Here I am, masih dengan pribadi yang sama. Saya Nielma Fransisca,
sekali lagi terlibat dalam Cinta yang tidak diperbolehkan. Apa sih yang tidak
diperbolehkan? Entahlah, menurut pikiran saya ini salah, tapi tidak dengan
hati. Arrgghh sekali lagi, berbicara tentang HATI akan selalu menyebabkan
kerusakan yang fatal. Saya hanya manusia biasa, bukan super hero yang mempunyai
kekuatan super ataupun robot yang tidak mempunyai hati untuk bisa merasakan
sesuatu. Tetapi pada kenyataannya manusia memang mesum. Mereka menginginkan apa
yang tak bisa mereka dapatkan. Saya juga tidak lebih baik. Contohnya, betapa
saya menginginkan dia---masih---karena saya tahu pada akhirnya ia tidak dapat
menjadi milik saya.
Hah! Dia… Mari bercerita tentang dia…
Sebut saja dia 'Baymax'. Terinspirasi dari film animasi Big Hero 6. Alasan di balik pemberian nama ini, karena dia yang akan saya ceritakan disini berperan seperti halnya Baymax, He's like my personal healthcare companion. Mungkin terdengar lucu, tetapi ini benar adanya. Didalam pikiran saya, saya merasa dia selalu menjaga saya, memperhatikan saya, selalu bertanya apakah saya baik-baik saja? Selalu mengurusi saya dalam hal sekecil apapun. Saya terlalu yakin dia tidak akan pernah pergi dari kehidupan saya, jikalau saya sudah puas dengan kenyamanan yang dia berikan. Seperti halnya Baymax, dia tidak akan bisa di non-aktifkan jika kita belum menjawab pertanyaannya, "Are you satisfied with your care?" dan saya harus menjawab, "I am satisfied with my care". Sayangnya, dia adalah makhluk hidup bernama manusia dan Baymax hanya sebuah robot.
Saya mengenal Baymax sekitar setahun yang lalu, tetapi dia sudah
memperhatikan saya jauh hari sebelum saya menyadari kehadirannya. Saya mungkin
tidak mengingatnya, beruntung karena dialah yang begitu bangga menuturkan awal
pertama dia mulai memperhatikan saya. Sayangnya, saya belum melihat dia seperti
dia telah melihat saya, pada waktu itu. Dan kali ini, takdirlah yang
menghantarkan kami untuk bertemu lagi. Dalam situasi yang lain. Dalam cerita
yang berbeda. Dengan hati dan perasaan yang bebas pula. Bisa di katakan saya
sedang terbang bebas, tetapi tidak dengannya.
Ambon Color Festival, menjadi awal cerita yang berbeda.
Berpapasan, saling menyapa tapi tak berasa. Seperti itulah keadaannya. Hanya
kali ini, rasa penasaran saya tak bisa dipungkiri. Intensitas pertemuan kami
terlalu sering, terlalu rapat, terlalu intim, terlalu cepat. Dia menggenggam tangan
saya pertama kalinya. Rasa itu mulai tumbuh. Sebuah pertemanan yang sejujurnya
di anggap tidak wajar oleh banyak orang karena perasaan yang terlibat di
dalamnya. Kenapa harus ada permainan rasa yang terlibat di antara kami? Tidak!
Ini terlalu cepat. Terlepas dari rasa syok yang sempat melanda saya, saya mulai
menata hati. Ada sedikit rasa perih tergores di sana. Saya menepis rasa ini.
Membangun tembok agar kedekatan ini tidak menghancurkan penghalang yang saya ciptakan
agar menjadi pelindung.
Pria ini memiliki pusaran angin yang mampu menyedot saya ke
dalam arusnya yang deras. Dan, entah sudah berapa kali saya melihat senyum itu,
tetap saja selalu membuat saya susah untuk bernafas dengan normal karenanya.
Senyum dan pandangannya mampu membuat dunia saya menjadi gelap seketika, hanya
dia yang bersinar di mata saya. Di satu sisi yang lain, saya tidak ingin
keinginan saya yang begitu besar untuk memilikinya saat ini mengganggu pikiran
saya bagai racun yang menjalar di seluruh pembuluh darah dan mulai menghancurkan
tubuh saya.
Saya berusaha mengabaikan berbagai perasaan yang muncul di
hati. Bayangan senyumnya selalu hadir dalam setiap kesempatan, pandangan
matanya selalu menghantui, membuat saya ingin berlari menjauh agar tidak
terlalu jatuh terjerat di dalamnya. Ke dalam pesona senyumnya yang mampu
membuat kedua lutut saya menjadi lemas seketika, senyumnya yang mampu membuat
jantung saya berhenti berdetak sejenak, senyumnya yang mampu membuat saya
terisap ke dunia antah berantah. Jika saya boleh meminta, saya ingin
membekukannya dalam keadaan tersenyum sehingga saya dapat selalu melihatnya
tersenyum. Selamanya.
Saat Baymax mencium pipi saya, seperti ada aliran listrik
menjalar ke seluruh tubuh. Mencium pipi saya lagi kedua kalinya, menghancurkan
tembok pemisah antara logika dan perasaan. Pada akhirnya perasaan dan logika
berbaur menjadi kesatuan yang meleburkan pertahanan. Saya telah memulai rasa
sakit ini dengan membiarkannya masuk terlalu jauh, menghancurkan tembok
pertahanan yang saya ciptakan untuk melindungi diri saya sendiri. Betapa
bodohnya saya. Hanya saja rasa ini terlalu indah untuk ditepis.
Kuasamu atas hati ini merambah belantara rindu yang tak putus-putus
menciumi titik pengakhirannya.
Merunduk malu dalam hasrat yang bergegas tulus untuk mencintaimu
selamanya.
Tak lelah menapak dalam jejak yang tertatih-tatih menuju rumah hatimu.
Hanya padamu, ku cari segala muara bahagia yang ku cercap di bibir yang
tak lagi punya kata untuk memuji dan berjanji.
Aku cinta, ternyata!
Berada di sampingnya, membuat saya merasa aman. Ketika
tangannya menyentuh se-inci dari kulit saya, ada rasa nyaman di sana. Dan saat
bibir basahnya mengecup bibir saya, di situ ada cinta. Ini salah. Saya tahu ini
salah. Tetapi saya tak ingin berpikir terlalu keras. Yang saya tahu, dia yang
membuat saya bahagia, akan saya pertahankan. Sesimple itu. Ini bukan berbicara
tentang siapa yang kenal paling lama, atau siapa yang datang pertama, atau
siapa yang paling perhatian. Tapi tentang siapa yang datang dan tidak pergi.
Dengan perlahan, saya menengadahkan wajah mencoba untuk
menatap wajahnya dari jarak yang sangat dekat. Saya melihat bola matanya yang
begitu hitam, begitu tajam menatap mata saya, membuat saya susah untuk menelan
ludah. Tangannya secara perlahan turun dari atas kepala menyentuh pipi saya
dengan lembut. Terasa dingin di pipi, tapi tidak dengan bibir saya. Bibir ini
hangat oleh sentuhan lembut bibirnya. Bibirnya terasa begitu manis di lidah,
membuat saya ingin mengecapnya lagi, lagi, dan lagi.
“I love you.” Saya mendengar
kalimat itu meluncur pelan dari bibirnya saat dia mencium pelan dahi saya. Saya
terpaku ketika dia mengucapkan kalimat itu. Saya tidak berani berkutik,
berusaha untuk menahan napas, menutup kedua mata, bergerak sesedikit mungkin.
Saya ingin tetap berada di situasi ini, karena semua ini terasa begitu indah
bagi saya. Terasa bagai mimpi. Saya tidak ingin bergerak. Jika saya bergerak
sedikit saja, saya akan terbangun dari semua mimpi indah ini dan mendapati
bahwa semua khayalan saya. Saya tidak ingin, jika saya bergerak, dia akan sadar
bahwa mungkin saja kalimat barusan yang dia ucapkan bukanlah untuk saya.
Saya tetap menutup mata saat dia menangkupkan kedua
tangannya di wajah saya dan menahannya agar dapat memandang wajah saya dengan
jelas. Dia memanggil nama saya pelan. Saya terpaksa membuka kedua mata untuk
kemudian bersitatap dengan matanya. Mata yang begitu tajam memandang saya, mata
yang mampu mengisap kesadaran saya, mata yang mampu membius saya, mata yang
selalu hadir di mimpi saya.
Baymax mencium saya sekali lagi. Kali ini lebih dalam, semakin
menuntut, semakin cepat. Seluruh urat nadi saya bergetar halus seiring
meningkatnya intensitas sentuhan bibirnya di bibir saya. Saya merasakan seluruh
saraf saya tak berfungsi, tubuh menjadi tak bertulang, pikiran saya gelap.
Tidak ada yang mampu saya pikirkan lagi kini. Saya tidak pernah menyangka bahwa
sebuah ciuman darinya bisa membawa akibat yang begitu hebat terhadap tubuh
seseorang. Saya lumpuh.
Pikiran saya melayang entah kemana, seolah saya tidak berada
di bumi ini. Seolah melayang di langit yang tinggi saat bibirnya mengecup
dengan pelan setiap inci kulit saya, meninggalkan rasa panas membara dari
setiap jengkal tubuh saya yang telah di sentuhnya. Semua terasa memabukkan,
terasa begitu manis bagi saya. Saya tidak ingin sadar, saya ingin terus berada
dalam keadaan ini. Saya meraihnya, memeluknya dengan kedua tangan saya,
menyentuh hangat kulit punggungnya, mencium aroma tubuhnya.
Dia mencintai saya. Itulah yang selalu dia tekankan kepada
saya. Saya terpaku. Saya mengangguk pelan, tidak dapat menjabarkan bagaimana
perasaan saya. Seperti mengadakan perjanjian dengan setan. Saya merasakan
ketakutan yang aneh. Antara takut dan senang. Apa yang saya rasakan merupakan
hal yang diluar kehendak. Mengapa rasa bahagia dan sedih bisa terjadi dalam
waktu yang bersamaan? Apa yang telah dia ucapkan sungguh mengejutkan. Ada rasa
bahagia yang tak terkira yang menyelimuti, mampu membuat saya terbang melayang
tanpa sayap ke arah bintang-bintang saat itu. Menyelimuti saya dengan balon
kebahagiaan yang tak berlubang. Bagi saya, ini adalah sebuah rasa yang begitu
indah, bahwa perasaan saya kepadanya berbalas. Namun, di satu sisi, ada goresan
perih yang mengiris hati secara perlahan-lahan dan terus menerus tak kunjung usai
hingga saat ini.
Dia selalu ingin tahu bagaimana perasaan saya? Perasaan saya
adalah, saya ingin memendam dan mengubur semua perasaan saya kepadanya. Saya
tidak peduli dengan perasaan saya sendiri terhadapnya, asalkan saya bisa
melihat keberadaannya di dekat saya dan dia masih tetap tersenyum kepada saya.
Hanya itu saja yang berani saya inginkan untuk diri saya sendiri saat ini.
Namun, ketika saya mengatakan semua itu, saya menyakiti hati kami berdua.
Entahlah, saya tidak tahu karena saya pun tidak yakin terhadap diri saya
sendiri, bahwa saya mampu bertahan dalam kondisi ini. Mungkin ini adalah
hukuman yang harus saya jalani karena berani mencintai seseorang yang tidak
boleh di cintai.
Jika saya tahu sesuatu akan berakhir buruk, sanggupkah saya
menghentikan semua ini saat masih terasa indah?
Lalu kami terduduk di suatu waktu. Menghabiskan sehari
bersamanya. Tanpa orang lain, hanya kami berdua. Berbicara tentang banyak hal.
Terlalu banyak, terlalu menyakitkan untuk di pikirkan. Dan pada satu titik,
pandangan saya mulai kabur. Bukan karena mata saya yang sedang tidak sehat,
melainkan karena air mata yang sejak tadi mendesak ingin keluar, akhirnya
berhasil meloloskan diri. Dia memeluk saya erat. Mendekap dengan hangat,
menenangkan. Melalui sentuhannya, saya tahu dia merasa berkewajiban untuk tidak
bergerak dari posisi pelukannya, sampai gelombang naik turun tangisan saya
berhenti. Saya terus menggelungkan diri lembut ke pelukannya, saya sedih. Saya
perempuan yang dia cintai, hati saya hancur di hadapannya. Dan, tak ada yang
dapat dia lakukan selain mendekap saya lebih erat ke dalam pelukannya.
Jika kini saya menangis, saya tidak yakin atas apa yang saya
rasakan. Mengapa Tuhan mempertemukan kami di dalam situasi seperti ini? Ada
alasan apakah di balik semua ini? Apakah memang sejak awal sebenarnya kami
berdua tidak boleh bersama? Tetapi, kami melanggar semua batasan! Dan kini,
siapa yang patut dipersalahkan?
Air mata saya semakin deras mengalir. Apa yang bisa saya
lakukan? Apa yang seharusnya saya lakukan? Seharusnya, dari awal, saya sudah
mematikan semua perasaan saya kepadanya. Tidak terhanyut dengan semua rasa ini.
Namun, apakah saya mampu menolak datangnya rasa cinta yang sewaktu-waktu hadir
ditengah-tengah kami? Cinta tak pernah memilih kepada siapa dia akan datang.
Cinta tak pernah mengenal waktu kapan sebaiknya dia datang.
Baymax memeluk saya berkisar satu jam atau lebih lamanya, dalam
diam. Sambil akhirnya, memutuskan mengatakan sesuatu. Seperti, “Tak perlu
khawatir, I love you. Disini saya adalah milikmu. Saya tak akan kemana-kemana.
Saya hanya ingin membuatmu bahagia.” Dia berjanji sambil terus membungkam saya
dalam pelukannya. Tangisan pun mereda sedikit demi sedikit. Saya mengangkat
wajah dari dadanya yang hangat membungkus saya dengan perasaan aman dan nyaman.
Saya menatapnya dan dia mendaratkan bibirnya yang basah ke bibir saya. Dengan
cepat lalu memeluk saya erat seperti tak ingin saya pergi. Sentuhan tangannya
melindungi saya dari mimpi buruk yang saya rasakan kini. Saya menutup mata,
hanya ingin menikmati kebersamaan ini. Hanya ingin seperti ini untuk beberapa
saat. Kalau bisa, saya berharap waktu berhenti sejenak.
*Mentari, aku merindukanmu.
Tak ada waktukah bagimu untuk menemuiku di malam hari?
Aku ingin memelukmu dengan penuh dendam
Karena rasa rindu yang membelengguku ini.
Aku ingin memenjarakanmu di penjaraku
Karena rasa benci yang bersisihan dengan rasa cinta ini.
Mentari, ijinkan aku melihatmu sedikit saja
Walau bumi menghalangi pandanganku ini.*
*Mentari itu adalah sang
pujaan hati. Bumi adalah pendamping mentari saat ini. Posisi subjek adalah
bulan. Jadi, bulan sangat merindukan mentari yang tidak akan pernah bisa
bertemu berdua tanpa kehadiran bumi di tengah-tengah mereka.
Saya tidak bisa mengendalikan perasaan saya untuk jatuh
cinta kepada siapa. Memang cinta tidak pernah salah. Kita tidak pernah bisa
memilih kepada siapa kita hendak jatuh cinta atau kapan kita hendak jatuh cinta.
Cinta terjadi begitu saja. Saya tidak pernah bisa menolak kepada siapa saya
jatuh cinta. Bukan kepada wajah, tubuh, dan apa yang dia miliki, tetapi kepada
hatinyalah saya jatuh cinta. Dan, semua itu tidak dapat saya hindari, tidak
dapat saya ingkari.
Urusan ini sebenarnya amat sederhana. Jika seseorang mencintai
karena fisik, maka suatu hari ia juga akan pergi karena fisik. Seseorang yang
mencintai karena materi, maka suatu hari ia juga akan pergi karena materi. Tetapi
seseorang yang mencintai karena hati, maka ia tidak akan pernah pergi! Karena
hati tidak pernah mengajarkan tentang ukuran relatif lebih baik atau lebih
buruk.
Yang selalu saya tanamkan di dalam hati dan kepala, bahwa daun
jatuh pun sudah di atur Tuhan. Apalagi keinginan yang dimiliki, kenyataan yang
dihadapi, perjumpaan dengan orang-orang tertentu, perasaan yang begitu tidak
menentu. Semangat yang turun naik. Tuhan selalu punya maksud di balik itu
semua, bukan? No, Coincidence happens in
this world. Everything happens for a reason. Tuhan mempertemukan untuk satu
alasan. Entah untuk belajar atau mengajarkan. Entah hanya akan menjadi bagian
terpenting atau hanya sekedarnya. Akan tetapi, yang saya tahu saya ingin
menjadi yang terbaik di waktu sekarang ini bersamanya. Saya melakukannya dengan
tulus meski tidak menjadi seperti apa yang di inginkan. Tidak ada yang sia-sia
saya rasa. Karena Tuhan yang mempertemukan.
Saya harus mampu melalui semua ini dengan wajar, jalani
semua ini sebaik-baiknya. Jika hati saya sekarang sakit, saya ingin merasakan
sebaik-baiknya, tapi saya tak ingin sampai larut dalam kesedihan begitu lama
sehingga mengganggu semua aktifitas saya sehari-hari. Merasakan rasa sakit itu
sebagai cemeti diri sehingga menjadi pelajaran dan pengalaman bagi masa depan
saya, agar kelak saya bisa belajar dari semua ini dalam melangkah. Lalu, saya
harus melepaskan semuanya, relakan semua ini, dan kembali menjalani hari-hari
dengan lebih baik. Saya ingin membuat diri saya berharga bagi semua orang, saya
ingin membuat diri saya menjadi sinar yang mengundang banyak orang untuk ingin
melindungi saya tanpa menyakiti perasaan saya, lagi…
Quote of today: "I get irritated very easily and sometimes I don't even know why I am irritated."

No comments:
Post a Comment