsekuen dengan mengacu kepada semua Peraturan Pemerintah dan Undang-Undang Benda Cagar Budaya pastilah kelestarian dan kesinambungan dari sumber daya arkeologi tersebut akan terjamin sepenuhnya.
Ø Pemerintah Daerah sebagai pemilik kebudayaan segera tanggap terhadap berbagai programnnya, agar jangan samapai program-program tersebut berakibat negative terhadap warisan arkeologi yang ada (pembuatan bendungan, jalan, pembukaan lahan baru, pembangunan dan lain-lain), agar dapat mempertimbangkan potensi lingkungan budaya yang ada, sehingga tidak ada pengrusakan terhadap peninggalan-peninggalan tersebut.
Ø Harapan bagi seluruh masyarakat khususnya di Negeri Ema bahwa seluruh peninggalan arkeologi yang ada perlu mendapat perhatian khusus untuk tetap dilestarikan, dikembangkan, dan dikelola untuk kepentingan bersama.
Mari sejenak kita renungkan apa yang dapat kita lakukan untuk menyuarakan tangisan dari Negeri Ema Huaressy.
Untuk mensupport Kampanye #EmaBergerak. Marilah kita ikut serta hadir dalam Malam Solidaritas & Pagelaran Seni Budaya, "SUARA EMA, SUARA INDONESIA". Jumat, 29 mei 2015, mulai pukul 19.00 wit, bertempat di Pelataran Balai Negri Ema Huaressy Rehung...
Jang lupa datang!
Kalau bukan katong ana ana Ambon yang bergerak, lalu sapa lai?


No comments:
Post a Comment